MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

6 Mei 2010

Tiga Award Dari Maulana Firmansyah




Memang asyik ya jika teman yang ulang tahun, tetapi kita yang kebagian kado Award…he he he. Ya sahabat blogger ku yang bernama Maulana Firmansyah alias Aan yang meng-create weblog Coretanku dan A Question 2 Mei 2010 kemarin ulang tahun. Begitu juga dengan blog-nya genap satu tahun berkibar. Di hari bahagianya, beliau juga berbagi kebahagiaan dengan menganugerahkan tiga award kepada Sharing is Fun, my lovely blog (sengaja menggunakan kata ‘menganugerahkan’, supaya dramatis aja… wkkk…!)


Tiga award tersebut adalah:

"Blog Walking Award"
"The Best Coment Award "
“The Best Follower Award”

Terimakasih sobat, bagiku Award-award ini sebagai symbol support darimu untuk terus eksis di dunia maya. Saling berbagi segala sesuatu yang bermanfaat untuk perbaikan diri siapa saja yang mengunjungi rumah maya kita umumnya, dan rumah mayaku khususnya (halaaahhh jadi lebay deh bahasanya..)

Khusus buat Maulana Firmansyah alias Aan, usia adalah anugerah. Ada 4 metode dalam menghitung usia. Metode penjumlahan (cara anak TK), metode pengurangan (metode yang sedikit lebih dewasa), metode perkalian (metode yang cerdas), dan metode pembagian (metode yang bijaksana). Silahkan pilih mau menggunakan metode yang mana.

Oya, sebagai sahabat yang cukup pengertian (harap maklum, narcis lagi kumat…hue he he he), semoga segera menemukan jawaban yang bijak jika your mom mengajukan pertanyaan sepihak…. “kapan n***h..?” Ha ha ha ha..!

Okelah kalo begeto… akhirul kalam… Big syukron friend for everything…and God Bless You….!!
Selengkapnya...

29 April 2010

Quantum Learning (Part Four)


Dahsyatnya AMBAK

Dalam hidup ini kita tentu memiliki berbagai keinginan. Segala sesuatu yang ingin kita lakukan tentunya harus menjanjikan manfaat bagi kita. Jika tidak, maka kita tidak akan termotivasi untuk melakukannya. Motivasi ini dalam Quantum Learning disebut AMBAK (Apa Manfaatnya BAgi Ku). Kadang-kadang AMBAK sangat jelas dalam benak kita, dan kadang-kadang kita harus mencarinya, atau bahkan menciptakannya.

Dalam banyak situasi, menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat dalam apa yang sedang kita pelajari dengan menghubungkannya dengan “dunia nyata”. Kita akan bertanya pada diri kita sendiri…”Bagaimana aku dapat memanfaatkannya dalam kehidupanku sehari-hari?”

Menciptakan minat, mudah untuk beberapa subjek dan lebih sulit untuk subjek-subjek yang lainnya. Namun, kita selalu dapat menemukan sesuatu yang menarik. Peluangnya adalah bahwa kita sudah termotivasi mempelajari suatu informasi untuk beberapa alas an. Mungkin itu akan meningkatkan karier, atau membantu agar lebih mudah berkomunikasi, atau mungkin merupakan batu loncatan menuju pendidikan yang lebih tinggi.

Menciptakan minat juga memiliki keuntungan intrinsiknya. Ketika kita menciptakan minat dalam suatu subjek, kerap kita mendapati bahwa hal itu membawa kita kepada minat baru di bidang lainnya. Mengembangkan bidang-bidang baru ini menimbulkan kepuasan tersendiri, dan juga minat baru lainnya-reaksi berantai yang berjalan terus menerus. Misalnya saja ketika kita belajar Oseanografi, mungkin akan membuat kita tertarik pada akuarium air laut, yang selanjutnya membuat kita tertarik pada scuba diving, yang selanjutnya membuat kita tertarik pada fotografi dasar laut, terus menerus sehingga dunia bawah laut menjadi sumber eksplorasi dan kepuasan yang tak ada akhirnya. Segera, tantangan terbesar kita adalah menemukan waktu untuk mencapai semuanya.

Karena itu, dipermukaan belajar aktif mungkin kedengarannya melelahkan, tetapi sebenarnya itu memberi kekuatan. Berikut adalah perbandingan antara Belajar Aktif dan Belajar Pasif:

BELAJAR AKTIF:

1. Belajar apa saja dari setiap situasi
2. Menggunakan apa yang kita pelajari untuk keuntungan kita
3. Mengupayakan agar segalanya terlaksana
4. Bersandar pada kehidupan

BELAJAR PASIF:

1. Tidak dapat melihat adanya potensi belajar
2. Mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar
3. Membiarkan segalanya terjadi
4. Menarik diri dari kehidupan

Jika kita bertanggung jawab atas hidup kita, kita akan mulai membuat segalanya terjadi dan bukan sekedar membiarkannya. Tempatkan diri kita dalam posisi “Pencari” dan mulailah pencarian Ilmu. Semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin banyak pilihan yang kita miliki ketika menghadapi situasi yang menantang. Semakin banyak pilihan kita, semakin besar kekuatan pribadi yang kita miliki. Maka temukanlah atau ciptakanlah….AMBAK…itu… Apa Manfaatnya BAgi Ku…!!

Bersambung.

Referensi:

Bobbi DePorter & Mike Hernacki, Quantum Learning, Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. XXVII, 2009.

Selengkapnya...

26 April 2010

Quantum Learning (Part Three)


Cara Berpikir Otak Kanan dan Otak Kiri.

Batang Otak Reptilia, Sistem Limbik atau Otak Mamalia, dan Neokorteks atau Otak Berpikir, ketiga bagian otak ini dibagi menjadi dua belahan. Kedua belahan ini lebih dikenal dengan sebutan Otak Kanan dan Otak Kiri. Masing-masing belahan bertanggung jawab terhadap cara berpikir, dan memiliki spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa persilangan dan interaksi antara kedua sisi.

Proses berpikir otak kiri adalah Logis, Sekuensial, Linier dan Rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme.

Sedangkan proses berpikir otak kanan adalah Acak, Tidak teratur, Intuitif dan Holistic. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non verbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau organ), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.

Mulanya ilmu pengetahuan melalakukan dikotomi terhadap dua belahan otak ini. Akan tetapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sudah beranjak dari dikotomi otak kanan/kiri ke pandangan yang lebih luas tentang lima sistem pembelajaran. Kelima sistem itu ialah emosional, sosial, kognitif, fisik dan reflektif. Tidak ada sistem pembelajaran yang berdiri sendiri. Tindakan setiap sistem mempengaruhi sistem lain sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar, ibarat riak-riak dari sejumput batu yang dilemparkan ke kolam. Ketika setiap batu membentuk riaknya sendiri yang bertabrakan dan mengganggu riak yang lain, kombinasi hasilnya menciptakan gelombang yang secara keseluruhan memiliki pola baru.

Maka dapat dinyatakan bahwa kedua belahan otak ini sama pentingnya. Seseorang yang dapat memanfaatkan kedua belahan otak kiri dan kanannya dengan baik maka ia akan mendapatkan keseimbangan dan tidak mudah stress. Untuk menyeimbangkan otak kiri, perlu dimasukkan musik dan estetika dalam pengalaman belajar, music dan estetika adalah ‘konsumsi’ otak kanan. Hal ini memberikan umpan balik positif bagi diri sendiri. Semua itu menimbulkan emosi positif, yang membuat otak kita lebih efektif. Maka emosi positif meningkatkan kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri.

Bersambung

Referensi:

1. Barbara K. Given, Brain-Based Teaching, Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. I, 2007

2. Bobbi DePorter & Mike Hernacki, Quantum Learning, Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. XXVII, 2009.
Selengkapnya...

24 April 2010

Quantum Learning (Part Two)



Teori Otak Triune ( 3 in 1 )

Otak manusia adalah massa protoplasma yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta ini. Inilah satu-satunya organ yang sangat berkembang sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan, otak yang berfungsi dapat tetap aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun.

Otak kita mempunyai tiga bagian dasar, yaitu:

1. Batang atau Otak Reptilia

Perilaku otak reptilia berkaitan dengan insting mempertahankan hidup, dorongan untuk mengembangkan spesies. Perhatiannya adalah pada makanan, tempat tinggal, reproduksi, dan perlindungan wilayah. Ketika kita merasa tidak aman, otak reptile ini spontan bangkit dan bersiaga melarikan diri dari bahaya. Inilah yang disebut reaksi “hadapai atau lari”. Pada masa-masa perkembangan awal manusia, inilah reaksi yang merupakan keharusan. Sayangnya, jika otak reptile ini dominan, kita tidak dapat berpikir pada tingkat yang sangat tinggi.

2. Sistem Limbik atau Otak Mamalia

Terletak di sekeliling otak reptile, sangat luas dan kompleks. Dalam istilah evolusioner, system ini sangat canggih dan merupakan bagian yang juga dimiliki semua mamalia. System limbic terletak dibagian tengah dari otak kita. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif; yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu system ini juga mengendalikan bioritme, seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, detak jantung, gairah seksual, temperature dan kimia tubuh, metabolisme, dan system kekebalan. System limbik merupakan bagian yang penting dalam mempertahankan hidup manusia. (Kenyataan bahwa bagian otak yang mengendalikan emosi, juga mengendalikan semua fungsi tubuh. Ini menjelaskan mengapa emosi dapat secara langsung mempengaruhi kesehatan). System limbik adalah panel control utama yang menggunakan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh dan yang tak begitu sering, indra peraba dan penciuman sebagai input-nya. Kemudian, informasi tersebut didistribusikan ke bagian pemikir di dalam otak, yaitu neokorteks.

3. Neokorteks atau Otak Berpikir.

Neokorteks terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi system limbik, yang membentuk 80% dari seluruh materi otak. Bagian otak ini merupakan tempat bersemayamnya kecerdasan. Inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui pengihatan, pendengaran, dan sensasi tubuh. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku waras, bahasa, kendali motorik sadar, dan ideasi (penciptaan gagasan) nonverbal. Dalam neokorteks semua kecerdasan yang lebih tinggi berada, yang membuat manusia unik sebagai spesies. Mungkin kecerdasan tertinggi dan bentuk terbaik dari pikiran yang kreatif adalah intuisi. Intuisi adalah kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak dapat diterima kelima indra manusia. Kemampuan ini sangat kuat pada anak-anak usia 4 – 7 tahun. Seringkali kemampuan ini ditekan dan dihentikan oleh orang-orang bekuasa yang memandangnya sebagai perilaku irasional. Orang khawatir dengan intuisi karena mereka pikir intuisi bisa menghalangi pemikiran rasional. Sebenarnya, intuisi justru berdasarkan pada pemikiran yang rasional dan tak dapat berfungsi tanpanya.

Semua kecerdasan yang lebih tinggi, termasuk intuisi, ada dalam otak sejak lahir. Dan selama lebih dari tujuh tahun pertama kehidupan, kecerdasan ini dapat disingkapkan jika dirawat dengan baik.

Agar kecerdasan ini terawat secara baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

a. Struktur saraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energy dapat mengalir ketingkat yang lebih tinggi.
b. Anak harus merasa aman secara fisik dan emosional.
c. Harus ada model untuk memberikan rangsangan yang wajar.

Berdasarkan poin ‘c’ jelaslah bahwa dalam perkembangannya seorang anak membutuhkan model atau figur keteladanan. Mungkin hal inilah yang sulit didapat anak dari orang-orang dewasa disekelilingnya saat ini. Semoga kita dapat menjadi model yang baik bagi Laskar Pelangi di sekeliling kita. Amin..!

Bersambung.

Referensi:
Bobbi DePorter & Mike Hernacki, Quantum Learning, Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. XXVII, 2009.

Selengkapnya...

22 April 2010

Quantum Learning (Part One)


Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif untuk semua umur. Metode ini tidak hanya diberlakukan untuk peserta didik, tetapi juga untuk pendidik (guru). Karena seseorang yang telah memutuskan jalan hidupnya untuk menjadi seorang guru, maka ‘diharamkan’ berhenti belajar.

Berbagai tantangan muncul kepermukaan bagaikan metafora untuk mempelajari terobosan-terobosan baru, termasuk pergeseran paradigma yang mengubah pemahaman tentang belajar.

Quantum learning berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “suggestology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif maupun negatif.

Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Dengan NLP kita menggali bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, dan menciptakan ‘pegangan’ dari saat-saat keberhasilan yang meyakinkan.

Anda masih ingat hukum kekekalan energy ala Einstein? Quantum Learning menganut paham ini. Menurut yang meng-create metode ini, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, mereka mendefiniskan Quantum Learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya”. Semua kehidupan adalah energy. Rumus yang terkenal dalam fisika kuantum adalah Massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan Energi.

Tubuh kita secara fisik adalah materi. Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya; interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energy cahaya.

Quantum learning memadukan berbagai konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar, seperti:

1. Teori otak kanan/kiri
2. Teori otak triune ( 3 in 1 )
3. Pilihan modalitas ( Visual, Auditorial, dan Kinestetik)
4. Teori kecerdasan ganda.
5. Pendidikan holistic (menyeluruh)
6. Belajar berdasarkan pengalaman.
7. Belajar dengan symbol (Metaphoric Learning)
8. Simulasi/permainan.

Manfaat Quantum Learning:

1. Sikap positif.
2. Motivasi.
3. Keterampilan belajar seumur hidup
4. Kepercayaan diri.
5. Sukses.

Bersambung.

Referensi:

Bobbi DePorter & Mike Hernacki, Quantum Learning, Penerbit Kaifa PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. XXVII, 2009.
Selengkapnya...