MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

11 April 2010

Menjelajah Pembelajaran Inovatif



Menjelajah Pembelajaran Inovatif merupakan salah satu buku yang tepat untuk dijadikan referensi bagi teman-teman yang sedang menyusun skripsi dengan topik Pembelajaran Kooperatif. Buku ini ditulis oleh Dr. Suyatno, M.Pd. Diterbitkan oleh Masmedia Buana Pustaka pada Oktober 2009 sebagai cetakan pertama.

Dalam buku ini diulas seputar paradigma baru pendidikan yang meliputi :

1. Pembelajaran Inovatif
2. Cara Kreatif Memilih Metode Pembelajaran
3. Aneka Metode Pembelajaran Inovatif
Terdiri dari:
a. Metode Quantum
b. Metode Partisipator
c. Metode Kolaboratif
d. Metode Kooperatif
e. Sadapan Ringkas
f. Aneka Model Pembelajaran Inovatif
4. Contoh RPP

Satu hal yang menarik pada buku ini ialah setiap awal bab diberikan intro sebuah kisah inspiratif, yang membuat kita jadi merenung sebelum menyimak setiap kalimat di buku ini. Misalnya kisah berikut ini yang terdapat pada halaman 38 mengawali Bab III dengan judul Minum Kelapa Muda.

“Nak, minumlah kelapa muda itu”, ajak Mbok Siti sambil menunjuk ke depan tempat dudukku. Rupanya, hari itu Mbok Siti telah menyiapkan kelapa muda untuk suguhan kami.

“Iya, Mbok”, jawabku sambil mengangkat kelapa muda segar yang sudah dibuka porosnya sehingga mudah diseruput.
“Segar kelapa muda ini, Mbok”, komentarku basa-basi.
“Setiap kelapa muda pasti segar karena berada di tengah pertumbuhan menjadi tua”, kata Mbok Siti.

Kesegaran itu dapat diraih setelah kita membuka sabut kelapa dan mengupas batok kayunya. Usaha mengupas itu memerlukan waktu, usaha, dan tenaga yang terjalin dalam sebuah proses. Karena mengupasnya penuh rencana, inti kelapa muda itu dapat diraih.
Begitu pula seorang guru, untuk mendapatkan hasil yang menyegarkan bagi kita, perlu upaya dalam memproses siswanya melalui usaha, waktu, dan tenaga pula.

“Kadang, banyak guru yang tidak ada waktu dalam memproses siswa”, kata Mbok. Hasilnya, siswa tidak menunjukkan perubahan.

Begitu pula, ada guru yang mempunyai waktu tetapi tidak bertenaga, hasilnya sama saja mengecewakan kita. Lalu, ada guru yang punya waktu dan tenaga, tetapi tidak punya usaha, hasilnya juga tidak maksimal.

“Jadi, guru juga harus mempunyai waktu, usaha, dan tenaga dalam berproses”, kata Mbok pelan sambil mengangkat kelapa muda untuk diminumnya.

Sungguh sebuah kisah sederhana, tetapi mengandung wise words yang bermakna dalam temans. Secara pribadi mengakui belum mencapai taraf guru seperti yang dimaksud pada kalimat-kalimat bijak di atas. Tetapi seiring waktu akan tetap berusaha berproses mencapai taraf tersebut. Insya Allah..!
Selengkapnya...

3 April 2010

Dari Seorang Guru tentang Hati Guru



Gayus Tambunan tiba-tiba saja namanya terdengar di seantero nusantara. Pagi siang malam pemberitaan tentang dirinya bagaikan air bah yang jebol dari tanggul. Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Gara-gara ulah Gayus Tambunan rusaklah citra petugas dinas perpajakan negri ini. Sehingga muncul Facebooker boikot bayar pajak, juga muncul Facebooker yang membersihkan nama dinas perpajakan. Ini suatu bukti bahwa dalam hidup ini segala sesuatu memiliki dua sisi. Sisi terang dan sisi gelap. Tinggal bagaimana kita mampu menempatkan diri di sisi mana kita seharusnya berpijak. Melawan arus memang sulit, jika tidak mampu melawannya, minimal…bertahanlah…agar tidak terbawa arus.

Begitu juga dengan profesi guru. Tidak dapat kita pungkiri, melalui media massa sering kita jumpai kinerja guru yang tidak patut di gugu dan ditiru. Bahkan cenderung berprilaku yang aneh-aneh. Tak ubahnya seperti orang stress ataupun sakit jiwa. Tetapi alangkah naifnya jika kita anggap semua guru begitu. Berikut saya share sebuah tulisan jeritan hati nurani seorang guru yang diungkapkannya pada note Facebook-nya. Saya share di sini karena saya tau, masih banyak guru yang seperti beliau. Seperti Ibu Faradina Izdhihary, demikian namanya. Untuk share tulisan ini, saya sudah mendapat izin dari beliau.

Demikian isi note Ibu Faradina Izdhihary…!!

=====================================================================================
SURAT TERBUKA BUAT PRINGADI, PARA MURID, DAN WALI MURID

Dari Seorang Guru tentang Hati Guru

: di notes ISU GAJI PNS NAIK > 100 % Pringadi mengomentari kalau gaji BPK layak besar sebab mereka datang jam 8, pulang jam 5 sore, telat gaji dipotong, sedang guru kalau malas ngajar ngasih tugas muridnya buat ngerangkum.

Mewakili para guru, Pring..... aku menolak, aku tidak terima, sebagai guru rasanya kehormatan kami tertampar. Apalagi kamu menjadi seperti sekarang tak pernah dan tak akan bisa tanpa jasa guru.

Adalah pendapat umum, bahwa pekerjaan guru itu ringan, saat libur sekolah, guru juga libur panjang. Sudahkah Anda melihat dari dekat bagaimana seorang guru yang benar-benar guru menghabiskan berjam-jam waktunya untuk menyiapkan materi pembelajaran, tugas untuk siswa, mengoreksi pekerjaan siswa, dan kemudian menyiapkan perbaikan untuk siswanya. Pekerjaan kami yang itu, tak pernah kami catatakan sebagai lembur yang layak dihargai dengan uang lembur. Apakah ada pekerjaan lain yang dalam pekerjaannya dipenuhi dengan doa-doa untuk orang yang dilayaninya, air mata keprihatinan, rasa cinta kasih yang kuat, dan hubungan silaturrahmi yang tak putus, selain pekerjaan guru? Barangkali ada yang menyisakan jasa tak terputus semisal dokter.

Adalah sangat menyakitkan menggebyah ubyah, menyamakan semua guru dengan knerja yang ditulis oleh Pringadi. Berapa persen jumlah guru yang demikian? Pring... aku yakin, andai pada guru juga diterapkan sistem penggajian yang sangat manusiawi, dan menghargai tingginya nilai ilmu (bandingkan dengan di Singapura, gaji guru tertinggi, jauh lebih tinggi dari bankir atau lawyer sampai masa kerja 12 tahun), maka penerapan punishment yang ketat saya yakin juga akan diikuti kinerja yang tinggi.

Pring... Sayang, pernah kamu tanya berapa gaji guru SD-mu dulu? Pernah kamu tanya, cukupkah mereka hdup layak dan membiayai putra-putri mereka hingga perguruan tinggi? Kita coba hitung-hitungan matematika ya. Kamu kan dulu pernah masuk jurusan Matematika ITB meski cuma setahun, pernah menjuarai olimpiade Matematika (aku berani bersumpah, di situ peran gurumu takkan bisa kau hapus hingga kiamat sekali pun).

Ambil contoh gaji tertingg guru SD mu golongan III -c, sebab banyak guru SD dulu menjadi PNS dgn ijasah SPG. Gajinya kira-kira kalau sekarang ya 2.600.000 gitu ya. Anak dua. Sekolah semua. Anggap biaya kedua anaknya sebulan paling banter 700 ribu (termasuk uang transpot, penggandaan tugas, dsb). Biaya hidup untuk konsumsi sehari-hari per bulan kira-kira 10.000 X 4 orang X 30 hari = 1.200.000. bberart sudah berkurang 1.900.000. Ini belum kehitung bayar listrik, telpon, transport ke sekolah yang kira-kira sebulan mnimal 500.000. Jadi sudah kepotong 2.400.000. Tinggal berapa, Pring? Rp 300.000. Sementara kami mungkin harus membayyar cicilan rumah, sepeda motor bukan untuk bermewah-mewah tetapi benar-benar karena kami membutuhkan.

Jangan salahkan kami, bila di antara kami banyak yang berpikir banyak bagaimana harus menambah penghasilan di luar mengajar? Ini kami yang PNS, bagaimana dengan yang non-PNS. Aapakah kami layak digaji jauh lebih rendah dibandingkan PNS lain hanya karena anggapan kami bekerja seenak sendiri, kinerkja kami rendah, gak berkualitas, atau karena jumlah kami terlalu banyak? Atau karena tanggung jawab kami tak mengandung resiko besar seperti jaksa, polisi, atau bagian perpajakan? Atau karena pekerjaan kami bukan pekerjaan produktif yang menghasilkan keuntungan seperti pertambangan atau perum/BUMN lain?

Sakit sekali rasanya. Bukan... bukan maksud kami menuntut gaji besar, Pring. Andai kamu, pembaca semua, para murid, para orang tua wali murid tahu, betapa kami mengajar dilandasi perasaan cinta yang berlimpah-limpah, disertai doa dan harapan yang bermekaran meski kadang dilipiuti kecemasan atas keberhasilan anak-anak didik kami, Kalian akan mengerti bahwa KEBERHASILAN murid-murid kami adalah BAYARAN TERTINGGI yang tak ternilai bagi kami. Kami cukup bahagia, kami akan bersyukur ribuan kali bila melihat atau mendengar nama murid kami disebut orang, berhasil menjadi sukses dan menjadi orang baik. Demi Allah, saya menangis menuliskan bagian ini.

Jangan salhakan kami semata dengan tuduhan kami tak memiliki kinerja tinggi. Bila pun ada keraguan atas kompetensi kami, seharusnya pemerintah dan masyarakat ikut bertanggung jawab untuk membantu kami meningkatkannya hingga kami mampu memberikan pelayanan terbaik pada para murid. Menjadi ujung tombak dalam menyiapkan generasi muda, penerus perjuangan bangsa yang berkualitas.

Pernahkah Anda berpikir bahwa kami masih terus dan terus butuh untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengajar kami. Di luar sana, kemajuan teknologi, informasi, melesat-lesat, sedang kami hanya berkutat pada buku-buku paket seadanya. Saat suami saya bertugas di Kalimantan Tengah untuk melakukan verifikasi SD yang mengajukan anggaran pembangunan gedung baru atau pembangunan SATAP(SD smp satu atap), saya menangis mendengar ceritanya, saya tersedu melihat foto-fotonya. Teman-teman guru kami mempunyai tanggung jawab moral sangat besar untuk menyiapkan generasi penerus bangsa, dalam kondisi sangat memprihatinkan, serba kekurangan. Tetapi keikhlasan teman-teman kami itu luar biasa. Banyak yang sudah IV-a ke atas, hampir pensiun, belum mendapat jatah sertfikasi.

(maaf saya terpaksa menangis lagi. Ya Robb, berilah balasan terbaik atas keikhlasan teman-teman guru mengajar di daerah terpencil itu dengan pwrhitungan- Mu yang jauh lebih adil)

Nah... bagaimana mungkin kami mampu meningkatkan kompetensi, misal kuliah lagi, melakukan penelitian, bila dana tak ada. Waktu mungkin bisa ditata, tetapi bila pada saat yang sama kami masih harus memikirkan perekonomian keluarga kami, apakah kami sanggup?

Pring... dan Pembaca yang budiman, sungguh maafkan. Banyak rumor yang beredar bahwa orang yang memilih profesi guru adalah masyarakat kelas dua, yang kemampuan nya kalah jauh dengan mereka yang memilih profesi lain seperti dokter, akuntan, peneliti, teknokrat, dan sebagainya. Lebih tegasnya, yang masuk PTK (perguruan tinggi keguruan) itu anak-anak yang kurang pandai. Mungkin benar. Tapi tak seluruhnya. Masih banyak juga yang memilih jadi guru karena panggilan nurani. Mengapa? Sebab gaju guru tak segede gaji profesional lainnya. Menyedihkan sekali.

Bila saja, profesi guru dihargai seperti di Singapura atau Malaysia atau negara lain, maka anak-anak pandai, high quality akan berbondong-bondong masuk PTK, dan kelak akan muncul guru-guru yang hebat. Tapi beranikah dan mampukah pemerintah mengambil kebijakan ini? Saat kuliah di NTU Singapura (berkat beasiswa PMPTK dan BPKLN, terima kasih untuk kedua lembaga tersebut), saya mendengar, bahkan berbincang-bncang langsung dengan beberapa bankir dan lawyer yang memilih pindah profesi jadi guru. Disini mana ada, yang ada malah sebaliknya sebab gaji guru ya demikianlah adanya.

sungguh, sekali lagi, tulisan ini tak hendak dan tak ingin memberontak apalagi menuntut gaji kami para guru, dinaikkan sejajar dengan gaji PNS di perpajakan atau kejaksaan. Alhamdulillah kami lebih terjaga dan aman dari godaan korupsi karena memang tak ada yang bisa kami korupsi. Kalaupun ada itu adalah waktu. Bahkan untuk menjual LKS yang sangat dibutuhkan oleh siswa, seringkali kami dapat protes dari orang tua. Padahal LKS 1 buku maksimal 10.000, masa pembayaran satu semester 6 bulan, kami biasanya harus melunasi dulu di awal. Berapa sih keuntungan kami bila dibandingkan dengan kewahjiban kami melunasinya, belum terhitung siswa yang tidak membayar dengan berbagai alasan. Tak jarang kami berikan buku itu cuma-cuma.

Pringadi, Sayang....aku jadi ingat gurauanku dengan beberapa teman saat hari guru, sambil mentertawakan nasib Oemar Bakri, kami meringis mendengar hymne guru. Pantas nasib guru melas, wong hymnenya saja melas. Maka sambil bergurau, kami berseloroh, ganti ya hymnenya , "Guru juga manusia....." dengan gaya ngerok gitu deh.

Penutup tulisan ini, selalu ingatlah salah satu kunci keberhasilan menuntut ilmu yang diajarkan oleh guru TK-mu, "Hormati gurumu, sayangi teman.....,"

Untuk rekan guru, saya percaya sepenuhnya, seperti juga saya menjalankan tugas keguruan saya, menjadi guru adalah pilihan, panggilan hati. Insya Allah gaji yang kita terima itu berkah, dan Allah akan mencukupkan. Bukankah kita seringkali masih harus sangat bersyukur meskipun juga sambil menangis bila membandingkan nasib kita dengan teman-teman guru non-PNS?

Namun, bila saya tulis sebuah kesaksian, teman SMA saya bapak dan ibunya adalah guru SD, keduanya PNS. Namun ketiga anaknya hanya berpendidikan sampai SMA sebab tak cukup biaya untuk menguliahkan. Mereka butuh kredit rumah dan sepeda motor. Adakah yang mau merenungkan betapa kami para guru bekerja sepenuh kemampuan pikiran dan tenaga, juga doa-doa dan cinta untuk para murid (anak orang lain), namun di sisi lain kami harus meringis sebab anak-anak kami tak mampu mengenyam pendidikan tinggi seperti yang kami ajarkan pada murid-murid kami????

Addition, bukan rahasia bila di antara kami mampu menguliahkan anak-anak kami, karena kami menyekolahkan SK kami ke BRI, BNI, atau Mandiri? hehehe coba siapa yang tidak melakukannya? Angkat tangan teman-teman. ..?

=====================================================================================


Nah teman, jika guru yang PNS saja seperti itu perjuangannya, jangan tanya lagi bagaimana yang non PNS. Ingat lo, terkadang ada guru non PNS yang kinerja kerjanya lebih baik dari yang PNS. Walaupun budget-nya seper sekian dari yang PNS mereka tetap loyal bekerja dan tetap tersenyum pada dunia. Bagi mereka madrasahku bukan hanya surgaku tetapi ladang amalku.
Selengkapnya...

22 Maret 2010

What the Dog Saw



What the dog saw merupakan hasil karya Malcolm Gladwell setelah The Tipping Point, Blink dan Outliers. Ketiga buku tersebut menjadi best seller. What the dog saw judul yang unik. Apa yang dilihat anjing.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan terbaik Malcolm Gladwell yang dimuat di The New Yorker. What the dog saw mengajak kita untuk melihat suatu masalah bukan hanya dari mata dan kepala kita sendiri, melainkan juga dari mata dan kepala orang lain. Inilah yang dimaksud Malcolm Gladwell dengan other minds (akalbudi lain). Sungguh buku ini full of inspiring.

“Keingintahuan mengenai apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain adalah salah satu dorongan paling mendasar pada manusia, dan dorongan itulah yang menyebabkan ditulisnya buku yang sekarang Anda pegang.” Demikian ungkapan Malcolm Gladwell pada kata pengantar bukunya.

What the dog saw merupakan clue yang dilemparkan Malcolm Gladwell untuk membuat semua orang ‘melirik’ bukunya. Beliau memang paling piawai dalam hal ini. Seperti yang diungkapkannya masih pada kata pengantar seperti berikut ini:

Kuncinya menemukan gagasan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita. Saya bilang kunci tapi yang saya maksud adalah tantangan, karena amat sulit melakukannya. Bagaimanapun, naluri kita sebagai manusia adalah menganggap sebagian besar hal tidak menarik. Kita gonta-ganti saluran televisi dan menolak sepuluh sebelum menonton satu. Kita pergi ke toko buku dan melihat dua puluh novel sebelum memilih satu yang kita mau. Kita menyaring dan menyusun peringkat dan menilai. Kita harus melakukan itu semua. Ada banyak hal di luar sana. Tapi jika mau jadi penulis, Anda harus melawan naluri itu saban hari. Sampo tidak menarik? Sebodo amat, pokoknya sampo itu harus menarik, dan kalau tidak, saya harus percaya bahwa ujung-ujungnya sampo akan membawa saya ke sesuatu yang memang menarik. (Saya biarkan Anda menilai benar tidaknya saya dalam contoh itu)

Menurut penulisnya sendiri, buku ini terbagi menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah mengenai orang-orang yang terobsesi atau “obsesif” (obsessives). Orang-orang dalam kategori ini disebutnya sebagai Genius Minor. Bukan seperti Einstein, Winston Chuschill, Nelson Mandela, atau tokoh besar arsitek dunia. (Para obsesif, Perintis, dan Macam-macam Genius Minor Lainnya).

Sedangkan kategori kedua (Teori, Prediksi, dan Diagnosis) membahas teori, cara-cara menata pengalaman. Bagaimana sebaiknya kita berpikir tentang tunawisma atau skandal keuangan, atau kecelakaan seperti jatuhnya pesawat antariksa Chalengger? Khusus pada bagian ini kita akan menemukan wise words yang tidak biasa, yang membuat saya jadi tersenyum bahkan terkadang tertawa sendiri (Entah kenapa terkadang saya cenderung begitu jika membaca buku yang menurut sebahagian orang termasuk buku ‘berat’. Secara pribadi saya membaca buku karena tertarik, bukan karena mempersoalkan kategori ‘berat’ dan ‘ringan’. Suatu kategori yang tidak memiliki indikator yang valid. Menurur saya lo…!). Misalnya saja begini:

“Sebanyak apapun pengamatan atas angsa putih tak memperkenankan pengambilan kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih, tapi ditemukannya satu angsa hitam sudah cukup untuk membatalkan kesimpulan tersebut.” (hal. 65)

“Mengapa mengaku belajar dari pengalaman, kalau percaya bahwa pengalaman tak bisa dipercaya?” (hal. 68)

Kemudian pada bagian ketiga (Kepribadian, Sifat, dan Kecerdasan) menelusuri perkiraan-perkiraan yang kita buat mengenai orang. Bagaimana cara kita tahu seseorang jahat, atau pintar, atau sangat jago melakukan sesuatu? Seperti akan Anda lihat, saya meragukan ketepatan kita dalam membuat penilaian seperti itu. Demikian tutur sang penulis.

Jelasnya dalam buku ini, kita akan menemukan berbagai kisah ataupun petualangan yang mengharu biru dan penuh dinamika. Antara lain bagaimana kreasi menakjubkan pionir saus pasta Howard Moskowitz. Raja dapur Amerika Ron Popeil yang menjual oven rotisserie-nya sembari ngobrol dengan Gladwell. Juga mengungkapkan rahasia Cesar Millan, sang pawang anjing, yang dapat menenangkan anjing galak dengan sentuhan tangannya. Ketika Millan melakukan keahliannya, apa yang ada di dalam kepala si anjing? Itulah yang benar-benar ingin diketahui – apa yang dilihat anjing…. What the dog saw…!

Masih banyak kisah-kisah petualangan lainnya yang ‘menggelitik’.

“Tulisan yang bagus dinilai berhasil bukan dari kekuatannya untuk meyakinkan. Tulisan yang yang baik dinilai berhasil jika tulisan tersebut mampu membuat Anda terlibat, berpikir, member Anda kilasan pikiran seseorang.” Demikian menurut seorang Malcolm Gladwell.
Selengkapnya...

14 Maret 2010

What is Blog...?



Blog is one of many new words that have come into the English language because of new technology such as the internet. With blogs, anyone can be published on the internet.
Language doesn’t get any more inventive than in the world of computers and one new word that you may have heard a lot recently is blog, along perhaps with blogger, blogging, and even blogosphere.

A blog is an online diary, a journal that’s available on the web and it’s short for weblog.

Blog can be a noun, a blog, or a verb; to blog. The activity of updating a blog is "blogging" and someone who keeps a blog is a "blogger." The world of blogs is often referred to as the blogosphere.
Today, a blog is created every second and at the end of last year there were over 60 million blogs worldwide.

There are many blogs about the news, written by journalists, editors and members of the public, but when are blogs themselves in the news? After the shooting in Virginia Tech in April 2007 it came out that students were kept informed through blogs.

"News of the Virginia Tech tragedy has dominated US media outlets and mainstream blogs, while student blogs and social networking websites gave information online as the drama unfolded."

And another story from academic life:

"Academics who say they have been bullied are using a blog to record their experiences of alleged unfair treatment within universities."

Here’s a story about a blog that went wrong and didn’t have the desired effect. The headline was “Diplomat blog pulled after abuse.”

"A British diplomat's blog offering his thoughts on Thailand has been withdrawn after insults and accusations were posted on it by members of the public."
And look out for blogs that contain video as well as text; called, inventively blogs.

Or maybe you have something to say to the world, and want to start your own online diary. If so Happy Blogging!

So we heard there that there are a huge number of blogs on the internet. They are personal accounts or diaries, but other people can also add comments to them.

Some are just for fun, a personal account of someone’s life, or relating to a topic such as a hobby or interest. For example, there are blogs discussing computer games and music. Other blogs are more serious, talking about the news, politics or other issues.

Blogs are part of the world of internet communities. This means that people can communicate with their friends, and with strangers all around the world, using the internet. Blogs can also include sharing pictures, music and video with others.

Some other forms of online communities are message boards and chat rooms, which let people talk to others about all sorts of things, and social networking sites.

Social networking sites have become very popular recently. They allow people to share their thoughts and activities with their friends online. Each person has an area which they can update as often as they like, to tell friends what they are doing, and share photos, music, video and links to websites they enjoy.

Some people want their blogs and social networking pages to be visible only to their friends, while other people want to use them to make new friends on the internet.

Sometimes internet communities are in the news because of misuse of them, such as people spreading information about terrorist activities, or because of children having access to inappropriate material.

Source:

http://www.bbc.co.uk/indonesia/bahasa_inggris/2010/03/100308_newswords_blog.shtml
Selengkapnya...

6 Maret 2010

Ketika Dunia Maya 'Meresahkan'


Salah satu jejaring sosial yang begitu familiar adalah Facebook. Ia telah mampu menyentuh segala strata usia dan stara sosial. Bahkan tukang becak pun ada yang mencari pelanggan melalui Facebook. Akan tetapi sekarang telah muncul lagi ‘penantang’ baru jejaring sosial ini. Google mulai memperkenalkan Google Buzz-nya. Hm…tentu khasanah dunia maya akan semakin seru.

Seiring dengan hal itu pula, berbagai media massa dan media elektronik mengorbitkan berita betapa Facebook telah memperdaya generasi muda kita, terutama remaja putri yang menjadi korbannya. Saya jadi teringat dengan kata-kata bijak yang dilontarkan khalifah terakhir dari jajaran Khulafaur Rasyidin, yaitu Ali bin Abi Thalib RA. Beliau mengingatkan kita dengan nasehatnya: "Didiklah anak-anakmu untuk masa yang bukan masamu".

Hal ini dinyatakan beliau tidak kurang dari 13 abad yang lalu. Tetapi sungguh relevan dengan kondisi di masa kini. Begitu besar tantangan yang dihadapi remaja kita sekarang, dimana tantangan tersebut mungkin belum terpikirkan di jaman orang tuanya maupun gurunya dulu.

Terjangan media elektronik dan dunia maya yang begitu rentan menghantam para ABG kita, haruskah kita mengambil sikap untuk menjauhkan mereka dari dunia tersebut? Tidakkah akan lebih bijak jika kita memperkenalkan dunia yang satu itu secara sehat, arif dan benar. Untuk melaksanakan itu ya tentunya terlebih dahulu para orang tua dan guru meng-up date dirinya sendiri, sebelum meng-up date anak-anaknya/siswanya. Ibda’ binafsih.

Disinilah peranan orang tua di rumah. Di sekolah tentu saja guru yang mengambil peranan. Masalah ini bukan hanya menjadi tanggung jawab guru yang mengajar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saja, melainkan tanggung jawab semua guru yang mengajar mata pelajaran apa pun. Apalagi sekarang para guru dihimbau untuk mengaplikasikan pembelajaran berbasis IT. Sosialisasi dan apresiasi yang sehat tentang dunia maya akan membawa pengaruh yang sehat pula kepada siswa/anak. Sehingga mereka tidak keliru dalam menyikapi segala kemungkinan dari dampaknya.

Sebagaimana konsep dari quantum teaching:

"Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka"

Seperti apakah tantangan yang akan dihadapi remaja kita 10 atau 20 tahun kedepan ? Wallahu’alam bishawab..!!
Selengkapnya...