MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat
Tampilkan postingan dengan label Info Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Buku. Tampilkan semua postingan

26 April 2013

Adam Panjalu; Antologi Cerpen Pertama-ku

Adam Panjalu adalah antologi cerpen yang memuat karya-karya cerpen dari 20 guru se-Indonesia. Mulai dari penulis senior hingga yunior seperti saya. Dua puluh empat cerpen ini semuanya bernuansa pendidikan. Bahkan cerpen saya yang terdapat dalam buku ini (Mulai dari Diri Sendiri) based on true story. Terkadang kejadian-kejadian di kelas, interaksi dengan murid-murid selalu menimbulkan inspirasi untuk berbagi cerita kepada orang lain. Agar cerita itu dapat dinikmati oleh banyak orang maka diungapkan lewat tulisan.  
Mimpi tulisan diri dibaca oleh komunitas yang lebih luas dalam bentuk media cetak terwujud. Aiiih senangnya. Semua ini tidak lepas support dari Mas Eko Prasetyo dan Ibu Faradina. Dua penulis kondang yang selalu ‘menularkan’ virus menulisnya kepada guru-guru di Indonesia dalam komunitas Ikatan Guru Indonesia, yang salah satu kegiatannya adalah Gerakan Guru Menulis.
Salah seorang tokoh dunia literasi yang karyanya sering ku baca, yaitu Yudhistira Massardi berkomentar dalam antologi cerpen ini; “Jika para guru sudah mau dan bisa menulis, berarti para muridnya akan terdorong untuk lebih maju, sekurang-kurangnya memiliki gairah untuk membaca dan menulis; berarti sebentar lagi kita akan memiliki generasi baru intelektual-seperti para intelektual Indonesia yang lahir menjelang dan setelah Sumpah Pemuda 1928; berarti Bahasa Indonesia juga akan semakin terjaga. Karena, para guru yang menulis tentu akan menjaga kualitas bahasa dan idenya, dan memberikan contoh yang baik bagi para muridnya”. 

Selain itu ada juga sambutan dari Bapak Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI yang kini bertugas sebagai dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul Korea. Inilah sambutan beliau; “Cerpen-cerpen dalam buku ini, merupakan wujud kesadaran akan pentingnya berkomunikasi dengan masyarakat yang lebih luas. Percayalah, cerpen-cerpen dalam buku ini adalah representasi spirit guru yang tidak terkungkung oleh ruang kelas dan tembok sekolah. Mereka, guru-guru ini hendak berbagi dan menggaungkan pesan moral. Itulah karakteristik guru-guru plus-plus. Guru-guru yang punya kualitas dan nilah tambah. Selamat”! 

Memang 24 cerpen yang termuat dalam antologi ini sarat dengan nilai-nilai Character Building. Untuk konsumsi sastra tentu tidaklah mengecewakan. Sangat layak dibaca oleh siapa saja yang peduli dengan dunia pendidikan dan tentu saja mencintai sastra. Semoga Adam Panjalu bukan buku pertama dan terakhir bagi saya. Ini anak tangga pertama, dan bersiap-siap untuk menapak di anak tangga berikutnya. Bismillaah. Selengkapnya...

20 Januari 2013

Tak Serapuh Rumah Kartu

Rumah Kartu; terkesan kokoh namun rapuh. Sekali sentuh, rawan runtuh. Demikianlah image Rumah Kartu. Akan tetapi tidak demikian dengan kumpulan puisi-puisi Eko Prasetio dalam Rumah Kartu. Rumah Kartu merupakan kumpulan puisi yang didominasi oleh puisi-puisi minimalis dari segi kosa kata, namun sarat makna. Membaca Rumah Kartu seperti terhipnotis. Enggan berhenti di satu puisi. Ingin terus membaca berikutnya dan berikutnya lagi. Jika pun harus tertunda, ada hasrat yang tak ingin lari, untuk melanjutkan lagi.  

Baru kali ini saya membaca buku puisi dengan perasaan campur aduk. Kadang senyum sendiri, kadang jidat berkerut, tetapi juga kadang termehek-mehek. Pemilihan kosa kata yang terangkum dalam kalimat menjalin bait-bait yang tidak begitu panjang, terkesan minimalis. Tetapi makna di baliknya sungguh sarat, hingga menggetarkan hati. Membuat puisi-puisi ini sungguh ‘bernyawa’. Mengungkapkan kecintaan pada Sang Khalik, Kecintaan pada sang Istri yang selalu disebutnya Jeng Ratih-ku Sayang, juga Kecintaannya pada sesama dengan kritik-kritik sosialnya. 


Mahabah adalah salah satu puisi yang mengungkapkan kecintaan pada Sang Khalik. 

dekap tarikan nafasku setiap saat 
buat aku faham akan artimu di kehidupanku 
agar aku tak mudah menyakitimu 

bersihkan jiwa ini dari lumuran kedengkian 
buat aku faham akan pentingnya kesabaran 
agar aku tak mudah menyombongkan diri 

perdengarkan padaku ayat-ayat Tuhan 
buat aku faham akan indahnya kerinduan 
agar aku tak pernah lupa siapa pemilik ruhku 

bilamana kau datang untukku 
janjikan kedamaian yang takkan berpudar 
untukku dan Dia 
agar bisa kujemput kebahagiaan 
sampai akhir kelak. 

(Mahabah, h. 2)

Selain Mahabah, masih ada beberapa puisi lagi yang mengungkapkan kecintaan pada Sang Khalik. Seperti Sujud dan Rindu Makkah. Pemilihan kosa kata yang cerdas mampu menghanyutkan hati dan tanpa sadar membuat mata basah. 

Sementara itu ungkapan cinta untuk Istri terkasih ditunjukkan begitu jelas dan mendominasi isi buku ini. Barisan-barisan puisi yang selalu diawali dengan pernyataan Jeng Ratih-ku sayang. Sungguh kado ulang tahun yang sangat manis untuk Istri tercinta. Yang membuat gemas hati, ungkapan cinta itu dinyatakan dalam bait kata yang begitu minimalis; 

:Jeng Ratih-ku sayang 

kuhimpun pelepah kata yang terbuang 
kubersihkan sebagiannya 
kutata kembali hingga membentuk apa yang biasa kau sebut rindu 

(Serenade, h. 34) 

Sungguh menggemaskan. Hati wanita tentu ‘penasaran’ dengan ‘pelit’-nya kosa kata ini. He he heee. 

Begitu juga kepedulian seorang Eko Prasetio terhadap kehidupan sosial. Simak saja barisan-barisan puisi berikut ini: 

dan perdu, pohon-pohon liar, rawa-rawa bisu memasang wajah masam 
menatap bocah-bocah dari lorong waktu yang tak lagi betah tinggal di sudut kota 
sebab, tanah lapang kini semakin sulit dicari 

(Pledoi Senja, h. 3) 

Naluri humor nan cerdas Eko Prasetio jelas terlihat dalam puisi kritik sosial berikut ini: 

aku kejar kau sebelum jarum panjangmu di angka 12 
kau tertawa terkekeh mengejek penuh kemenangan 
jelang sepuluh menit aku harus bersabar di antrean panjang malam jahanam 
jelang lima menit aku mulai ragu 
saat tiba giliranku 
harga bensin sudah enam ribu 

(00.00, 24 Mei 2008, h. 11) 

Eko Prasetyo selalu mencantumkan tanggal penulisan puisi-puisinya. Seolah-oleh mengajak pembaca untuk mencermati jejak langkahnya. Jejak perjalanan batinnya. Jejak pemikirannya. Hingga jejak perasaannya. Semua terangkum menjadi satu. Berbagai ‘rasa’ ada di sini. Sungguh buku kumpulan puisi yang memiliki karakter tersendiri. Selengkapnya...

9 Februari 2012

For the Love of Reading and Writing by Satria Darma

For the Love of Reading and Writing. Demikian judul buku yang ditulis oleh Bapak Satria Darma. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia. Sebuah judul yang menyanjung pembacanya. Lebih tersanjung lagi karena buku ini khusus dicetak Pak Satria pada peringatan Hari Ulang Tahunnya yang ke-52. Tidak diperjual belikan. Jika lazimnya seseorang yang berulang tahun menerima kado, maka hal ini justru tidak berlaku pada Pak Satria. Ia yang berulang tahun, dirinya juga yang membagi-bagi kado kepada beberapa kerabat dan sahabat yang dikenalnya. Salah satunya adalah saya. Aih sungguh saya merasa seperti mendapat durian runtuh.  
Memiliki catatan kehidupan adalah sesuatu yang menakjubkan dalam hidup. Tidak semua orang mampu menulis momen-momen kehidupannya seunik yang dilakukan Pak Satria. Buku ini telah menunjukkan betapa beliau seorang penulis yang begitu cermat menangkap jejak pembelajaran dalam kehidupannya. Mulai dari kenangannya akan pola pendidikan orang tuanya hingga special moment with his children. Misalnya saja ketika anaknya sunat, perdebatan dengan putranya dan peristiwa-peristiwa manis dalam keluarga. Pak Satria telah merangkai event-event tersebut menjadi jalinan yang manis dan sarat pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa Pak Satria adalah pembelajar kehidupan sejati. 

Membaca buku ini, membuat saya lebih mengenal Bapak Satria Darma. Setidaknya mengenal pemikiran dan gagasannya. Terutama gagasan yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Jika dewasa ini banyak orang terobsesi untuk menjadi PNS, beliau justru meninggalkan status ini hanya demi memerdekakan hatinya. Tidak jadi PNS, saya tetap bisa menjadi guru yang baik. Begitu katanya (halaman 41). Mental yang sangat langka di era hedonisme saat ini. I love it…! 

Sebagai seorang pendidik sejati yang menentang diskriminatif, kritik tajamnya tentang RSBI sering membuat saya tercengang. Membuka cakrawala berpikir saya. Begitu juga respon beliau terhadap pelaksanaan kebijakan UN. Masih banyak lagi pemikiran beliau tentang pendidikan tertuang di buku ini. Dengan jumlah halaman yang cukup fantastis, nyaris 500 halaman (481 halaman), buku ini mampu menghipnotis saya untuk terus menelusuri halaman demi halaman. 

Pemikiran beliau tentang fenomena dinamika beragama juga menunjukkan bahwa beliau adalah seorang religious modern. Buku ini telah mengisaratkan bahwa Pak Satria merupakan seorang muslim yang mampu mengaplikasikan makna Iqra’ yang termaktub dalam surat al-Alaq. Namun pemikirannya yang begitu ‘merdeka’, terkadang bisa membuat orang menafsirkan bahwa beliau seorang liberal. Tapi bukan Pak Satria namanya jika dia tidak mampu mengajukan argument kritis terhadap sesuatu yang dikomentarinya. Beliau memang seorang pendebat ulung yang pernah saya kenal melalui tulisan-tulisannya. Baik di media cetak, media elektronik maupun milist. 

Semua tulisan yang terangkum dalam buku ini adalah dari tulisan-tulisan Pak Satria di beberapa blog-nya. Intinya beliau ingin memotivasi semua orang (terutama para pendidik/guru) bahwa menulis itu mudah. Bisa dimulai dari catatan-catatan pribadi atau pemikiran-pemikiran pribadi akan kejadian di sekitar kita. Apa yang dilakukan Pak Satria salah satu bentuk self education sebagaimana yang selalu dilakukan Rasulullah Muhammad SAW. Pak Satria sebelum memotivasi guru-guru untuk menulis, ia telah memberi contoh terlebih dahulu. Masih saya ingat ketika saya mengirimkan email sebagai ucapan terimakasih atas kado di hari ulang tahunnya, beliau membalas email saya seperti ini:  

“Saya berharap Bu Ayuk bisa menulis bukunya juga suatu saat dan saya dikirimi juga sebagai balasnya. Amin!” 

Amin Ya Robb 

Duh, Pak Satria tahu saja obsesi saya. Insya Allah Pak, suatu hari nanti jika mimpi ini terwujud maka Bapak adalah salah satu target yang dikirimkan buku tersebut. Hmmm…kira-kira terwujud ketika ulang tahun ke berapa ya..? ha ha ha… Semoga..one day…I hope my dream come true…! 

Terimakasih Pak Satria untuk perhatian dan support selama ini. Semoga Bapak dikaruniakan Allah usia yang barokah dan semakin bermanfaat bagi umat. Khususnya bagi dunia pendidikan negeri tercinta, Indonesia.
Selengkapnya...

26 Juli 2011

Konsep Pendidikan Ala James Marcus Bach



James Marcus Bach adalah seorang manajer di Apple Computer, pembicara dan pengajar di bidang pengujian perangkat lunak di sejumlah laboratorium dan universitas top di berbagai Negara. Sebagai seseorang yang pernah mengambil keputusan ‘bijak’ drop out dari SMA, reputasinya itu tentu mencengangkan, setidaknya bagi orang-orang yang begitu mengagungkan selembar kertas yang disebut ijazah. Dalam bukunya yang diberi judul cukup ‘nakal’ yaitu Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat; Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Laut, James Marcus Bach mengungkapkan banyak hal yang berhubungan dengan pendidikan, walaupun menurut beliau ‘Buku Ini Bukan Tentang Sekolah’. Salah satu yang diungkapkannya adalah konsep tentang pendidikan.

Pendidikan bukanlah setumpuk fakta. Bukan pula jam-jam yang kita habiskan di ruang-ruang kelas, atau bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian. Pendidikan bukan indoktrinasi, atau memuja para leluhur, atau patuh pada wewenang, bukan juga mempercayai begitu saja kata-kata siapa pun tentang apa yang benar, yang salah, yang penting, dan yang lazim.
“Pendidikan adalah “Anda” yang muncul melalui pembelajaran yang Anda lakukan.” (hal. 19)

Kata-kata di atas sungguh ‘berenergi’. Menunjukkan betapa pendidikan itu tidak dapat dikotak-kotakkan. Mengisaratkan juga betapa pendidikan itu universal. Pendidikan sejatinya tidak mengenal istilah formal, non formal dan informal. Pengkotak-kotakan ini hanya member kesan betapa ketiga unsur tersebut tidak terintegrasi.

Selanjutnya James menguraikan bahwa semua orang di dunia ini, karenanya, sudah dididik dengan cara tertentu. Kita, umat manusia, membangun pikiran-pikiran kita sendiri, menganalisis, dan kemudian merekonstruksi pikiran-pikiran itu sepanjang hidup kita. Anda sedang melakukannya saat ini, ketika Anda membaca. Anda sedang bertanya-tanya, “Apa maksudnya mengatakan itu?”; dan barangkali ketika Anda membaca kata “membangun” dan “menganalisis”, Anda membayangkan potongan-potongan kayu, palang-palang baja, mesin, dan kekacauan. Gambar-gambar itu adalah bagian dari pemecahan puzzle, proses membuat model yang terbentuk sendiri. Ketika gambar-gambar dan gagasan-gagasan itu secara tiba-tiba Anda pahami dan membuat anda berfikir “oh, jadi begitu cara kerjanya,” Anda menambahkan sesuatu yang baru terhadap diri Anda. (hal. 20)

Kalimat-kalimat di atas menunjukkan betapa radikal dan merdekanya jalan pemikiran James. Pemikiran-pemikiran yang tidak mungkin bisa ‘dikurung’ di dalam sebuah kelas. He he he. Ya, seorang guru bisa saja menjaga 40 siswa untuk tetap duduk di dalam kelas, tetapi ia tidak dapat menjaga pikiran seorang anak pun untuk tetap di dalam kelas.

Dalam hal pengetahuan, James memiliki persepsi sendiri. Pengetahuan adalah bagian dari pendidikan saya, hanya jika dia mengubah saya. Pengetahuan tidak meningkatkan pendidikan saya, kecuali dia mengubah saya menjadi lebih baik. Pendidikan mungkin membuat saya lebih berkuasa, lebih berwawasan, lebih terlibat dengan kehidupan. Namun, saya harus menjadi lebih tertarik atau berguna bagi diri saya sendiri dengan cara tertentu, jika tidak maka peningkatan tidak terjadi. (hal. 21)

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang memperbaiki akhlak kita. Pernyataan ini relevan dengan ungkapan James di atas. James juga menitik beratkan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat memperbaiki keadaan di sekelilingnya, minimal memperbaiki diri sendiri. Oleh karena itu, banyak orang-orang di sekitar kita, terkenal atau tidak terkenal telah mengukir ‘kisah’ yang membuat Negara ini semakin terpuruk. Namun di depan dan di belakang namanya tertera embel-embel atau gelar yang fantastis. Konon gelar-gelar tersebut didapat setelah melewati berbagai jenjang pendidikan. Apakah yang seperti ini layak disebut orang yang berpendidikan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, James menjawab dengan bahasa yang rada berfilsafat: “Tidak seorangpun di dunia ini yang bisa memilih apakah dia perlu dididik atau tidak. Akan tetapi, kita bisa memilih bentuk pendidikan kita. Itu adalah tugas kehidupan.

Masih banyak lagi pemikiran-pemikiran menarik yang ditulisa James Marcus Bach dalam bukunya ini. Pemikiran-pemikiran yang dapat kita jadikan refleksi untuk memperbaiki diri. Salah satu pemikirannya yang menarik adalah tentang belajar mandiri atau belajar secara otodidak dengan metode Bajak Laut. Bagaimanakah metode bajak laut ala James Marcua Bach? Insya Allah akan menyusul pada postingan berikutnya.

Selengkapnya...

11 Februari 2011

Menguak Sejarah Mencari 'Ibrah



Judul Buku : Menguak Sejarah Mencari ‘Ibrah
Penulis : Dr. Hasan Asari, MA (sekarang sudah Profesor)
Penerbit : Cita Pustaka Media Bandung, 2006

Mengulas dunia pendidikan adalah sebuah topik yang tidak akan ada habis-habisnya. Seluruh aktifitas kehidupan manusia tidak lepas dari unsur pendidikan. Sebagaimana yang dinyatakan Andrea Hirata dalam novelnya Cinta Di Dalam Gelas bahwa "Tata cara bertutur kata, bergaul pria wanita, berbaju, menggaruk kalau gatal, atau berjoget dangdut, semuanya akibat dari pendidikan".

Menguak Sejarah Mencari ‘Ibrah merupakan salah satu buku yang mengulas dunia pendidikan dengan pendekatan history (Sejarah). Dalam buku ini kita akan menjumpai bagaimana pendekatan dan metodologi dalam pengkajian pendidikan Islam dalam perpsektif sejarah. Bagaimana kita dapat menemukan ‘Ibrah (pelajaran) dari sebuah catatan sejarah.

Sejarah ibarat sebuah celah yang dipakai oleh sebuah komunitas untuk ‘mengintip’ dan mengail pelajaran (‘ibrah) dari masa lalunya. Keinginan melihat dimensi yang lebih luas dari masa lalu itu mendorong orang untuk terus menerus membuka celah baru, atau setidaknya menguak lebih lebar celah historis yang sudah ada.

Dalam hal ini penulis menyatakan bahwa “Dibandingkan dengan model penulisan sejarah konvensional, model sejarah sosial-dengan ciri lebih menyeluruh dan menekankan pemberian makna terhadap fakta-fakta sejarah-membuka kemungkinan yang lebih besar bagi kita untuk memperoleh pesan sejarah (‘ibrah). Sesungguhnya, pencarian ‘ibrah dan kemudian menjadikannya sebagai bahan pelajaran dalam memahami masa kini dan merencanakan masa mendatang adalah merupakan inti terpenting dari kegiatan pengkajian sejarah. Karenanya, semakin detail pengetahuan kita tentang sejarah pendidikan Islam, semakin besar kemungkinan kita memberinya penafsiran yang komprehensif, dan pada waktu yang sama, semakin besar pula kemungkinan kita memperoleh pelajaran berharga daripadanya guna menyusun perencanaan masa depan yang lebih baik”.

Pada buku ini kita juga dihadapkan dengan pemikiran-pemikiran pendidikan Al Ghazali. Diantara pemikiran-pemikiran pendidikan Al Ghazali yang dibahas dalam buku ini adalah:

1. Mekanisme Psikologis Proses Belajar
2. Hambatan-hambatan Belajar
3. ‘Cara Lain’ Untuk Mengetahui (topik ini sangat menarik)
4. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
5. Murid dan Kewajibannya
6. Guru dan Kewajibannya (wajib diketahui oleh pendidik)

Selain itu bagaimana dinamika Intelektual Muslim Klasik dan Muslim Dalam Kontak Peradaban juga dihadirkan dalam buku ini dengan pengolahan yang menarik. Apalagi didukung dengan berbagai referensi dari Bahasa arab. Sungguh membuka paradigma pemikiran pendidikan kita menjadi open minded.  

Yang merasa pendidik, perlu lo baca buku ini.
Selengkapnya...

13 Januari 2011

Buku Bergizi; La Tahzan for Teacher




Bagi anak berkebutuhan khusus, model pendidikan inklusif memberikan rasa hormat dan kebanggaan pada diri sendiri, sedang bagi anak normal, pendidikan inklusif mengajarkan mereka bersyukur dan menerima perbedaan. Semua siswa, termasuk juga gurunya, jadi memiliki kesempatan memperkaya hati, tentu bila guru dapat mengarahkannya dengan baik.

Kalimat diatas dikutip dari buku La Tahzan for Teacher pada halaman 6 yang ditulis oleh dua orang guru muda yaitu Ibu Irmayanti dan Gita Lovusa. Saya merasa ‘tertampar’ dengan pernyataan “…memiliki kesempatan memperkaya hati…”

Kalimat-kalimat tersebut mengingatkan saya pada sebuah kelas di madrasah tempat saya tugas. Di kelas ini siswanya beraneka ‘warna’. Ada seorang siswa perempuan yang perkembangan kognitif dan afektifnya jauh tertinggal dibandingkan dengan perkembangan seks-nya (gaya bicaranya pun seperti anak autis). Ada siswa yang emosinya cenderung tidak terkendali gampang merampang (marah membabi buta tidak perduli siapa dihdapannya). Ada juga siswa yang banyak bicara tetapi tidak mampu ‘mendengar’ dengan baik, sehingga sering menimbulkan salah paham tidak hanya dengan teman-temannya, tetapi juga dengan guru, tentu saja semuanya akan berakhir dengan keributan. Huufff…itu baru sebahagian. Jadi jangan heran jika guru yang masuk di kelas ini bakal mendendangkan ‘lagu’ complain yang berkepanjangan. Mungkin kondisi-kondisi seperti inilah yang tidak pernah didiskusikan di Perguruan Tinggi tempat calon tenaga pendidik dipersiapkan, sehingga begitu ‘turun gunung’, banyak tenaga pendidik yang jadi stress dalam menghadapi keaneka ragaman ‘warna’ tersebut.

La Tahzan for Teacher merupakan salah satu buku ‘bergizi’ yang perlu ‘dikonsumsi’bukan saja oleh guru tetapi juga oleh orang tua. Karena pada dasarnya guru adalah orang tua siswa di sekolah (walaupun terkadang banyak guru yang tidak dapat menganggap murid sebagai anaknya di sekolah), apalagi yang memang orang tua yang telah diamanahkan anak. Selain itu problem yang dimunculkan dalam buku ini berdasarkan kisah nyata yang dialami penulis.

Beberapa ‘keunikan’ anak dan fenomena kelas/sekolah yang kadang terabaikan yang dimunculkan dalam buku ini antara lain:
1. Doni, siswa dengan kondisi emosi yang tidak stabil, terkadang mengamuk di kelas tanpa sebab yang jelas.
2. Rahmi, siswa yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, sehingga cenderung sering menyakiti diri sendiri dengan menyilet bagian tubuhnya.
3. Ferro, siswa yang harus ‘bertekuk lutut’ dengan ambisi orang tua.
4. Herman, siswa yang ‘biasa-biasa’ saja dari segi kognitif, tetapi memiliki kecerdasan interpersonal yang patut diperhitungkan (inilah kecerdasan anak yang kadang diabaikan guru)
5. Arlan Soebarna, siswa yang memiliki kecerdasan verbal (banyak omong dan jago berbalas pantun), tetapi banyak guru yang dibuatnya BT karena sering nyeletuk ketika guru mengajar.
6. Siswa-siswa yang telah terlibat dengan seks bebas
7. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada anak
8. Kepercayaan yang jarang diberikan guru kepada siswa.

Khusus poin ke delapan, saya sempat terpaku membaca bagian ini. Yaitu pada kutipan-kutipan kalimat yang diambil dari film Kungfu Panda, seperti:

You’re not my teacher. You don’t even believe me
To make something special, you just have to believe that it is special


Sebelumnya saya sudah menonton film ini. Ketika itu saya sempat senyum-senyum dan manggut-manggut menyadari betapa film ini sarat dengan nilai-nilai pendidikan. Namun manggut-manggut saya ketika itu semakin menemukan ‘klik’-nya setelah membaca buku ini. Ya…trust… kepercayaan itu adalah salah satu modal membangkitkan kreatifitas siswa. Bagaimana mungkin mereka ‘nyaman’ melakukan sesuatu jika kita tidak mempercayainya…?

Masih banyak lagi problem-problem yang sering kita jumpai di lingkungan sekolah, dimana problem itu terkadang kita selesaikan dengan cara yang tidak bijak (termasuk saya sendiri, pengakuan dari lubuk hati terdalam. Hiikkss) yang dihadirkan dalam buku ini. Problem yang terkadang sekolah tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikannya. Seperti yang dinyatakan penulis pada halaman 16:

Sayangnya, sekolah bukanlah tempat yang terlalu ramah pada anak. Kurikulum padat, dan guru harus berkejaran dengan waktu karena semua harus selesai untuk Ujian Nasional. Tak banyak waktu tersisa untuk memperhatikan anak didik, mencari akar masalah mereka, mengobati luka yang menganga. Padahal anak-anak ini manusia.

Pada halaman 147 penulis selaku guru ‘muda’ memaparkan apresiasinya terhadap guru ‘tua’. Pada bahagian ini saya senyum-senyum membacanya, terutama pada pernyataan:

Jadi ingat heboh sertifikasi guru kemarin. Lama mengajar merupakan komponen kedua yang dinilai setelah gelar sarjana. Makin lama mengajar, makin besar poinnya. Tentu kesempatan jadi certified teacher yang (katanya) mumpuni dan sejahtera juga makin lebar. Kenapa begitu, ya? Hmm…, mungkin karena makin lama mengajar, kualitas guru jadi makin bagus.

Begitukah?

Mungkin saja sih. Tapi ingatkah kita pada sosok guru yang makin sulit didebat, makin sok tau, dan makin membosankan saja setiap dia masuk kelas? Bukankah biasanya guru demikian adalah guru yang ‘lama’ mengajar, yang dibilang banyak pengalaman?

Tentu saja usia muda tak berarti selalu baik. Kadang ‘muda’berarti mentah, emosional, dan mengedepankan ego. Kadang juga bertindak serampangan dan kurang pertimbangan. Sementara, kita banyak menemui guru tua yang makin lama makin berisi, setidaknya mereka mendukung perubahan dan angin baru di dunia pendidikan tanpa kecurigaan dan apatisme.

Ah, usia.

Usia yang bertambah memang bisa menunjukkan kematangan dan kebijaksanaan. Tapi, usia yang bertambah juga bisa mengikis idealism, mematikan antusiasme, dan menghilangkan kreatifitas. Ah, akankah hal itu terjadi pada saya, pada Chaerul, dan banyak guru lainnya? Akankah?

Setelah membaca bagian ini, tiba-tiba saja saya teringat pada diri sendiri. Walaupun saya tidak pernah merasa ‘tua’ (aih…gejala tidak tau diri kah ini..? ‘Ntahlah… he he he), tetapi setidaknya saya lebih tua dari penulis buku ini. Berdasarkan apa yang mereka paparkan, kok saya merasa mereka lebih bijaksana dari saya. Apakah saya termasuk orang yang merugi (Q.S Al-‘Ashr) ? Ya Robb, jangan biarkan aku menjadi hambaMu yang merugi.

Pada halaman 163 penulis juga mengajak guru untuk berlapang dada jika apa yang sudah diupayakannya tidak bersambut dengan baik. Untuk kasus ini penulis mengangkat kejadian-kejadian sederhana yang sering kali muncul di kelas dan sesering itu juga menjadi akar ‘konflik’ antara guru dan murid hanya karena guru tidak mampu berlapang dada. Topik ini sangat menarik, karena saya sendiri terkadang terlibat dalam ‘konflik’ tersebut. Misalnya saja ketika guru mengajar ada siswa yang keluar kelas dan makan di kantin. Tidak hadir dengan alasan yang tidak layak, seperti membantu orang tua menyuci. Kejadian-kejadian ini menunjukkan betapa guru tidak mampu ‘bersaing’ dengan ‘keadaan-keadaan’ seperti itu.
Untuk kasus ini saya jadi teringat dengan soal ujian semester ganjil kemarin. Untuk menguji kompetensi siswa dalam mengeluarkan pendapat saya membuat soal dengan redaksi:

What do you think of your school ?

Ketika mengoreksi lembar jawaban, salah seorang siswa saya menjawab begini:

Bad. If rain banjir. Sorry my teacher but it is my opinion.

Waktu itu saya tertawa sendiri membacanya (saat mengetik kalimat ini pun saya senyam-senyum). Inggris-nya itu lo. Perasaan tidak pernah mengajarkan struktur kalimat seperti itu, tetapi itulah ‘struktur kejujuran’. Ha ha ha… dan saya harus berlapang dada. Saya beri anak ini nilai sempurna untuk poin soal tersebut.

Yang paling menarik dari buku ini adalah penulis memberikan ulasan psikologi dalam menghadapi kasus-kasus yang disajikan. Jadi benar-benar menambah wawasan pedagogik seorang guru dalam menghadapi dinamika di lingkungan sekolah. Sangat bermanfaat bagi guru BP.

Hanya saja karena buku ini diangkat dari kisah nyata yang dialami penulisnya, walaupun dibarengi dengan tinjauan psikologis, tetapi tidak menyajikan bagaimana ‘hasil terapi’ yang telah mereka lakukan pada berbagai ‘kejadian-kejadian unik’ yang mereka alami itu. Sehingga terkesan ‘kedahsyatan’ kajian psikologis tersebut baru sebatas level ‘teoritis’ belum menyentuh level ‘praktis’. Bisa jadi saya yang keliru menafsirkan, karena setelah membaca buku ini, hati kecil saya berteriak…. I’M A BAD TEACHER…!

Namun secara keseluruhan, seperti yang saya nyatakan di bagian awal tulisan ini, La Tahzan for Teacher merupakan salah satu buku ‘bergizi’ yang perlu dibaca oleh tenaga pendidik dan orang tua. Salam hormat buat kedua penulis buku ini. Tenaga Pendidik muda tetapi memiliki aura ‘pencerah’.
Selengkapnya...

4 Juli 2010

Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas - Andrea Hirata (Part Two)



Cinta di Dalam Gelas

“Perempuan itu tidak ada habis-habisnya untuk ditulis”. Demikian kata Andrea Hirata pada sebuah acara talk show di TV-ONE bulan lalu. Cinta di Dalam Gelas buku kedua Dwilogi Padang Bulan ‘pyur’ menceritakan derasnya arus perjalanan hidup perempuan-perempuan tangguh, diantaranya adalah Enong, sebagai tokoh sentral dalam novel ini. Merupakan kelanjutan kisah Enong di Padang Bulan. Enong yang tidak tamat SD tetapi memiliki semangat belajar luar biasa, sekalipun badai kehidupan terus menerus menerpa. Ia adalah Guru Kesedihan bagi Ikal.

“Habis air mataku, lunas sudah kesedihan itu. Hidup harus berlanjut. Tantangan ada di muka. Masih banyak yang dapat disyukuri.”

“Berikan aku pelajaran yang paling sulit sekalipun, Boi. Aku akan belajar.”

(Cinta di Dalam Gelas. Hlm. 102)

Bagi anda yang telah membaca buku terakhir Tetralogi Laskar Pelangi, yaitu Maryamah Karpov, anda akan menemukan jawaban siapa sebenarnya Maryamah Karpov dalam buku ini. Enong sang pemilik nama lengkap Maryamah binti Zamzami, ya dialah sang Maryamah Karpov tersebut. Bagaimana pula hingga bisa mendapat julukan Karpov ? Apakah masih ada hubungan kekerabatan dengan Anatoly Karpov, grand master catur dunia itu ? Lalu apa hubungannya dengan falsafah Cinta di Dalam Gelas? Semua dituntaskan Andrea Hirata dalam buku ini, tentu saja dengan bahasa analogi dan humornya yang sungguh ‘berkelas’.


Sebagai seorang ‘Cultural Novelist’, Andrea Hirata memulai novel ini dengan tetap mengulas dan menganalisa tekstur masyarakat dan budaya melayu. Sebagai pengamat dan peneliti budaya melayu, Andrea menguraikan betapa orang melayu tidak dapat terlepas dari kebiasaan minum kopi. Bahkan bagi keluarga Zamzami, ayah Enong, minum kopi bukan hanya sebuah kebiasaan biasa, melainkan merupakan media untuk menunjukkan rasa cinta kasih antara ayah dan ibunya.

“Jika kuseduh kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku.”

Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas. Dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.

(Cinta di Dalam Gelas. Hlm. 11)

Kebiasaan unik masyarakat melayu dalam hal minum kopi membuat mereka tidak terlepas dari dua hal. Yaitu warung kopi dan catur. Disinilah Andrea Hirata menunjukkan ‘kelas’-nya sebagai seorang pembelajar yang mumpuni. Warung kopi yang mungkin bagi sebagian orang dianggap bukanlah tempat yang eksklusif, namun justru menjadi laboratorium psikologi dan sosiologi bagi Ikal. Seorang lelaki muda yang telah menamatkan studi Master of Science di Universite de Paris, Sorbone, Prancis, yang masih menganggur lalu harus magang di warung kopi pamannya karena termotivasi kata-kata ibunya:

“Lelaki muda, sehat wal’afiat, terang pikiran, dan punya ijazah, tidak bekerja ? Sepatutnya disiram dengan kopi panas!”

(Cinta di Dalam Gelas. Hlm. 4)

Bukan Ikal namanya jika tidak mengambil pembelajaran dalam setiap jengkal hidupnya. Begitu juga ketika ia magang di warung kopi pamannya. Seperti yang dikisahkan dalam buku ini pada halaman 37:

Semakin dalam aku berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib temuan-temuanku. Hal semacam ini tentu tak kutemukan jika aku bekerja di sebuah kantor di Jakarta seperti rencanaku dulu. Kopi bagi orang Melayu rupanya tak sekadar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan. Segelas kopi bak dua belas teguk kisah hidup. Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih pelan-pelan menguapkan rahasia nasib. Paling tidak 250 gelas kopi kuhidangkan saban hari untuk para pelanggan tetap warung kami. Setelah sebulan, aku hafal takaran gula, kopi, dan susu untuk setiap orang, dan aku tahu semua kisah.

(Cinta di Dalam Gelas. Hlm. 37)

Dari hasil research-nya di warung kopi, Ikal mengidentifikasi karakter manusia dalam sosok sebagai player (Orang yang tahan banting dalam menghadapi cobaan hidup, jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi) yaitu orang yang suka dengan kopi pahit. Sosok safety player (Pegawai kantoran yang bekerja rutin dan berirama hidup itu-itu saja. Mereka tak lain pria ‘do-re—mi’, dan mereka telah kawin dengan seseorang yang bernama ‘bosan’. Anti perubahan, melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyenyak di dalam zona yang nyaman) yaitu orang yang menyukai takaran gula, kopi, dan susu secara proporsional. Sosok semi-player (Orang-orang yang ahli dibidangnya. Mereka bertangan dingin dan penuh perhitungan. Mereka bukan tipe pegang-lepaskan-pegang-lepaskan. Mereka adalah tipe pegang-cengkeram-telan. Namun kadangkalan mereka adalah pecinta yang romantis) yaitu orang yang menyukai takaran kopi hingga 4 sendok ditambah gula setengah sendok saja, ini termasuk kental. Ada juga sosok ex-player. Seperti apa karakter sosok ini ? Silahkan baca bukunya. He he he…!

Cinta di Dalam Gelas sarat dengan falsah hidup dengan pengantar yang sederhana. Pengantar yang dalam kehidupan sehari-hari mungkin luput dari kebermaknaan kita. Misalnya saja tentang kopi di dalam gelas dan catur. Enong atau Maryamah yang kenyang dengan perjuangan hidup yang keras sejak kecil, dan ia juga sebagai wanita pendulang timah pertama di Belitong. Ia menjadi pendulang sejak umur 14 tahun (baca Padang Bulan). Kisah cintanya tidaklah berjalan semulus adik-adiknya. Demi memperjuangkan hidup adik-adiknya Maryamah menunda berumah tangga. Satu-persatu adiknya menikah. Ia ikhlas dilangkahi adik-adiknya. Hingga suatu hari demi meredam kegundahan ibunya, Maryamah menerima lamaran Matarom. Tapi sayang Matarom bukanlah lelaki yang bertanggung jawab. Akhirnya Maryamah memilih pisah dari Matarom. Namun disisi lain ia ingin ‘menaklukkan’ Matarom. Hingga muncul pemikiran ‘gila’, Maryamah ‘menantang’ Matarom tanding catur pada perayaan 17 Agustus. Selain itu dengan ikut lomba catur, berarti Maryamah bersiap-siap mendobrak budaya di kampung melayu Belitong yang tidak mengizinkan perempuan ikut bertanding catur. Karena dalam pertandingan catur sesama pemain akan beradu pandang dalam waktu yang tidak sebentar, dan jika lelaki dan perempuan melakukan ini, berarti melanggar syariat. Selain itu semua orang juga tahu bahwa Matarom adalah pemenang catur setiap lomba 17-an. Maryamah yang tidak pernah kenal permainan catur berusaha keras mempelajari permainan ini. Dengan bantuan Ninochka Stronovsky seorang grandmaster internasional perempuan, teman Ikal ketika kuliah di Prancis dulu, mulailah Maryamah berlatih catur. Juga dibantu Selamot, perempuan yang selalu dikalahkan nasib, yang kemudian didaulat sebagai manager Maryamah. Sungguh tidak ada kamus ‘menyerah’ dalam belajar bagi Maryamah.

Pertemuan dengan Maryamah hari ini meletupkan semangatku. Aku telah melihatnya belajar bahasa Inggris dengan susah payah, tanpa merasa ragu akan usia dan segala keterbatasan, dan dia berhasil. Sekarang, ia siap berjibaku menguasai catur, dengan tekad mengalahkan seorang kampiun seperti Matarom. Ia tak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.

(Cinta di Dalam Gelas, hlm. 103)

Wawasan penulis yang luas tentang catur ditambah dengan keintelektualannya dalam menyikapi hidup mengantar buku ini dalam deskripsi-deskripsi yang menarik. Falsah hidup yang menggigit. Seperti kutipan berikut ini:

Lalu, aku terpana mendapati dunia yang baru kukenal: catur. Telah kulihat bagaimana para pecatur menjadi jenderal, menjadi ahli strategi, raja-diraja, budak, atau terpaksa mengambil keputusan tanpa pilihan. Tak ada permainan lain seperti catur yang kemenangan dan kekalahannya dapat ditawar. Tak ada permainan lain yang dengan secangkir kopi tampak seperti bertunangan. Spirit catur melanda kaum ningrat hingga jelata, hitam dan putih sama saja. Catur kadangkala mirip persamaan matematika. Ada semacam konstanta a, yakni nilai pertandingan. Konstanta itu agaknya adalah pengetahuan tentang kemampuan lawan. Catur tak sekadar permainan raja palsu dan tentara-tentara yang terbuat dari kayu, namun mengandung perlambang kekuasaan dan alat untuk menghina.

(Cinta di Dalam Gelas, hlm. 248)

Kadang kala kulihat buah catur sebagai orang yang tersandera, politisi, seniman, komedian, dan spekulan. Di atas papan persegi empat itu telah kusaksikan orang mempertaruhkan martabat dan membakar kesumat. Bagi orang-orang tertentu, Maryamah dan Selamot misalnya, yang selama hidupnya selalu kalah, papan catur bak pusat putaran nasib. Di papan catur Selamot berjumpa lagi dengan Tarub dan Maryamah bertemu lagi dengan Maksum, Go Kim Pho, Overste Djemalam, dan Matarom, orang-orang yang dengan kebaikan dan keburukannya telah membentuk ia seperti adanya. Di papan catur itu Selamot dan Maryamah mendapati kerinduan menemukan penawarnya, utang budi menemukan terimakasihnya, ketidakadilan menemukan timbangannya, dan kedua perempuan yang selalu kalah itu menemukan kemenangan demi kemenangan.

(Cinta di Dalam Gelas, hlm. 249)

Akhirnya Maryamah dapat mewujudkan impiannya. Namun dalam upaya mewujudkan impian itu, ia tidak bergerak sendiri. Solidaritas yang tinggi, itulah proses keberhasilannya. Dibalik kemenangan Maryamah ada seorang grand master internasional perempuan sebagai arsitek caturnya,yaitu Ninochka Stronovsky. Dibantu dengan teknologi informasi-internet, sosiologi, referensi Buku Besar Peminum Kopi, yang semua ini dikelola Ikal, Ilmu Statistik Lintang, kerja keras seorang spionase Detektif M. Nur bersama Jose Rizal, Preman Cebol dengan burung merpatinya yang cerdik, serta lelaki norak yang mampu bersepeda 70 kilometer per jam alias Kapten Chip. Ternyata serumit apapun sebuah tujuan jika diselesaikan bersama-sama dapat terwujud juga.

Dalam upaya Maryamah menaklukan Matarom, ada satu pelajaran moral yang sangat berkesan dalam buku ini. Saya kutip pada halaman 250:

Melalui Maryamah, aku belajar menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negatif tentang orang lain. Lalu aku berpikir, seumpama catur, hidup sedikit banyak seperti reaksi atas pilihan sulit yang silih berganti mem-fait accompli manusia, dan rupanya alasan selalu lebih mudah dilupakan ketimbang akibat.

Dwilogi Padang Bulan – Cinta di Dalam Gelas tidak hanya membuat kita hanyut dalam untaian Mozaik yang satu ke Mozaik berikutnya, namun novel ini menghanyutkan pola pikir kita untuk lebih cerdas dalam menyikapi hidup.

Lantas bagaimana Maryamah bisa mendapat gelar Karpov, sehingga ia dijuluki Maryamah Karpov? Hmm…untuk yang satu ini, baca saja bukunya ya….! Ha ha ha..!!
Selengkapnya...

28 Juni 2010

Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas - Andrea Hirata (Part One)



Padang Bulan

Tetralogi Laskar Pelangi karya Andea Hirata, yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov telah dibaca oleh jutaan orang di negri ini, bahkan telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (sekarang juga sedang dipersiapkan dalam bahasa Jerman). Selain itu dua diantaranya telah naik ke layar lebar, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Tetralogi Laskar Pelangi bukanlah novel biasa. Novel ini juga telah dipergunakan sebagai referensi tesis dan tulisan ilmiah lainnya. Sehingga tidaklah mengherankan jika Tetralogi Laskar Pelangi mampu go international. Setelah sukses dengan Tetralogi Laskar Pelangi, kini Andrea Hirata kembali menggebrak khasanah sastra kita dengan Dwilogi Padang Bulan-nya. Dwilogi Padang Bulan, yaitu dua karya yang terdiri dari Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, dengan Padang Bulan sebagai urutan pertamanya. Dua novel dalam satu buku yang saling berhimpitan secara terbalik. Sehingga membuat novel ini menjadi 500-an halaman. Akankah novel ini mampu mengulang kesuksesan yang sama ?


Yang pasti Dwilogi Padang Bulan semakin menguatkan eksistensi serta kapasitas seorang Andrea Hirata sebagai Cultural Novelist, sebagai periset sosial dan budaya. Watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat unik sebuah komunitas, parody, dan cinta, ditulis dengan cara membuka pintu-pintu baru bagi pembaca untuk melihat budaya, melihat diri sendiri, dan memahami cinta, hubungan keluarga, dan religi dengan cara yang tak biasa. Ya…tak biasa. Karena Andrea Hirata bukanlah novelist biasa. Sungguh…tak biasa…! Sebagaimana cinta Ikal pada A Ling yang bukan cinta biasa…!

Pada novel pertama, yaitu Padang Bulan dibuka dengan mengisahkan tentang perjuangan seorang anak manusia yang bernama Enong. Enong yang begitu gigih mewujudkan keinginannya untuk belajar bahasa Inggris. Demi sebuah obsesi untuk menjadi “guru dari sebuah bahasa yang asing dari Barat”. Begitu Andrea Hirata mengungkapkannya dalam novel ini. Sebuah gaya bahasa yang menunjukkan kedalaman intelektualitas dan humor yang…lagi-lagi tak biasa.

Namun Enong harus berhadapan dengan pusaran nasib yang menggiringnya menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya meninggal ketika ia masih bocah. Sugesti dari sang ayah sebelum meninggal berupa “Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata” menjadi spirit yang tak pernah mematikan semangatnya. Walaupun badai kehidupan terus menerpa, tetapi semangat Enong untuk menjadi “guru dari sebuah bahasa yang asing dari Barat” tak pernah padam. Semangat Enong ini telah menjadi spirit bagi Ikal dalam meraih cinta A Ling yang harus kandas sesaat karena tiada restu dari lelaki yang tak banyak bicara, lelaki juara satu sedunia, itulah ayahnya.

Selain kisah Enong, Andrea juga memoles Padang Bulan dengan kisah cintanya pada A Ling. Tentu saja sebagai kelanjutan Tetralogi Laskar Pelangi. Karena pada Maryamah Karpov sangat jelas tergambar betapa novel ini belum usai. Jika pada Laskar Pelangi Ikal mulai mengenal cinta, maka pada Padang Bulan Ikal mulai mengenal cemburu. Cemburunya pada Zinar yang dipicu hanya karena informasi keliru dari sang detektif kampung nan kontet, Detektif M. Nuh yang berpartner dengan Jose Rizal (nama merpati pos-nya). Jose Rizal telah menjadi media komunikasi antara Ikal dan Detektif M. Nuh yang akan membuat pembaca tak dapat mengendalikan diri untuk tidak tertawa tebahak-bahak. Bahkan bisa dianggap orang sinting jika membaca buku ini di tempat sepi. Belum lagi teori-teori ‘penyakit gila-nya. Hi hi hi…!

Banyak novelist mengapresiasikan ‘Cemburu’ dengan bahasa metafora yang itu-itu saja. Tetapi hal ini tidak dilakukan Andrea. Salah satu hal yang membuat saya pertama kali ‘jatuh cinta’ dengan karya Andrea adalah gaya bahasa ilmiahnya yang begitu sarat. Bahasa yang menunjukkan intelektual religius yang tinggi dari seorang penulis. Berikut adalah bagaimana Andrea Hirata menganalogikan kata ‘Cemburu’:

“Cemburu adalah perahu Nabi Nuh yang tergenang di dalam hati yang karam. Lalu, naiklah ke geladak perahu itu, binatang yang berpasang-pasangan yakni perasaan tak berdaya-ingin mengalahkan, rencana-rencana jahat-penyesalan, kesedihan-gengsi, kemarahan-keputusasaan, dan ketidakadilan-mengasihani diri.”

“Cemburu, adalah salah satu perasaan yang paling aneh yang pernah diciptakan Tuhan untuk manusia”

“Lalu, sisa malam yang tak kunjung khatam itu, kulewatkan dengan satu bentuk siksaan lain, yaitu membenci Zinar dan A Ling, namun sekaligus pula menghormati kelebihan lelaki itu dan merindukan perempuan itu. Ah, repot sekali. Dalam keadaan itu, jika aku sempat tertidur, datanglah mimpi-mimpi. Ternyata, mimpi dalam bayang-bayang cemburu amat janggal dan canggih.”

(Padang Bulan, hlm. 127)

Sungguh sebuah ungkapan ‘cemburu’ dengan bahasa kedewasaan tingkat tinggi, yang membuat pembaca jadi tersenyum dan tetap semangat dalam menghadapi hidup. Padang Bulan memang sangat cocok dibaca oleh mereka-mereka yang sedang dilanda cemburu. Bagaimana menyikapi rasa cemburu dengan arif. Supaya cemburunya dapat terkendali, tidak bablas menjadi cemburu buta. Ha ha ha..!

Sebagaimana novel-novel-nya yang lalu, Padang Bulan juga dikemas dalam Mozaik-mozaik yang menggelitik. Namun ada sedikit perbedaan dengan Tetralogi Laskar Pelangi. Jika pada Tetralogi Laskar Pelangi setiap Mozaik dalam kemasan yang cukup panjang, maka pada Padang Bulan dikemas dengan Mozaik yang lebih singkat, namun ‘pesan’ penulis tetap sarat makna.

Salah satunya adalah pada Mozaik 16; Waktu Yang Hakikat:

Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun, di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan. Bagi para politisi dan olahragawan, waktu adalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.

Para seniman kadang kala melihat waktu sebagai angin, hantu, bahan kimia, seorang putri, payung, seuntai tasbih, atau sebuah rezim. Salvador Dali telah melihat waktu dapat meleleh. Bagi para ilmuwan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparkan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur. Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil-panggil, tak datang-datang.

Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan disogok. Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Karena teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu mencekik.

(Padang Bulan, hlm. 83-84)

Keindahan kisah, kedalaman intelektualitas, humor dan histeria kadang-kadang, serta kehati-hatian sekaligus kesembronoan yang disengaja telah menjadi ciri gaya penulisan Andrea Hirata. Kemampuannya bereksperimen dalam bentuk ide tulisan yang kuat serta kemampuan menyeimbangkan mutu dan penerimaan yang luas dari masyarakat adalah daya tarik sekaligus misteri terbesar Andrea Hirata. Sehingga walaupun pada Padang Bulan terurai kisah cinta Ikal dan A Ling, namun kita tidak perlu khawatir jika buku ini dalam genggaman bocah-bocah usia 7 – 13 tahun. Mungkin inilah stu-satunya novel cinta edukatif yang tidak akan kita temukan kalimat-kalimat bernuansa ‘vulgar’ di dalamnya. Kenapa…? Karena ini bukan novel cinta biasa. Novel ini ditulis oleh seorang penulis yang memiliki cinta yang tak biasa…! Gak percaya..?? Baca aja deh bukunya, setelah itu kita bisa diskusi di kotak komentar. OK…??
Selengkapnya...

11 April 2010

Menjelajah Pembelajaran Inovatif



Menjelajah Pembelajaran Inovatif merupakan salah satu buku yang tepat untuk dijadikan referensi bagi teman-teman yang sedang menyusun skripsi dengan topik Pembelajaran Kooperatif. Buku ini ditulis oleh Dr. Suyatno, M.Pd. Diterbitkan oleh Masmedia Buana Pustaka pada Oktober 2009 sebagai cetakan pertama.

Dalam buku ini diulas seputar paradigma baru pendidikan yang meliputi :

1. Pembelajaran Inovatif
2. Cara Kreatif Memilih Metode Pembelajaran
3. Aneka Metode Pembelajaran Inovatif
Terdiri dari:
a. Metode Quantum
b. Metode Partisipator
c. Metode Kolaboratif
d. Metode Kooperatif
e. Sadapan Ringkas
f. Aneka Model Pembelajaran Inovatif
4. Contoh RPP

Satu hal yang menarik pada buku ini ialah setiap awal bab diberikan intro sebuah kisah inspiratif, yang membuat kita jadi merenung sebelum menyimak setiap kalimat di buku ini. Misalnya kisah berikut ini yang terdapat pada halaman 38 mengawali Bab III dengan judul Minum Kelapa Muda.

“Nak, minumlah kelapa muda itu”, ajak Mbok Siti sambil menunjuk ke depan tempat dudukku. Rupanya, hari itu Mbok Siti telah menyiapkan kelapa muda untuk suguhan kami.

“Iya, Mbok”, jawabku sambil mengangkat kelapa muda segar yang sudah dibuka porosnya sehingga mudah diseruput.
“Segar kelapa muda ini, Mbok”, komentarku basa-basi.
“Setiap kelapa muda pasti segar karena berada di tengah pertumbuhan menjadi tua”, kata Mbok Siti.

Kesegaran itu dapat diraih setelah kita membuka sabut kelapa dan mengupas batok kayunya. Usaha mengupas itu memerlukan waktu, usaha, dan tenaga yang terjalin dalam sebuah proses. Karena mengupasnya penuh rencana, inti kelapa muda itu dapat diraih.
Begitu pula seorang guru, untuk mendapatkan hasil yang menyegarkan bagi kita, perlu upaya dalam memproses siswanya melalui usaha, waktu, dan tenaga pula.

“Kadang, banyak guru yang tidak ada waktu dalam memproses siswa”, kata Mbok. Hasilnya, siswa tidak menunjukkan perubahan.

Begitu pula, ada guru yang mempunyai waktu tetapi tidak bertenaga, hasilnya sama saja mengecewakan kita. Lalu, ada guru yang punya waktu dan tenaga, tetapi tidak punya usaha, hasilnya juga tidak maksimal.

“Jadi, guru juga harus mempunyai waktu, usaha, dan tenaga dalam berproses”, kata Mbok pelan sambil mengangkat kelapa muda untuk diminumnya.

Sungguh sebuah kisah sederhana, tetapi mengandung wise words yang bermakna dalam temans. Secara pribadi mengakui belum mencapai taraf guru seperti yang dimaksud pada kalimat-kalimat bijak di atas. Tetapi seiring waktu akan tetap berusaha berproses mencapai taraf tersebut. Insya Allah..!
Selengkapnya...

22 Maret 2010

What the Dog Saw



What the dog saw merupakan hasil karya Malcolm Gladwell setelah The Tipping Point, Blink dan Outliers. Ketiga buku tersebut menjadi best seller. What the dog saw judul yang unik. Apa yang dilihat anjing.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan terbaik Malcolm Gladwell yang dimuat di The New Yorker. What the dog saw mengajak kita untuk melihat suatu masalah bukan hanya dari mata dan kepala kita sendiri, melainkan juga dari mata dan kepala orang lain. Inilah yang dimaksud Malcolm Gladwell dengan other minds (akalbudi lain). Sungguh buku ini full of inspiring.

“Keingintahuan mengenai apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain adalah salah satu dorongan paling mendasar pada manusia, dan dorongan itulah yang menyebabkan ditulisnya buku yang sekarang Anda pegang.” Demikian ungkapan Malcolm Gladwell pada kata pengantar bukunya.

What the dog saw merupakan clue yang dilemparkan Malcolm Gladwell untuk membuat semua orang ‘melirik’ bukunya. Beliau memang paling piawai dalam hal ini. Seperti yang diungkapkannya masih pada kata pengantar seperti berikut ini:

Kuncinya menemukan gagasan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita. Saya bilang kunci tapi yang saya maksud adalah tantangan, karena amat sulit melakukannya. Bagaimanapun, naluri kita sebagai manusia adalah menganggap sebagian besar hal tidak menarik. Kita gonta-ganti saluran televisi dan menolak sepuluh sebelum menonton satu. Kita pergi ke toko buku dan melihat dua puluh novel sebelum memilih satu yang kita mau. Kita menyaring dan menyusun peringkat dan menilai. Kita harus melakukan itu semua. Ada banyak hal di luar sana. Tapi jika mau jadi penulis, Anda harus melawan naluri itu saban hari. Sampo tidak menarik? Sebodo amat, pokoknya sampo itu harus menarik, dan kalau tidak, saya harus percaya bahwa ujung-ujungnya sampo akan membawa saya ke sesuatu yang memang menarik. (Saya biarkan Anda menilai benar tidaknya saya dalam contoh itu)

Menurut penulisnya sendiri, buku ini terbagi menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah mengenai orang-orang yang terobsesi atau “obsesif” (obsessives). Orang-orang dalam kategori ini disebutnya sebagai Genius Minor. Bukan seperti Einstein, Winston Chuschill, Nelson Mandela, atau tokoh besar arsitek dunia. (Para obsesif, Perintis, dan Macam-macam Genius Minor Lainnya).

Sedangkan kategori kedua (Teori, Prediksi, dan Diagnosis) membahas teori, cara-cara menata pengalaman. Bagaimana sebaiknya kita berpikir tentang tunawisma atau skandal keuangan, atau kecelakaan seperti jatuhnya pesawat antariksa Chalengger? Khusus pada bagian ini kita akan menemukan wise words yang tidak biasa, yang membuat saya jadi tersenyum bahkan terkadang tertawa sendiri (Entah kenapa terkadang saya cenderung begitu jika membaca buku yang menurut sebahagian orang termasuk buku ‘berat’. Secara pribadi saya membaca buku karena tertarik, bukan karena mempersoalkan kategori ‘berat’ dan ‘ringan’. Suatu kategori yang tidak memiliki indikator yang valid. Menurur saya lo…!). Misalnya saja begini:

“Sebanyak apapun pengamatan atas angsa putih tak memperkenankan pengambilan kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih, tapi ditemukannya satu angsa hitam sudah cukup untuk membatalkan kesimpulan tersebut.” (hal. 65)

“Mengapa mengaku belajar dari pengalaman, kalau percaya bahwa pengalaman tak bisa dipercaya?” (hal. 68)

Kemudian pada bagian ketiga (Kepribadian, Sifat, dan Kecerdasan) menelusuri perkiraan-perkiraan yang kita buat mengenai orang. Bagaimana cara kita tahu seseorang jahat, atau pintar, atau sangat jago melakukan sesuatu? Seperti akan Anda lihat, saya meragukan ketepatan kita dalam membuat penilaian seperti itu. Demikian tutur sang penulis.

Jelasnya dalam buku ini, kita akan menemukan berbagai kisah ataupun petualangan yang mengharu biru dan penuh dinamika. Antara lain bagaimana kreasi menakjubkan pionir saus pasta Howard Moskowitz. Raja dapur Amerika Ron Popeil yang menjual oven rotisserie-nya sembari ngobrol dengan Gladwell. Juga mengungkapkan rahasia Cesar Millan, sang pawang anjing, yang dapat menenangkan anjing galak dengan sentuhan tangannya. Ketika Millan melakukan keahliannya, apa yang ada di dalam kepala si anjing? Itulah yang benar-benar ingin diketahui – apa yang dilihat anjing…. What the dog saw…!

Masih banyak kisah-kisah petualangan lainnya yang ‘menggelitik’.

“Tulisan yang bagus dinilai berhasil bukan dari kekuatannya untuk meyakinkan. Tulisan yang yang baik dinilai berhasil jika tulisan tersebut mampu membuat Anda terlibat, berpikir, member Anda kilasan pikiran seseorang.” Demikian menurut seorang Malcolm Gladwell.
Selengkapnya...

23 Desember 2009

Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif



Nama Buku : Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif.
Penulis : Trianto, M.Pd
Cetakan Pertama : Agustus 2009
Penerbit : Kencana Predana Media Group
Jumlah halaman : 371 halaman

Perubahan paradigma dunia pendidikan menuntut guru selaku agen pembelajaran untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Melepaskan diri dari teacher center menuju student center. Bukan pekerjaan yang mudah memang, tetapi bukan pula hal yang mustahil untuk diaplikasikan. Selagi semangat belajar tidak pernah padam.

Buku yang satu ini, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif dapat menjadi teman yang baik buat para pendidik yang mencintai perubahan.

Hal-hal menarik yang dibahas dalam buku ini antara lain:

1. Pemikiran Belajar Melalui Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.
2. Model Pembelajaran dan Teori Belajar Yang Mendukungnya.
3. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
4. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
5. Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
6. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
7. Pembelajaran Model Diskusi Kelas.
8. 8 Strategi-strategi Belajar (Learning Strategies)
9. 9 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Progresif.
10. 10 Penyusunan Perangkat dan Instrumen Pembelajaran Inovatif-Progresif.
11. Implikasi Model Pembelajaran Inovatif Progresif.
12. Assessment dan Sistem Penilaian Porto Folio Model Pembelajaran Inovatif Progressif

Dalam buku ini kita juga belajar bagaimana mendesain model pembelajaran inovatif dan progresif dalam suatu proses pembelajaran. Juga menguraikan secara jelas bagaimanakah model pembelajaran yang inovatif, progresif dan konstruktif dari kerangka konseptual (teoritis) hingga kontekstual (praktis). Sehingga dapat memandu kita sekaligus mengaplikasikan dalam proses pembelajaran.

Buku ini sangat sesuai untuk guru yang sedang melanjutkan studi di S1, S2 maupun S3 selagi masih berorientasi pada dunia pendidikan.
Kepada sahabat blogger Jayadi Gusti dan Asep Bogor, semua pertanyaan anda pada artikel saya yang berjudul Cooperative Learning, Insya Allah akan terjawab setelah membaca buku ini. He he he…. Terimakasih untuk semua respond-nya teman.
Selengkapnya...

7 Desember 2009

Brain-Based Teaching



Nama Buku : Brain-Based Teaching:
Merancang Kegiatan Belajar-Mengajar yang Melibatkan Otak Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetis, dan Reflektif.
Diterjemahkan Dari : Teaching to the Brain’s Natural Learning Systems.
Penulis : Barbara K. Given
Penerjemah : Lala Herawati Dharma
Pengantar : dr. Taufiq Pasiak, M.Pd.I, M.Kes
(Penulis bestseller Brain Management for self Improvement
Penerbit : Penerbit Kaifa

Banyak buku yang membahas tentang otak. Pada umumnya buku-buku terebut membahas otak dalam kaitannya dengan meditasi dan refleksi. Tetapi buku yang satu ini, rada lain. Buku ini membahas bagaimana otak bekerja dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya otak kiri (kognitif) tetapi juga peranan otak kanan (intertaint/imajinasi).

Barbara K. Given sang penulis menguraikan bahwa adanya system pembelajaran alamiah otak yang melibatkan 5 komponen penting ketika otak belajar. 5 Komponen tersebut adalah:
1. Otak emosional yang dapat membangkitkan hasrat belajar.
2. Otak sosial yang berperan membangun visi untuk melihat apa yang mungkin.
3. Otak kognitif yang menumbuhkan niat untuk mengembangkan pengetahuan dan kecakapan.
4. Otak kinestetis/taktil yang mendorong tindakan untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan, dan
5. Otak reflektif, kemampuan berfikir tingkat tinggi yang akan membuahkan wisdom, yang membuat seorang pembelajar mampu dan mau bertafakur.
Selain itu buku ini juga menyajikan tips-tips jitu yang membuat kita jadi merenung dan introspeksi diri terhadap kinerja kerja kita selaku pendidik dihari-hari yang lalu. Sehingga terkadang introspeksi itu mengantarkan kita kepada suatu pemikiran betapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan pada anak didik. (Terutama hal ini terjadi pada diri saya sendiri).
Tips-tips tersebut disajikan secara menarik seperti memo, sehingga membuat mata selalu ingin meneruskan bacaan dari halaman yang satu ke halaman berikutnya. Sekalipun buku ini terdiri dari 420 halaman.
Salah satu tips dari buku ini yang sangat berkesan bagi saya adalah:

Jika guru mengembangkan rencana pelajaran dan berinteraksi
Dengan siswa secara sadar – dan setiap hari – dengan memperhatikan
Sistem pembelajaran otak atau teater pikiran, maka sekolah
Bisa menjadi tempat yang didatangi siswa
Dengan penuh antusias.

Sepertinya saya masih perlu belajar 1000 tahun lagi untuk mengaplikasikan hal ini.
Selengkapnya...

5 Juli 2009

Benarkah Mudah Menjadi Profesional?



Semua orang tentu ingin menjadi professional terhadap profesi yang di embannya. Apalagi di era global yang segala sesuatu menjurus kepada arena yang serba digital. Begitu juga dengan profesi tenaga pendidik atau yang familiar di sebut dengan guru. Menjadi guru yang professional tidaklah gampang. Begitu pemikiran saya yang awam ini. Membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Maka ketika saya menemukan buku yang berjudul CARA MUDAH MENGEMBANGKAN PROFESI GURU, saya senyum-senyum sendiri. Tau kenapa? Ya merasa diledek aja. He he he…. Seperti biasa setiap menemukan buku baru saya selalu lihat daftar isi. Hmmm…..asyik juga content-nya, teman. Ini saya share sedikit bocorannya.

Buku ini berjudul CARA MUDAH MENGEMBANGKAN PROFESI GURU. Tentu saja yang dimaksud adalah mengembangkan profesi guru menjadi guru yang professional. Penulisnya adalah Drs. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Sc dan Dra. Ida Ayu Sayogyani serta editor Didik Komaidi, S.Ag., M.Pd. Terdiri dari 252 halaman dan cetakan pertama pada bulan Mei 2009. Harga tidak begitu mahal. Hanya Rp 38.000,- Ya setidaknya murahlah daripada susun plus cetak sendiri. He he he. Belum lagi ditinjau dari segi manfaat. Pokoke mantaplah…!

Dalam buku ini dibahas tentang bagaimana seorang guru harus mengembangkan profesinya degan cara :

1. Memaham Profesi.

2. Meningkatkan Kompetensi

3. Meningkatkan Kenaikan Pangkat/Golongan (ini bagi guru PNS, lantas yang non-PNS bagaimana? He he he…gak usah dipikirin. Toh guru non PNS yang telah lulus sertifikasi mendapat jumlah tunjangan profesi yang sama dengan guru PNS, sesuai dengan jenjang inpassing masing-masing. So Pake jargon Depag aja…. Ikhlas Beramal. Dijamin gak pernah merasa rugi… dunia akhirat. Cieee…..)

4. Menulis Karya Ilmiah seperti Makalah, Penelitian (PTK), Laporan Penelitian, Artikel Ilmiah Populer, dll.

Nah cucok bangetkan dibaca oleh guru-guru yang belum pernah menulis KTI dan ber-PTK seperti saya. He he he… Memang bagi rekan-rekan yang sering searching di google info ini mudah di dapat. Tapi saya menemukan ada hal-hal lain yang lebih special dari pada googling. Pemaparan di buku ini cukup sistematis walaupun dijabarkan semua topic di atas hanya dalam 252 halaman. Yang pasti singkat, tepat, padat dan langsung ke point sasaran.

Tidak salah kiranya pada cover depan tertulis BUKU WAJIB GURU. Emang layak sih untuk dibaca bukan hanya oleh guru, tetapi juga untuk calon guru dan peminat keguruan.

Satu hal yang menarik pada buku ini. Pada halaman 32 terdapat pesan moral yang cukup nendang. Begini bunyinya:

“Bagaimana pun luasnya wawasan dan ketrampilan yang dipersyaratkan di atas, tanpa ada kemauan untuk mencoba melakukannya, karya tulis tersebut tidak pernah akan terwujud.”

O,ya ada satu pesan saya teman. Jika anda membeli buku ini dalam keadaan masih disegel, buka aja deh segelnya langsung di temapt atau di depan kasir. Lalu periksa tiap halaman. Jangan seperti saya, buka segel di rumah, setelah dilihat ada halaman yang kosong yaitu halaman 150 dan 155. Mau balik ke Gramedia lagi..hiii….gak ku ku la…. Medang-Brandan ± 82 km. Ya emang rezekinya gitu kali ye….

Selengkapnya...

11 Maret 2009

Buku Terbaru dari Dr. Aidh Al Qarni



DR. 'AIDH AL-QARNI adalah salah satu ulama muda terkenal di Arab Saudi. Penulis kelahiran 1379 H (1960 M) ini memiliki nama lengkap Dr. 'Aidh Abdullah bin 'Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni adalah penisbatan tempat kelahirannya, sebuah daerah di selatan Arab Saudi.

Ia menamatkan program sarjana (Lc), magister (M.A.) dan doktor di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh. Hafal Al-Qur'an dan kitab Bulughul Maram, serta telah mengajarkan 5.000-an hadits dan 10.000-an bait syair. Sekitar 1.000-an judul kaset yang berisi ceramah agama, kuliah, serta kumpulan puisi dan syair karangannya telah dipublikasikan.

Keberaniannya menyuarakan kebenaran juga sempat membuatnya merasakan jeruji besi pemerintah Al-Saud. Kesalahnnya saat itu, ia dan kawan-kawan ulama mudanya berani berteriak lantang menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi atas undangan pemerintah Al-Saud.

(Sumber : www.cordova-book.com )

Salah satu buku beliau yang menempati kategori best seller (bahkan super best seller malah) ialah La Tahzan dan Menjadi Wanita Paling Berbahagia di Dunia. Selain buku-buku dengan judul tersebut di atas, beliau juga telah menulis beberapa buku lainnya seperti :

• Manusia Langit Manusia Bumi : memuat kisah-kisah kepribadian yang khas dari Al Qur’an. Ada kisah malaikat, iblis, Nabi Adam dan isterinya, Nabi Ibrahim dan Ismail, Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, hingga Nabi Musa dengan Fir'aun dan kaumnya, Bani Israil.
• Jangan Takut Hadapi Hidup : sarat dengan taushiah yang membuat kita semakin optimis menjalani hidup ini.

• Demi Masa, Beginilah Waktu Mengajari Kita… : buku ini sangat berkesan kawan. Salah satu tema yang diangkat beliau dalam buku ini dan sangat ‘menyentuh’ adalah kalimat-kalimat berikut:
Ingatlah, bahwa lebah yang mati itu akan terlempar dari sarangnya, karena dia tidak lagi bernilai. Dan pohon yang kering itu akan disingkirkan dari kebun, karena tidak ada lagi manfaat yang dapat diharapkan darinya. Lantas, apa balasan yang layak bagi seseorang yang bisa mendengar dan melihat, tapi tidak memiliki kontribusi, tidak memiliki produktifitas, dan tidak pula bekerja?

• Masih banyak buku-buku beliau yang lain. Intinya lebih banyak yang saya gak tau dari pada yang saya tau… he…he…he….

Sedangkan buku terbaru karya beliau adalah :
• Islam Rahmatan Lil ‘Alamin : buku ini diawali dengan pemaparan kehidupan bangsa Arab pada masa jahiliah; masa yang penuh dengan pertumpahan darah, perbudakan, pelecehan terhadap kaum wanita, dan sekian banyak perbuatan hina lainnya, sampai pada akhirnya bangsa Arab dan umat manusia secara umum mendapat pencerahan dengan lahirnya sosok manusia pilihan, Muhammad saw.

Rasulullah saw. diutus oleh Allah swt sebagai pembawa berita bahagia, dan peringatan bagi orang-orang yang mengesampingkan nilai kemanusiaan; orang yang lebih mengedepankan perut daripada hati. Dalam catatan sejarah, tidak ada satupun orang yang mampu menempati posisi Muhammad saw, dimana beliau adalah pemimpin dalam semua lini kehidupan; pemimpin dan teladan bagi orang yang terjun dalam dunia bisnis, guru besar dalam dunia pendidikan, contoh nyata bagi para pejabat tinggi negara, dan panutan yang ideal dalam kehidupan berumah-tangga.

Jadi jangan heran jika dalam daftar 100 tokoh dunia, beliau menempati posisi puncak…!!

Selengkapnya...

20 Februari 2009

Maryamah Karpov: Pamungkasnya Tetralogi Laskar Pelangi


“Intinya tekanan, Kawan! Tekanan adalah keniscayaan semesta, dasar keseimbangan galaksi-galaksi. Kita tegak berdiri akibat tekanan dari keseluruhan system kosmos. Bumi berputar-putar, air mengalir, angin bertiup, burung-burung terbang, mekanika sendi-sendi tubuh, laut pasang surut, mulut berbunyi, semuanya karena tekanan. Tanpa tekanan, alam raya akan musnah. Tekanan bersembunyi dalam setiap serpih cahaya dan gerak halus benda-benda, disanalah tersimpan rahasia, mengapa kita ada.”

Kawan, bahasa filsafat dengan nuansa science yang sangat kental di atas dapat anda temui dalam Novel Maryamah Karpov karya Andre Hirata tepat di halaman 330. Novel ini terbit pertama kali November 2008. Dalam bulan yang sama telah dua kali turun cetak ulang dan pada Desember 2008 adalah turun cetak yang ke tiga. Sungguh dinamika frekuensi yang fantastis untuk level novel dengan warna berbagai cabang ilmu tumpah ruah di sana. Mulai dari Ilmu Biologi, Astronomi, Psikologi, Sosiologi, Filsafat, Religion…alaah..terlalu panjang jika harus disebut satu persatu kawan.

Maryamah Karpov merupakan Pamungkas-nya Tetralogi Laskar Pelangi. Novel Fenomenal yang telah banyak memberikan new spirit kepada beribu insan di bumi pertiwi ini. Sungguh kurang lengkap jika kawan membaca Laskar Pelangi tetapi tidak dilanjutkan ke Sang Pemimpi. Dan mimpi-mimpi itu tidak akan menjadi mimpi yang sempurna jika tidak diteruskan ke Edensor. Jika anda ingin reuni atas segala Mozaik yang terdapat pada ketiga buku tersebut….ayo…tuntaskan jawaban semuanya di Maryamah Karpov, setebal 504 halaman… he he he..masih unggul Laskar Pelangi ya…yang mencapai 534 halaman.

Andrea Hirata merupakan salah satu penulis dinegri ini yang telah berhasil menulis novel dengan ‘mendobrak’ rhetorical steps of Narrative. Maka jangan heran jika menemukan alur yang kesana-kesini tetapi tetap mampu menghipnotis mata kita untuk terus melanjutkan dari halaman yang satu ke halaman berikutnya. Dengan bahasa-bahasa yang terkadang bisa membuat jidat kita berkerut (karena bahasa filsafat-nya), termehek-mehek (karena kisah yang mengharu-biru), cengar-cengir sendiri (aih…seperti orang sinting ya ?) dan terkadang terbahak-bahak karena tidak mampu mengendalikan tawa. Misalnya aja pada kutipan yang rada panjang ini. Bukan apa-apa kawan, supaya dapet ‘feel’-nya aja…. Boleh dong….

“Archimedes, Boi, ia dituduh gila, lalu dipenggal kepalanya oleh kopral balok satu Romawi. Galileo dipaksa membaca tujuh mazmur pertobatan lantaran menentang bapak tua Aristoteles. Muhammad dilempari batu. Columbus terbirit-birit dipanah orang Indian, Marie Curie megap-megap kena radiasi, Faraday senewen keracunan merkuri. Ghandi ke penjara seperti ke jamban saja.”

Semangat Ketua Karmun berapi-api.

“Namun, merekalah para pembaru! Merekalah pahlawan! Keajaiban akan muncul bagi orang yang berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal yang baru!”

Hebat betul kata-kata mutiara Ketua.

“Kamu bisa seperti mereka, Kal! Jika kau ke klinik gigi itu, kau akan jadi pelopor pengobatan modern di kampung ini, kau bisa jadi pahlawan!”

Pahlawan? Archimedes pahlawan fisika, Galileo pahlawan astronomi, Marie Curie pahlawan radiasi, Gandhi pahlawan hak asasi, dan aku pahlawan gusi! Terima kasih …

(Maryamah Karpov, hal. 440-441)

Ha ha ha… memang bahasa humor Andrea Hirata….lain dari yang lain…. Apalagi teori-teori penyakit gila-nya dan pelajaran moral-nya. Misalnya aja yang satu ini:
…Pelajaran moral nomor Sembilan belas dari dua kejadian di atas: cinta, bisa saja berbanding terbalik dengan waktu, tapi pasti berbanding lurus dengan gila.

(Maryamah Karpov, hal. 492)

Kwa…kwa…kwa…sungguh tidak keliru jika ada yang menjuluki Andrea Hirata sebagai seniman kata-kata. Terkadang untuk mendeskripsikan sebuah istilah ia mengungkapkan dengan bahasa metafora yang cukup sederhana. Misalnya begini:

…Karena sejak kejadian khitan dulu, aku telah berjanji pada diriku sendiri dan pada alam semesta raya, apapun yang terjadi, aku tak mau ke rumah sakit. Dalam bahasa modern, Kawan, keadaan ini disebut trauma.

(Maryamah Karpov, hal. 204)

Kawan, jika anda ingin menemukan jawaban tentang mimpi-mimpi Lintang si genius yang terpaksa putus sekolah karena terbentur masalah biaya (Laskar Pelangi)….bacalah Maryamah Karpov…

Jika anda ingin menemukan jawaban mimpi-mimpi Arai dalam meraih cinta si Perempuan Saraf Tegang, Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum (Sang Pemimpi)… Temukanlah jawabannya di Maryamah Karpov…

Sedangkan bagaimana ending dari pencarian dan penantian Ikal akan kehadiran A Ling….(Edensor) duh..kawan…gak tega diriku mengatakannya…. Baca ajalah..Maryamah Karpov. Hiks…..hiks…hiks….

Terlepas dari apakah Tetralogi Laskar Pelangi termasuk novel fiksi atau non fiksi, dan saya gak perduli dengan polemik yang muncul ke permukaan tentang itu. Yang jelas…Tetralogi Laskar Pelangi benar-benar buku yang ‘bergizi’, begitu kata Haidar Bagir dan Hernowo dalam buku “Laskar Pelangi The Phenomenon” yang ditulis Asrori S. Karni, seorang penulis muda penuh talenta yang memenangkan penghargaan jurnalistik tertinggi Indonesia Mochtar Lubis Award 2008, kategori Layanan Publik (Public Service).

Buku bukanlah benda mati, tapi seperti makhluk hidup yang bisa membuat sedih, semangat, tertawa atau termenung… begitu kata Andrea Hirata. Buku bergizi itu adalah buku yang mampu menggerakkan pikiran.” (Laskar Pelangi The Phenomenon, hal. 53)

Tetapi saran saya kawan, jangan pernah baca Tetralogi Laskar Pelangi di tempat terbuka and sendirian. Ssst….ntar ada yang mengira anda sinting lo… ho..ho…ho….!!

Selengkapnya...

9 Februari 2009

Canda Ala Sufi


Setiap orang pasti memiliki sense of humor, seserius apa pun orang tersebut. Akan tetapi setiap individu memiliki style masing-masing dalam hal ini. Ada yang begitu mudah tertawa terbahak-bahak jika menonton film-film ala Warkop atau komik Petruk Gareng, tapi ada juga yang tidak doyan dengan film dan komik gituan, ada yang baru lihat tampang Upin and Ipin aja sudah senyam-senyum sendiri (seperti saya, he he he)…..ya gitu lah….. Many man …. many mind…

Tetapi ada satu lelucon atau humor yang menurut saya yang rada unik dan saya doyan banget. Itu lo Canda ala Sufi. Sebuah humor yang berhasil memadukan unsur filsafat yang semua orang pasti akan bilang.. wuih…serius uiy… dengan unsur lelucon yang pasti semua orang akan bilang…nyantai dulu yuuk… Aih kok kayak judul blog yang saya ikuti ya ? hi hi hi….

Buku ini adalah buku terjemahan. Judul aslinya Nawadhir Juha al-Kubra karya Nashirudin. Diterjemahkan oleh Muhdor Asegaf dan telah mengalami beberapa kali cetak ulang

Buku Canda ala Sufi menampilkan seorang tokoh sentral yang bernama Nasruddin… Ini saya kutip salah satu episode dari buku tersebut, tapi versi Inggrisnya ya… Sekalian saya melatih Inggris saya yang rada ancur… he he he:

An old man died and left his son a lot of money. But the son was a foolish young man, and he quickly spent all the money, so that soon he had nothing left. Of course, when that happened, all his friend left him. When he was quite poor and alone. He went to see Nasreddin, who was a kind, clever old man and often helped people when they had trouble.

“My money has finished and my friend have gone,” said the young man. “What will happen to me now ?”

“Don’t worry, young man,” answered Nasreddin. “Everything will soon be all right again. Wait and you will soon feel much happier.”

The young man was very glad. “Am I going to get rich again then ?” he asked Nasreddin.

“No, I didn’t mean that,” said Nasreddin. “I meant that you would soon get used to being poor and to having no friends”.

Ha ha ha…. Gimana…temans ? Ya..ya..ya…. pasti ada yang tertarik dan tentu aja ada yang gak tersentuh selera humornya. Tapi barangkali ada yang sudah berulang kali mengkhatamkan buku Canda ala Sufi ini…seperti saya lagi….

Nah buat teman-teman yang selalu mobile… jangan khawatir Canda ala Sufi tersedia dalam bentuk e-book dengan versi Bahasa Indonesia. Silahkan di download di jowo.jw.lt (terimakasih buat yang telah menginfokan link ini ke saya), melalui handphone anda. Gak mahal kok, kapasitasnya aja Cuma 126 KB. Jadi kalo Rp 1/KB atau Rp 4/KB…. Maka.. hayoo… apakah anda akan bilang biayanya mahal ?.... Nah, jadi kalo lagi BT….dimanapun posisi anda, aktifkan saja HP…terus…baca tu Canda ala Sufi…. Dijamin… masalah belum tentu selesai… ha ha ha…

Have enjoy your nice time…!!

Selengkapnya...