MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

28 Desember 2009

Award Persahabatan di Penghujung 2009



Salah satu hal yang tidak dapat kita raih kembali adalah waktu yang telah terbuang. Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun 2009 dan menyambut tahun 2010. Semoga pada tahun 2010 nanti kita masih diberi waktu untuk membenahi segala sesuatu untuk menjadi lebih baik dan lebih indah, sehingga nantinya kita dapat menjadi insan yang mampu memberikan kontribusi positif guna penyelesaian masalah di negri ini, bukan malah menjadi bagian dari sumber masalah itu sendiri.

Dipenghujung tahun 2009 ini, kembali seorang sahabat blogger memberikan Award untuk blog yang serba minimalis ini. Ya sahabat blogger aan untuk kedua kalinya mengirimkan Award Persahabatan. Sahabat aan yang kreatif, energik, improfisasinya dalam merangkai kata sering membuat saya terpesona (termasuk seniman kata-kata juga), jeli dalam mencermati kehidupan sekitar dengan bahasa yang ringan tetapi bermakna dalam (waduuhhh…semoga jika beliau membaca artikel ini masih dalam kondisi ‘terkendali’… he he he…)

Terimakasih sobat untuk semua apresiasimu terhadap blog minimalis yang gak ada apa-apanya ini. Award ini akan semakin menambah ‘energi’ diriku untuk tetap eksis dengan content-nya. Sungguh Sharing is Fun. He he he….

Terimakasih juga saya haturkan kepada siapa saja yang telah mampir, isi buku tamu, kasi comment di sini, atau malah jadi mengajak diskusi di FB, bahkan yang telah berempati secara nyata pada salah satu artikel saya (Gadis kecil itu bernama Halimah). Juga kepada siapa saja yang selalu rutin mampir ke sini tapi masih enggan posting comment (maunya kasi comment langsung sih…. He he he….). Terimakasih sobat…!!

Jazakillahi Khairan Katsira….!!
Selengkapnya...

23 Desember 2009

Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif



Nama Buku : Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif.
Penulis : Trianto, M.Pd
Cetakan Pertama : Agustus 2009
Penerbit : Kencana Predana Media Group
Jumlah halaman : 371 halaman

Perubahan paradigma dunia pendidikan menuntut guru selaku agen pembelajaran untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Melepaskan diri dari teacher center menuju student center. Bukan pekerjaan yang mudah memang, tetapi bukan pula hal yang mustahil untuk diaplikasikan. Selagi semangat belajar tidak pernah padam.

Buku yang satu ini, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif dapat menjadi teman yang baik buat para pendidik yang mencintai perubahan.

Hal-hal menarik yang dibahas dalam buku ini antara lain:

1. Pemikiran Belajar Melalui Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.
2. Model Pembelajaran dan Teori Belajar Yang Mendukungnya.
3. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
4. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
5. Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
6. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
7. Pembelajaran Model Diskusi Kelas.
8. 8 Strategi-strategi Belajar (Learning Strategies)
9. 9 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inovatif Progresif.
10. 10 Penyusunan Perangkat dan Instrumen Pembelajaran Inovatif-Progresif.
11. Implikasi Model Pembelajaran Inovatif Progresif.
12. Assessment dan Sistem Penilaian Porto Folio Model Pembelajaran Inovatif Progressif

Dalam buku ini kita juga belajar bagaimana mendesain model pembelajaran inovatif dan progresif dalam suatu proses pembelajaran. Juga menguraikan secara jelas bagaimanakah model pembelajaran yang inovatif, progresif dan konstruktif dari kerangka konseptual (teoritis) hingga kontekstual (praktis). Sehingga dapat memandu kita sekaligus mengaplikasikan dalam proses pembelajaran.

Buku ini sangat sesuai untuk guru yang sedang melanjutkan studi di S1, S2 maupun S3 selagi masih berorientasi pada dunia pendidikan.
Kepada sahabat blogger Jayadi Gusti dan Asep Bogor, semua pertanyaan anda pada artikel saya yang berjudul Cooperative Learning, Insya Allah akan terjawab setelah membaca buku ini. He he he…. Terimakasih untuk semua respond-nya teman.
Selengkapnya...

19 Desember 2009

Cooperative Learning


Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperative) merupakan salah satu model pembelajaran yang berbasis CTL (Contextual Teaching Learning). Memiliki empat ciri khusus yaitu Landasan Teoritik, Tujuan Hasil Belajar Siswa, Tingkah Laku Mengajar (Sintaks), Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan.

Landasan Teoritik mengacu pada Teori Belajar Konstruktivis yang membangun Learning Community.
Hasil Belajar Siswa meliputi hasil belajar akademik (konsep-konsep sulit) dan Ketrampilan Sosial (Ketrampilan Kooperatif).
Tingkah Laku Mengajar (Sintaks) terdiri dari enam fase, yaitu:
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi Siswa
Fase 2
Menyajikan informasi
Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok – kelompik belajar
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Fase 5
Evaluasi
Fase 6
Memberikan penghargaan

Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan yang terbangun ialah proses demokrasi dan peran aktif siswa yang teraplikasi dalam system pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre) dan siswa belajar dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda.

Beberapa variasi dalam Model Pembelajaran Cooperative Learning ialah:

1. Student Teams Achievement Division (STAD)
2. Tim Ahli (Jigsaw)
3. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
4. Think Pair Share (TPS)
5. Numbered Head Togehther (NHT)
6. Teams Games Tournament (TGT)


Selengkapnya...

7 Desember 2009

Brain-Based Teaching



Nama Buku : Brain-Based Teaching:
Merancang Kegiatan Belajar-Mengajar yang Melibatkan Otak Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetis, dan Reflektif.
Diterjemahkan Dari : Teaching to the Brain’s Natural Learning Systems.
Penulis : Barbara K. Given
Penerjemah : Lala Herawati Dharma
Pengantar : dr. Taufiq Pasiak, M.Pd.I, M.Kes
(Penulis bestseller Brain Management for self Improvement
Penerbit : Penerbit Kaifa

Banyak buku yang membahas tentang otak. Pada umumnya buku-buku terebut membahas otak dalam kaitannya dengan meditasi dan refleksi. Tetapi buku yang satu ini, rada lain. Buku ini membahas bagaimana otak bekerja dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya otak kiri (kognitif) tetapi juga peranan otak kanan (intertaint/imajinasi).

Barbara K. Given sang penulis menguraikan bahwa adanya system pembelajaran alamiah otak yang melibatkan 5 komponen penting ketika otak belajar. 5 Komponen tersebut adalah:
1. Otak emosional yang dapat membangkitkan hasrat belajar.
2. Otak sosial yang berperan membangun visi untuk melihat apa yang mungkin.
3. Otak kognitif yang menumbuhkan niat untuk mengembangkan pengetahuan dan kecakapan.
4. Otak kinestetis/taktil yang mendorong tindakan untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan, dan
5. Otak reflektif, kemampuan berfikir tingkat tinggi yang akan membuahkan wisdom, yang membuat seorang pembelajar mampu dan mau bertafakur.
Selain itu buku ini juga menyajikan tips-tips jitu yang membuat kita jadi merenung dan introspeksi diri terhadap kinerja kerja kita selaku pendidik dihari-hari yang lalu. Sehingga terkadang introspeksi itu mengantarkan kita kepada suatu pemikiran betapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan pada anak didik. (Terutama hal ini terjadi pada diri saya sendiri).
Tips-tips tersebut disajikan secara menarik seperti memo, sehingga membuat mata selalu ingin meneruskan bacaan dari halaman yang satu ke halaman berikutnya. Sekalipun buku ini terdiri dari 420 halaman.
Salah satu tips dari buku ini yang sangat berkesan bagi saya adalah:

Jika guru mengembangkan rencana pelajaran dan berinteraksi
Dengan siswa secara sadar – dan setiap hari – dengan memperhatikan
Sistem pembelajaran otak atau teater pikiran, maka sekolah
Bisa menjadi tempat yang didatangi siswa
Dengan penuh antusias.

Sepertinya saya masih perlu belajar 1000 tahun lagi untuk mengaplikasikan hal ini.
Selengkapnya...

24 November 2009

Ayoo...Mari Meng-up Date Diri...!!


Anda sering mengoperasikan komputer ? Jika komputer yang anda gunakan tidak pernah di up date softwarenya, bagaimana kinerjanya ? Lelet…lemot…lola alias loading lambat….?? Mungkin begitu komentar yang muncul. Nah bagaimana jika kita sebagai guru tidak pernah meng-up date (baca: meningkatkan kompetensi) diri ? Jangan-jangan murid-murid kita akan mengeluarkan komentar yang sama. Lelet…lemot…lola… he he he….

Ada satu fenomena dikalangan guru yang sering hadir di sekeliling kita. Naluri berpacu meningkatkan kompetensi hanya terjadi ketika masih dalam pendidikan kejuruan. Begitu masa pendidikan selesai, predikat S1 didapat, maka status PNS menjadi target utama. Setelah target tercapai…stuck….no progress. Hal ini sering kita jumpai pada guru-guru di daerah. Akan tetapi bukan mustahil di kota besar kondisi ini tidak ada.
Saya jadi ingat ucapan seorang dosen IAIN (maaf lupa namanya), ketika beliau menyampaikan presentasinya di sebuah seminar, beliau mengatakan: “Barang siapa yang telah memutuskan untuk menjadi seorang guru, maka diharamkan baginya berhenti belajar.”

Keadaan jaman bergerak dengan dinamis. Maka jika para guru menyikapinya secara statis? Apa jadinya dengan siswa kita? Sudah saatnya para guru, sekalipun yang bertugas di daerah untuk selalu meng-up date diri. Banyak jalan menuju roma. Apalagi bagi guru yang telah menerima tunjangan profesi. Mungkin akan muncul argument… semua itu membutuhkan biaya. Meng-up date diri tidak harus melalui perguruan tinggi (tetapi jika itu dapat terjangkau mengapa tidak), bukankah sekarang kita juga dapat meng-up date diri secara on line ? Toh warnet mulai merambah ke daerah, bahkan warnet sudah masuk desa. Biaya akses per jam juga lebih murah jika dibandingkan dengan semangkok bakso. So… What are You waiting for, guys..??

Menjelang hari guru pada tanggal 25 Nopember 2009, saya jadi teringat kalimat seorang teman melalui milist klub guru Indonesia yang kira-kira begini bunyinya:

Jika seorang guru sudah menjadi Bebek,
Maka jangan harap dapat mendidik Elang

Hanya guru yang berkarakter
Yang dapat menumbuhkan karakter muridnya

Hanya guru yang termotivasi
Yang dapat memotivasi muridnya

Hanya guru yang tertib
Yang dapat menertibkan muridnya

Selagi di atas langit masih ada langit
Maka seorang guru tetap masih membutuhkan guru.
(Yang ini argument diri sendiri. He he he..)

Selamat Hari Guru kepada seluruh tenaga pendidik negri ini

Semakin ikhlas menjalankan tugas profesi
Semakin berlimpah karunia Allah menanti…!!

Bahkan pintu karunia itu terkadang datang dari
Arah yang sungguh diluar pemikiran diri…!!
Karena Tuhan tau…tetapi Ia menunggu…!!
Selengkapnya...

14 November 2009

UN Dimajukan Maret 2010


Walaupun banyak reaksi menentang sistem kelulusan ala UN, tapi UN tetap terus berlanjut. Beberapa hari ini malah dikejutkan dengan munculnya PP 75 2009 tentang pelaksanaan UN untuk SMP/MTS dan SMA/MA. Apakah yang membuat para guru kaget? Ternyata UN yang semula planning-nya akhir April 2010, dimajukan pada bulan Maret 2010 dan UN dilaksanakan dua kali. Yang pertama namanya UN Utama dan yang kedua UN Ulangan. Sedangakan siswa yang berhalangan, sakit misalnya pada pelaksanaan UN Utama, dapat mengikuti UN Susulan. PP 75 2009 ini ditandatangani oleh Bapak Bambang Sudibyo, Mendiknas yang lama. Kabarnya beliau menandatanganinya seminggu sebelum diganti. Bisa jadi sebagai dampak dari UN yang dilaksanakan dua kali ini, maka Perguruan Tinggi pun mungkin akan melaksanakan test masuk Perguruan Tinggi dua kali juga.

Berikut saya kutip pasal-pasal dari PP 75 2009 yang memuat hal-hal tersebut di atas.

Pasal 5

(1) UN Tahun Pelajaran 2009/2010 dilaksanakan dua kali yaitu UN utama dan UN
ulangan.

(2) UN utama untuk SMA/MA, SMALB, dan SMK dilaksanakan pada minggu ketiga
Maret 2010.

(3) UN utama untuk SMP/MTs dan SMPLB dilaksanakan satu kali pada minggu
keempat Maret 2010.

(4) UN susulan dilaksanakan satu minggu setelah UN utama.

(5) Ujian praktik kejuruan untuk SMK dilaksanakan sebelum UN utama.

Pasal 6

(1) UN Ulangan untuk SMA/MA, SMALB, dan SMK dilaksanakan minggu kedua
Mei 2010.

(2) UN Ulangan untuk SMP/MTs dan SMPLB dilaksanakan minggu ketiga Mei
2010.

Pasal 7

Mata pelajaran yang diujikan pada UN:

(1) Mata Pelajaran UN SMA/MA Program IPA, meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi;

(2) Mata Pelajaran UN SMA/MA Program IPS, meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi;

(3) Mata Pelajaran UN SMA/MA Program Bahasa, meliputi: Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Asing lain yang diambil, Sejarah Budaya/
Antropologi, dan Sastra Indonesia;

(4) Mata Pelajaran UN MA Program Keagamaan, meliputi: Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris, Matematika, Tafsir, Hadis, dan Fikih;

(5) Mata Pelajaran UN SMK meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, dan Teori Kejuruan;

(6) Mata Pelajaran UN SMALB meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan
Matematika; dan

(7) Mata Pelajaran UN SMP/MTs, dan SMPLB meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Untuk lengkapnya PP 75 2009 dapat di download di www.pengawas20.wordpress.com

Kondisi ini tentu saja membuat para guru yang mengajar di kelas 9 untuk SMP/MTs dan kelas XII untuk SMA/MA kalang kabut. Bagaimana mereka harus memberesi materi pelajaran sesuai tuntutan SKL. Hanya dua bulan waktu yang dimiliki setelah usainya program semester Ganjil. Protespun bermunculan di mana-mana. Akankah protes itu di dengar? Waallahualam.

Sepertinya tiada jalan lain, kecuali mau gak mau, suka gak suka ya...mempersiapkan semua stakeholder di sekolah/madrasah untuk melaksanakan perubahan ini. Semoga tidak menambah beban stress siswa ataupun guru. I hope everything will be OK....!! God willing...!!


Selengkapnya...

10 November 2009

Gadis Kecil itu Bernama Halimatussakdiyah

Namanya Halimatussakdiyah. Persis nama ibu susu Rasulullah Muhammad SAW. Ia tinggal di daerah pesisir kota Pangkalan Brandan yang disebut Borboran oleh masyarakat setempat. Berasal dari keluarga yang amat sangat sederhana (maaf dapat disebut di bawah garis kemiskinan). Cenderung introvet dan tidak banyak bicara. Mengapa ? Mungkin karena teman-temannya selalu menertawakan dirinya jika ia bicara, terutama di dalam kelas. Memang Halimah, demikian biasa namanya dipanggil, memiliki gaya bicara yang unik. Yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain pada umumnya. Hal inilah yang membuat saya tertarik dengan anak ini. Mengapa gaya bicaranya se-unik itu?

Pertanyaan ini terjawab, ketika ia duduk di kelas VIII saya berkunjung ke rumahnya. Tujuan kunjungan itu untuk melihat keadaannya pasca operasi tumor yang dijalaninya. Ya, gadis kecil itu ternyata ‘menyimpan’ tumor di perutnya dengan berat mencapai 1 kg. Pantaslah ia sering mengeluh sakit perut. Dengan bantuan fasilitas Gakin, ia dapat dirawat dan dioperasi di Rumah Sakit umum Tanjung Pura.

Tahukah temans, sebelum dokter mengatakan bahwa ada tumor diperutnya, ia sempat digossipkan oleh warga kampung tempatnya tinggal bahwa ia hamil. Tumor seberat hampir 1 kg tentu saja membuat size perut gadis kecil itu membuncit. Ayahnya sempat meradang dengar gossip ini. Ocehan-ocehan tidak bertanggung jawab itupun berhenti setelah Halimah di operasi.

O,ya kembali pada cerita kunjungan saya ke rumahnya pasca operasi. Setelah bersusah payah, bertanya kesana-sini, akhirnya saya bersama seorang teman berhasil menemukan rumahnya yang nyelip di antara rumah-rumah penduduk. Karena nyelipnya kenderaan kami gak bisa nyampek ke rumahnya. Padahal kenderaan yang digunakan cuma sepeda. Maklumlah temans, Omar Bakri-isme sih. He he he. Terpaksa sepeda dititipkan di rumah tetangganya. Dengan nyelip-nyelip jalan di sela-sela pinggiran rumah penduduk, ya minta izin numpang lewatlah, akhirnya kami tiba di rumahnya. Sebuah rumah panggung berlantai kayu (maaf, lantainya sudah bolong-bolong. Saya sempat ragu ketika akan menginjak lantai tersebut. Karena kelihatanya kondisinya sudah lapuk. Tapi dengan Bismillah, saya injak saja. Alhamdulillah, tidak terjadi hal yang dikhawatirkan). Jika air laut pasang maka air laut akan menggenang tepat di bawah lantai tersebut. Banjirlah halamannya. Ketika itu rumahnya belum menggunakan listrik. Mereka memakai lampu sentir atau kata orang Jawa lampu teplok. Di ruang tamu tempat kami duduk (kami duduk dilantai kayu beralas tikar, karena memang tidak ada kursi tamu di situ) hanya terdapat sebuah meja tulis yang sudah tua dilengkapi kursinya dan bufet tua yang diatasnya ada pesawat televisi yang.....maaf...saya rasa sudah tidak dapat digunakan lagi.

Nah dalam kunjungan inilah akhirnya terjawab pertanyaan saya tentang gaya bicara Halimah yang unik tersebut. Ternyata ibunya Halimah bisu. Saya terdiam ketika mengetahui hal ini. Pantaslah gaya bicara Halimah rada unik. Bukankah Ibu adalah guru pertama bagi anak? Jika ibunya bisu, siapa yang akan mengajari dia ‘bicara’? Sementara ayahnya bekerja ke laut sebagai nelayan. Terkadang sampai seminggu tidak pulang. Sedangkan Halimah anak tunggal. Sebenarnya ia memiliki beberapa saudara, tetapi satu persatu saudara-saudaranya meninggal karena suatu penyakit ketika balita. Dalam kunjungan itu betapa Ibunya kelihatan sangat terharu dengan kedatangan kami. Dengan bahasa isyaratnya sepertinya begitu banyak kata-kata yang ingin diucapkannya, yang semua gerak tubuh itu intinya adalah TERIMAKASIH. Anehnya Halimah mengerti betul bahasa isyarat Ibunya. Bahkan kata Ayahnya, Halimah lebih bisa memahami bahasa isyarat Ibunya dari pada dirinya sendiri.
Walaupun ibunya bisu, beliau tetap bekerja sebagai buruh membelah ikan untuk dijadikan ikan asin. Terkadang Halimah pun ikut membantu ibunya demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Setelah kunjungan itu, Halimah mulai banyak bicara ke saya. Ada saja ceritanya. Di kelaspun dia semakin aktif dan kelihatan betul dalam proses pembelajaran ia sungguh-sungguh. Hanya saja dengan keterbatasan kognitif dan psikomotor yang dimilikinya hasilnya belum memadai. Tapi saya sangat senang dengan cara ia berproses. Apa lagi dalam pelajaran bahasa inggris, betapa ia bersusah payah untuk mampu menyebut kosa kata dengan pronouncation yang tepat. Setidaknya ia tidak menyerah. Terkadang saya sulit memahami kata-katanya. Ya karena keunikan gaya bicaranya itu. Teman-temannya mulai tidak lagi menertawakan dirinya di kelas. Karena kami (guru-guru) selalu memotivasi mereka untuk menghargai keunikan orang lain. Ditertawakan itu bukan hal yang menyenangkan dan tidak layak dilakukan.

Akhirnya Juni 2009 lalu ia lulus dari Tsanawiyah. Setelah itu saya tidak pernah mendengar kabar tentang dirinya, sampai pertengahan September kemarin. Kepala MAS Al Washliyah menjumpai saya dan bertanya.... ”Bu Ayu kenal anak ini?” beliau menunjukkan selembar copy ijazah. Copy ijazah itu milik Halimatussakdiah.

”Lo ini murid Tsanawiyah yang baru tamat tahun ajaran kemarin.” kata saya setengah kaget.
”Kok bisa sama Bapak ?” tanya saya.
”Tadi malam dia ke rumah saya. Dia bilang dia mau sekolah tapi tidak ada biaya. Menurut Ibu bagaimana? Layak dibantu tidak?”

Oh My God...! Ternyata Halimah selama ini tidak melanjutkan sekolahnya karena ketiadaan biaya. Dengan semangat 45 saya jelaskan kepada Kepala MAS Al Washliyah bahwa ia sangat layak dibantu. Bahkan sebagai madrasah yang pola pendidikannya berlandaskan ajaran Islam, sungguh sangat berdosa menolak keinginan anak seperti Halimah. Saya ceritakan juga seperti apa kondisi keluarganya.

Dua hari setelah kejadian itu, saya melihat dia sekolah lagi. Kali ini seragamnya putih abu-abu. Dengan senyum sumringah ia menjumpai saya lalu menyalami saya sambil berkata... ”Bu, sekarang saya sudah Aliyah.” Betapa jelas rona kebahagiaan terpancar diwajahnya kala itu

Mungkin ini memang kisah biasa, tapi tidak buat saya. Halimatussakdiah, anak dengan segala keunikan yang dimiliki dan kerasnya kehidupan yang dijalani, tetapi ia tetap punya semangat untuk sekolah. Ia berani merajut mimpi. Dia berani menjumpai kepala MAS Al Washliyah yang tidak dikenalnya sambil bilang.... ”Pak, saya mau sekolah.” Kemauan kerasnyalah yang membuat ia berani.
Sementara banyak anak lain yang berasal dari keluarga serba berkecukupan, bahkan dari orang tua dengan latar belakang berpendidikan, tetapi tidak bertanggung jawab dalam proses pendidikannya di sekolah.
Halimatussakdiah, tahukah dirimu ? Bahwa ada seorang gurumu yang mendapat pembelajaran berarti dalam perjalanan hidupmu. Dan gurumu itu adalah...... D..I..R..I..K..U...!!
Selengkapnya...

2 November 2009

Andaikan Mendiknas Membaca Ini...!

Satu lagi newsletter dari sekolah orang tua yang ingin saya share di sini. Jauh di sudut hati berbisik....Andaikan Mendiknas kita membaca ini... tentu saja tidak sekedar membaca, tetapi menelaah lebih dalam lagi.... Akankah hatinya tergerak mempertimbangkan untuk tidak meneruskan sistem kelulusan ala UN yang sungguh melanggar HAM itu ? Bagi yang sudah baca mungkin kita bisa discuss di kotak komentar, tetapi bagi yang belum baca..... monggo... baca aja... Nothing to lose lah. He he he....

-------------------------------------------------------------------------------------
Apapun yang dicapai anak kita memiliki harga tertentu. Maka hargailah apapun yang telah ia capai

Penghargaan adalah buah manis dari perhatian. Saat kita memperhatikan maka kita akan dapat lebih mudah menghargai.


Sayangnya, seringkali penghargaan disamakan dengan keberhasilan yang didapat. Perlu kita ingat bersama penghargaan tidaklah sama dengan pencapaian yang didapat apapun hasil pencapaiannya. Jika kita memiliki persepsi bahwa penghargaan sama dengan pencapaian yang positif maka saat tidak berhasil sesuai standar maka tidak ada penghargaan. Atau ketiadaan penghargaan akan diartikan kegagalan.


Sekarang, jika kita mengubah sedikit persepsi tentang keberhasilan dengan memandang bahwa keberhasilan adalah bagian dari sebuah proses maka kita akan lebih mudah untuk menghargai proses yang telah ditempuh, apapun hasilnya. Bukankah begitu?


Seorang anak berusia 6 tahun ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun ibunya. Pukul 05.00, ia sudah bangun untuk menyiapkan kejutan berupa sarapan roti panggang buatannya. Si ibu mendengar keributan di dapur dan bangun kemudian turun mengendap-endap menuju dapur. Ia memperhatikan bagaimana anaknya berusaha dengan hati-hati dan pelan-pelan menghias meja makan dengan bunga buatannya yang telah disiapkan sehari sebelumnya, mengatur peralatan makan dan kartu ucapan ulang tahun diletakkan didepan kursi ibunya. Kemudian si ibu memperhatikan bagaimana si anak memanggang rotinya. Namun sayangnya hasilnya tidak sesuai harapan si anak dan akhirnya ia mencoba terus. Akibatnya, dapur menjadi kotor dan semua roti serta selai habis dipakai. Dan… tidak ada satupun roti panggang yang terpanggang dengan sempurna. Si anak menjadi sedih dan duduk memandangi roti buatannya.


Melihat hal itu, si ibu bergegas turun ke dapur dan berpura-pura baru bangun tidur. Ibu langsung memekik kaget, berpura-pura terkejut melihat meja makan yang telah diatur dengan sangat rapi dan indah oleh sang anak. Ibu mengucapkan terima kasih dan memberikan ciuman kepada si anak. Hati si anak agak terhibur dan dia memberikan roti tidak sempurnanya kepada ibu. Sang ibu memakan hingga habis dan mengatakan bahwa roti buatan si anak merupakan roti terenak karena memiliki bumbu cinta.

Dari cerita sederhana ini kita bisa menarik pelajaran berharga bahwa si ibu berfokus pada hal yang dapat dikerjakan oleh si anak, walaupun si ibu tahu hasilnya tidak sesempurna jika ia mengerjakannya sendiri. Ibu menghargai setiap hasil terkecil apapun yang diberikan anaknya kepada dirinya. Dan si anak merasa sangat dihargai dan hasil akhirnya ia merasa dicintai oleh ibunya.


Bagaimanakah dengan anak-anak kita yang “memanggang” ulangannya terlalu “hangus” di sekolahnya? Apakah yang kita lakukan dengan “ulangan panggang yang hangus” tersebut? Sudahkah kita menghargai prosesnya ataukah semata-mata hasilnya? Kalimat yang kita ucapkan menanggapi “ulangan panggang yang hangus” menentukan pemaknaan yang diberikan anak!


Tahukah Anda bahwa pernyataan seperti :

* “Oke … tak apa ulanganmu jelek. Lupakan saja dan belajar kembali … besok masih ada kesempatan kok. Besok pasti lebih baik!” atau
* “Ibu kan sudah beritahu kamu kemarin untuk belajar dan kamu tidak mau dengar. Nah sekarang beginilah hasilnya. Lain kali kamu mau kan belajar?” atau …
* “Apa sih Nak yang kamu belum mengerti? Kan kemarin kamu sudah belajar dan latihan. Ayo ayah / ibu bantu untuk menerangkan yang kamu belum mengerti!”

masih akan dianggap anak sebagai bentuk penolakan atas dirinya yang dipicu dari perasaan kurang dipahami? Yaaa … betul Anda tidak salah baca semua tanggapan di atas – yang nampaknya baik dan bijaksana – masih bisa memicu perasaan kurang dipahami dalam diri anak. Apalagi tanggapan yang kasar seperti :

* “Dasar pemalas! Mulai besok kamu hanya boleh main video game hari minggu selama 1 jam saja! Titik!”
* “Nih lihat hasil ulangan kamu dimana kamu kemarin malas belajar! Ayah dan Ibu tak mau tanda tangan ini! Biar kamu dihukum guru di kelas!”

atau mungkin yang lebih kasar dari yang diatas yang sering terucap dengan maksud memotivasi anak – semuanya jelas malah merusak harga diri anak-anak tercinta kita!


Kunci dari semua itu adalah mengungkapkan pernyataan yang memenuhi 3 kebutuhan dasar semua manusia yaitu : rasa aman, persetujuan / perasaan dicintai dan otonomi diri.

Ketiga kebutuhan itu mendasari semua motivasi dalam bertindak pada semua umat manusia tidak peduli apakah dia laki atau perempuan, beragama ataupun tidak, berkulit kuning, hitam ataupun sawo matang , cacat ataupun tidak, dan memiliki pendidikan tinggi ataupun rendah. Semua motivasi berakar dari ketiga kebutuhan dasar tersebut. Itulah faktor penentu harga diri seseorang.
-------------------------------------------------------------------------------------

Kutipan artikel di atas bersumber dari newsletter yang saya terima dari www.sekolahorangtua.com


Selengkapnya...

21 Oktober 2009

Wise Words of The Day


Kunci dari sebuah disiplin adalah rasa dicintai dan diterima.
Dengan adanya perasaan tersebut maka disiplin sekeras apapun akan dimaknai dengan positif.
Dan demikian pula sebaliknya tanpa adanya perasaan dicintai dan diterima
Maka disiplin seringan apapun akan dimaknai negatif.
www.sekolahorangtua.com

What do you think about this guys….?? Any comment…??

Selengkapnya...

17 Oktober 2009

PTK...(Part 2)


Mengapa Guru perlu ber-PTK?

Ada beberapa alas an yang menyebabkan guru perlu ber-PTK. Antara lain:

1. Hasil penelitian pendidikan saat ini tidak selamanya bisa dimanfaatkan oleh guru untuk melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran. Sebab penelitian-penelitian pendidikan yang sering dilakukan itu tidak dilakukan oleh guru, tetapi lebih banyak dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari luar guru seperti para pakar pendidikan dari perguruan tinggi pendidikan/LPTK, pengamat pendidikan, dan sebagainya. Akibatnya, guru, kelas, dan sekolah menjadi objek penelitian.

2. Ketidaksesuaian paradigm penelitian yang digunakan para peneliti dengan guru dalam membantu menyelesaikan permasalahan pendidikan. Sebagaimana dikemukakan Athur Bolster yang dikutip Hopkins (1993) bahwa pengaruh penelitian tentang mengajar terhadap praktik pembelajaran sangat kecil karena asumsi atau titik tolak tentang mengajar yang digunakan para peneliti berbeda asumsi atau titik tolak yang digunakan para guru. Akibatnya, kesimpulan resmi yang dihasilkan oleh berbagai penelitian tersebut kurang relevan dengan kebutuhan para guru yang mengajar di kelas (Wardani, 2002)

3. Guru dalam melakukan penelitian bisa dilakukan sambil melaksanakan proses pembelajaran, atau dalam melakukan proses pembelajaran guru bisa melakukan penelitian. Dengan kata lain, guru melaksanakan penelitian sambil bertindak, atau bertindak sambil melaksanakan penelitian. Jadi dengan melakukan satu kegiatan, guru bisa mendapatkan dua hasil yaitu penelitian dan proses pembelajaran, atau proses pembelajaran dan penelitian. Dua kegiatan ini dapat dilakukan secara bersamaan.

4. PTK akan berhasil dengan baik jika dilakukan oleh peneliti yang trampil dalam proses pembelajaran, dan itu adalah guru.

Tujuan PTK.

Menurut Sukardi (2004: 212), beberapa manfaat PTK ialah:
1. Merupakan salah satu cara strategis guna memperbaiki layanan maupun hasil kerja dalam lembaga pendidikan.

2. Mengembangkan rencana tindakan guna meningkatkan apa yang telah dilakukan sekarang.

3. Mewujudkan proses penelitian yang mempunyai manfaat ganda baik bagi peneliti yang dalam hal ini peneliti memperoleh informasi yang berkaitan dengan permasalahan, maupun pihak subyek yang diteliti dalam mendapatkan manfaat langsung dari adanya tindakan nyata.

4. Tercapainya konteks pembelajaran dari pihak yang terlibat, yaitu peneliti dan subyek yang diteliti.

5. Timbulnya budaya meneliti yang terkait dengan prinsip sambil bekerja (mengajar) dapat melakukan penelitian di bidang pendidikan yang ditekuninya.

6. Timbulnya kesadaran pada subyek yang diteliti sebagai akibat adanya tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

7. Diperolehnya pengalaman nyata yang berkaitan erat dengan usaha peningkatan kualitas secara professional maupun akademik.

Manfaat PTK.

1. Manfaat Bagi Guru.

- PTK mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dikelolanya.
- PTK mampu mengembangkan guru secara professional. Sebagai pekerja professional guru dituntut mampu mengembangkan diri dari kondisi pemula (novice) menuju kondisi ahli (expert) atau menurut Riel (1998) dari entry ke mentor sampai master teacher.
- PTK mampu membuat guru lebih percaya diri. Konsekuensi dari perkembangan guru secara professional adalah kepercayaan diri.
- PTK mampu memberikan kesempatan bagi guru untuk berperan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya sendiri.

2. Manfaat Bagi Siswa.

PTK mampu meningkatkan proses pembelajaran untuk kepentingan peningkatan hasil belajar siswa.

3. Manfaat Bagi Sekolah/Lembaga

- Sekolah yang memiliki guru mampu mengembangkan diri melalui PTK mempunyai kesempatan yang besar untuk berkembang dengan pesat, sebab berbagai kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran akan ditanggulangi dengan segera oleh guru-guru melalui PTK. Dengan demikian perbaikan-perbaikan bisa dilakukan baik dari sisi konsep maupun kesulitan dalam mengajar.

- PTK yang dilakukan oleh guru dapat dikembangkan ke dalam skala yang lebih besar yaitu untuk kepentingan pengelolaan sekolah. Dengan terbiasanya guru melakukan PTK maka akan terjalin hubungan kolegial yang sehat yang berdasar pada rasa saling membantu dan saling membutuhkan, sehingga terjalin iklim kerja sama yang kondusif.

- Dengan semakin seringnya PTK dilakukan oleh guru-guru di suatu sekolah, maka akan menghasilkan berbagai teknik pembelajaran di sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian sekolah tersebut memiliki kesempatan yang cukup luas untuk menyebarluaskan teknik-teknik pembelajaran ke sekolah lain.

- PTK memberikan sumbangan positif bagi sekolah. Sekolah yang memiliki guru yang mampu melakukan PTK maka sekolah tersebut akan lebih professional sehingga kepercayaan diri sekolah tersebut menjadi lebih besar.

Selengkapnya...

9 Oktober 2009

PTK Sebagai Salah Satu Pengembangan Profesi Guru


Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) akhir-akhir ini begitu sering di bicarakan dikalangan pendidik. Apalagi para pendidik di daerah. Hal ini seiring dengan dijalankannya program Sertifikasi Guru. Tetapi masih banyak pendidik di daerah (khususnya daerah-daerah di Kabupaten saya, yaitu Kabupaten Langkat) terutama yang bertugas di sekoalah/madrasah swasta yang begitu asing dengan istilah PTK. Jika kita menawarkan mereka untuk mengikuti workshop PTK, sering disambut dengan komentar:…”PTK itu apa sih?”…

Sesungguhnya penelitian secara umum telah banyak digunakan di berbagai bidang kehidupan. Di bidang Industri misalnya, penelitian tindakan telah lama digunakan untuk peningkatan mutu dan untuk mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan kerja yang ada. Kemudian di bidang olah raga juga telah lama digunakan terutama dalam hal peningkatan prestasi atlit. Demikian juga di bidang pertanian, peternakan, kedokteran, dan sebagainya telah lama menggunakannya.
Sedang di bidang pendidikan, action research baru populer di awal tahun 90-an. Beberapa ahli memperkenalkannya melalui Classroom Action Research/CAR atau Penelitian Tindakan Kelas/PTK.
Di Indonesia, Penelitian Tindakan Kelas ini baru populer di penghujung tahun 90-an, dan disosialisasikan secara massal kepada praktisi pendidikan terutama para guru di awal tahun 2000-an. Saat ini setiap guru yang melakukan penelitian untuk pengembangan profesi harus jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). (Wakhid Akhdinirwanto, 2009)
Ada lima macam kegiatan Guru yang termasuk kegiatan Pengembangan Profesi, yaitu:
1. Membuat Karya Tulis/Karya Ilmiah di bidang pendidikan
2. Menemukan Teknologi Tepat Guna di bidang Pendidikan
3. Membuat alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan
4. Menciptakan karya seni
5. Mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum

Beberapa karya tulis ilmiah yang dapat dibuat guru adalah:
1. Karya tulis ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survai, dan atau evaluasi di bidang pendidikan.
2. Karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan.
3. Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa.
4. Prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah.
5. Buku pelajaran atau modul.
6. Diktat pelajaran
7. Karya penerjemahan buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.

Akan tetapi semua karya itu harus mengacu kepada beberapa criteria. Kriteria tersebut termaktub dalam kata “APIK”, maksudnya:

A : Asli: karya asli penyusun, bukan plagiat, jiplakan atau disusun dengan tidak jujur.

P : Perlu: permasalahan memang perlu, mempunyai manfaat, tidak mengada-ada.

I : Ilmiah: penelitian dilakukan sesuai kaidah kebenaran ilmiah.

K : Konsisten: sesuai dengan bidang keilmuan Guru.

Kembali kepada topik kita tentang PTK.
PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar meningkat.

Dengan kata lain secara sederhana dapat dinyatakan bahwa PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Tentu saja fokus PTK adalah pada siswa atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas.

Tidak dapat kita pungkiri, dalam proses belajar mengajar sehari-hari cukup banyak permasalahan. Lantas masalah apa sajakah yang dapat di kaji dalam PTK? Hal-hal berikut ini dapat dijadikan pertimbangan:

1. Berasal dari kondisi nyata di lapangan.
2. Benar-benar mendesak untuk dilaksanakan.
3. Menunjukkan harapan (berpotensi) untuk dapat diselesaikan
4. Penyelesaiannya merupakan perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran
5. Cakupan masalah untuk PTK cukup luas, diantaranya:
- Masalah belajar siswa di sekolah seperti permasalahan belajar di kelas, kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, mis-strategi, dan peningkatan hasil belajar siswa.
- Pengembangan profesionalisme Guru dalam peningkatan mutu perancangan, pelaksanaan dan evaluasi program pengajaran.
- Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifikasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
- Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi metode pembelajaran, atau interaksi di dalam kelas, partisipasi orangtua dalam proses belajar siswa.
- Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.
- Pengembangan pribadi siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik- siswa dan orangtua dalam PBM, peningkatan konsep diri peserta didik).
- Alat bantu, media dan sumber belajar. Termasuk dalam tema ini, antara lain masalah penggunaan media, perpustakan, sumber belajar di dalam/di luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
- Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi).
- Masalah kurikulum, misalnya implementasi kurikulum, interaksi guru-siswa, siswa-materi ajar, siswa-lingkungan belajar, urutan penyajian materi pokok.

(bersambung…)

Referensi:
1. Pedoman Penilaian Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan, Depdikbud, 1997
2. Drs. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Sc, Cara Mudah Mengembangkan Profesi Guru, Agupena dan Sabda Media, Yogyakarta, 2009
3. www.ardhana12.wordpress.com
4. www.omtion.blogspot.com

Selengkapnya...

25 September 2009

Award di Awal Syawal 1430 H



Waktu berjalan seperti anak panah, begitulah ungkapan Umar bin Khattab. Tanpa terasa Ramadhan 1430 H telah berlalu. Semoga amal ibadah kita di Ramadhan yang lalu diterima Allah SWT dan masih diberi waktu untuk bertemu Ramadhan tahun depan. Amin.

Sudah lama tidak posting, ya biasalah karena suasana lebaran jadi waktu terlewatkan untuk silaturrahmi dan bermaaf-maafan dengan kerabat di alam nyata. Sekarang mengunjungi kerabat di dunia maya. He he he…

Begitu lihat site ‘ndiri, ternyata ada award dari sahabat blogger aan. Termakasih teman. Sesuai dengan amanah darimu, award ini akan saya share ke 10 sahabat blogger lainnya, yaitu:
1. Asep Hidayathariri
2. Jayadi Gusti
3. Jimox
4. Eko Wurianto
5. Ibnu Kus
6. Mbak Wien
7. Yulinda Rohedy Yoshoawini
8. Mind Author
9. Aisya Lifeline
10. Wilyo Alsyaf

Aturanya sobat bloger harus menyertakan link2 berikut:

1. kupu.miss.oemang
2. shulayman
3. Imenoreh
4. Shulayman
5. Satriacell
6. emomyself.
7. ikhsanu
8. Ginanjar
9. Coretanku
10. SHARING IS FUN ( ini adalah link saya, taruh link sobat di no 10 ) jadi nantinya Sharing is Fun menjadi no 9 dst..untuk lebih jelasnya bisa lihat aturanya di sobat /http://aanworld.blogspot.com/ atau di sobat /http://anjar-kluwut.blogspot.com/

Yap tetap semangat blogger Indonesia dan salam kreativitas. Semoga postingan-postingan anda memberi inspirasi positive bagi pengunjungnya. Mumpung masih suasana Syawal dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan:


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MINAL AIDIN WAL FAIZDIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Selengkapnya...

13 September 2009

Lab Impian....


Seperti mimpi rasanya ketika Departemen Agama Pusat (Jakarta) mengabulkan proposal laboratorium bahasa yang diajukan Madrasah Aliyah Al Washliyah Pangkalan Brandan beberapa bulan yang lalu. Betapa berbunganya hati ketika property yang diimpi-impikan tiba di Madrasah. Dengan kerja keras professional para tehnisi yang dikirimkan, maka semua perlengkapan telah terpasang dengan apik. Hanya saja selintas setting laboratorium ini sedikit berbeda dari laboratorium bahasa pada umumnya. Yaitu dinding penyekat antar siswa ditiadakan. Hal ini sengaja dilakukan mengingat selain lab difungsikan untuk lab bahasa, juga dapat dipergunakan sebagai lab multimedia.



Para tehnisi professional yang bertugas memasang instalasi property bekerja siang malam lo. Lihat aja dokumentasi berikut ini. Walaupun dalam suasana Ramadhan mereka bekerja hingga larut malam ditemani Kepala Madrasah, Ibnu Yusuf, S.Ag

Madrasah Aliyah Al Washliyah Pangkalan Brandan yang berlokasi di Jalan Tanjung Pura Gg. Pipa Gas Pelawi sering disebut masyarakat sekitar dengan sebutan Kampus alias Kampung Sawah. Ha ha ha…gak perlu berkecil hati lagi, la wong memang lokasinya di daerah persawahan. Jika hujan deras jalan menuju ke madrasah banjir. Seperti ini nih… hi hi hi…


Ya begitulah sekolah kami, temans. Walaupun begitu kondisinya tetap semangat. Apalagi ketika belajar mempergunakan lab impian. Beginilah suasana ketika beberapa guru belajar bersama dibawah bimbingan instruktur Mr. Nursalim dari Jakarta.

Satu lagi tantanga buat guru, harus mampu mengimbangi dinamika teknologi sebagai media pembelajaran sekalipun tugas di ujung kampung. Yap…never old to learn.
Terimakasih kepada Departemen Agama yang telah memperhatikan madrasah di tengah sawah ini. Dan semoga kami dapat menjaga amanah dengan mengelola lab ini sebaik-baiknya sesuai dengan fungsinya. Amin….!!



Selengkapnya...

10 September 2009

Sehari Ramadhan-an di Dusun Gotong Royong



Menyampaikan dakwah kepada anak-anak yang berusia 9 – 12 tahun (siswa SD) memang gampang-gampang susah. Sebagaimana yang kita ketahui, usia-usia segini bawaaannya gak bisa duduk diam. Ya seperti lagu Kumpul Bocah-nya mbak Vina Panduwinata…… Pinggulnya selalu goyang… menari jaipongan…. Ha ha ha…. Manalah bisa mereka duduk diam mendengarkan ceramah/dakwah dengan duduk tenang. Jikapun bisa gak lebih dari 10 menit. Nah pada hari Senin 7 September kemarin bertepatan dengan 17 Ramadhan 1430 H saya membantu seorang teman yang punya gawe kegiatan Studio Ramadhan di dusun Gotong Royong, sebuah dusun yang berada di wilayah Desa Tangkahan Durian Kecamatan Brandan Barat. Pada momen ini kami mencoba menyampaikan dakwah kepada anak-anak seusia Laskar Pelangi itu dengan menggunakan media IT. Wah seru banget temans respond anak-anak itu. Nih saya share selama perjalanan plus kegiatan di sana.

Sebenarnya partisipasi saya dalam kegiatan ini serba mendadak dan diluar rencana sebelumnya. Senin pagi itu, seorang teman bernama Muhammad Syaiful Amri, S.Pd.I call saya. Ingin pinjam CD yang bagus buat ditonton anak-anak dalam kegiatan Studio Ramadhan yang diprakarsainya. (jika temans masih ingat dengan artikel saya beberapa bulan yang lalu yang berjudul KUTEMUKAN TITISAN LINTANG DI SANA, tentu ingat dengan nama itu. Ya, dialah salah satu guru MTs Al Hidayah Sei Tualang, yang walaupun rumahnya di ujung dusun, yaitu Dusun Gotong Royong, tetapi memiliki nyali luar biasa untuk belajar dan membina Dusunnya. Sekarang ia sedang menyelesaikan program Pasca Sarjana-nya di IAIN Medan dan namanya termasuk dalam salah satu calon penerima beasiswa di kampusnya. Pokoke Te…..O…..Pe…. Be… Ge ….Te…. lah…!!).

Sayang sekali CD-CD saya karya Harun Yahya yang sangat bagus buat anak-anak, apalagi dalam membina aqidah mereka semua saya copy ke laptop, karena CD nya pun saya pinjem dari keponakan. Hanya satu CD tersisa yaitu Keajaiban Otak masih karya Harun Yahya juga. Tidak ingin mengecewakan seorang teman yang begitu gigih memperhatikan maslahat umat, apalagi itu untuk generasi seusia laskar pelangi, maka saya kasi ide aja untuk putar CD nya menggunakan in focus. Ketiadaan slide layar tidak masalah, yang penting ada dinding yang bagus pengganti layar. Tapi sebagai konsekuensi ide tersebut saya ya harus ikut ke lokasi kegiatan untuk mengoperasikan semua perangkat itu. Syaiful hampir tidak menduga jika saya mau ke kampungnya. Saking senangnya dia rela antar jemput saya. (he he he..belum tau dia kalo saya emang paling doyan mengunjungi kampung-kampung orang untuk urusan beginian…. Lagian saya hari ini emang pengen refreshing, setelah beberapa hari ‘kerja bakti’ di depan computer terus. Tapex dech…!)

Alhamdulillah, Allah selalu kasi kemudahan pada orang-orang yang mempunyai niat baik. In focus kami dapatkan pagi itu juga. Setelah beres semua perangkat, kami berangkat. Dari kota Pangkalan Brandan sampai Simpang Bukit Mas Besitang jalan masih nyaman-nyaman saja. Begitu mulai menuju desa Sei Tualang…hmmm….mulai seru deh. Dan klimaksnya ketika Desa Sei Tualang dilewati menuju ke Dusun Gotong Royong, lokasi kegiatan… Woowww…. Subhanallaah…. Jalan yang harus ditempuh naik turun bukit dengan kondisi jalan tidak beraspal, hanya tanah kuning yang dilapisi kerikil. Berkenderaan sepeda motor dengan merek Suzuki sambil membawa laptop plus infocus hmm… perlu kehati-hatian ekstra jika tidak ingin barang-barang jatuh (atau orangnya sendiri yang jatuh…hiiiii). Belum lagi tanjakan plus tekongan-tekongan dengan jurang di sampingnya. Tapi saya tidak merasa khawatir, karena saya bersama orang yang sudah cukup terlatih bertahun-tahun melalui jalan-jalan ini. Saya cuma mikir, jika malam hari jalan di sini seperti apa ya ? (karena si Syaiful ini sering malam-malam berangkat ke Medan memburu masuk kuliah pagi hari di IAIN Medan). Waktu saya tanya hal ini dengan nyantai dia bilang…. “Ya Ibu, namanya juga kampung sendiri. Kalopun ada setannya, sudah jadi kawan saya mereka itu Bu.” Busyeet dah… Tapi ia juga sih…. Segala sesuatu itu “Alah bisa karena biasa…”

Setelah lebih kurang 1 jam perjalanan (saya perkirakan jarak yang kami tempuh sekitar 60 km….. lebih mungkin…..) kamipun sampai di lokasi kegiatan, yaitu Mesjid dusun Gotong Royong (ups maaf teman…saya lupa nama mesjidnya). Ternyata di sana kami telah ditunggu kira-kira 40-an orang anak. Begitu mereka melihat kami tiba, langsung bersorak….. “Hore…..jadi nonton pake laptop…!!” (Ternyata Syaiful dah kasi bocoran ke mereka sebelum jemput saya. Lagian program 4 mata ala Tukul telah membuat seluruh lapisan masyarakat kita segala umur begitu familiar dengan kata ‘laptop’, walaupun cuma lihat di TV. He he he….). Dan bocah-bocah itu berebutan menyalami saya…. Wuih….bener-bener pemandangan yang menakjubkan…!! Benar-benar sikap khas bocah-bocah di kampung….. polos…jujur….spontan….dan…energik..tapi….tetap santun….!!
Setelah semua perangkat terpasang dengan baik, mereka mulai menonton. Pertama yang saya sajikan adalah kisah Semut yang memiliki kehidupan sosial sungguh menakjubkan, dilanjutkan dengan kisah Lumba-lumba yang menjadi inspirasi manusia dalam menciptakan teknologi. Ketika mereka asyik menonton saya justru asyik melihat ekspresi mereka yang lucu-lucu. Lihat aja poto-poto ini… he he he….



Ketika mendekati waktu zuhur kegiatan break, siap-siap shalat zuhur berjamaah. Ada lagi pemandangan yang lucu temans. Yaitu ketika mengambil air wudhu. Diantara jamaah ada yang masih berusia 3 - 5 tahun, so bisa dibayangin repotnya kakak-kakak panitia membantu bocah-bocah ini mengambil air wudhu.
Sebenarnya kegiatan ini telah berjalan selama 3 hari, dimulai Jum’at 4 September 2009. Kegiatan mereka cukup padat. Selama 3 hari anak-anak tersebut belajar menghafal bacaan shalat lengkap dengan artinya, menghafal surat-surat pendek, berlatih mimpim do’a setelah selesai shalat berjamaah, dan berlatih ceramah layaknya Da’i cilik (selama kegiatan mereka tidak pulang, menginap di mesjid). Terkadang mereka diajak belajar secara outdoor untuk lebih mendekatkan dengan lingkungan dan mengagumi ciptaan Allah SWT. Wilayah dusun Gotong Royong yang berbukit-bukit sangat mendukung kegiatan ini. Mereka diajak hiking bareng, kalau sudah capek maka mereka meneriakkan kalimat takbir….. Allahu Akbar….!!! Sungguh….beda dampak takbir yang mereka kumandangkan di telinga… ada yang bergetar di sudut hati. Terus terang saya salut dengan metode-metode yang digunakan Syaiful.
Iseng sempat saya bertanya, “Apa gak ada yang ngambek minta pulang?” (karena ada yang masih kecil banget). Eh ternyata di hari pertama ada juga yang nangis, kangen sama mamak katanya. Tapi setelah dibujuk kakak-kakak panitia gak jadi tuh. Malahan ada diantara mamak-mamak mereka yang datang berkunjung justru nangis melihat anaknya mengikuti kegiatan. Gak tau juga apakah itu tangisan terharu atau kangen sama anaknya. He he he…..

Selesai shalat zuhur, sebagai akhir kegiatan kami menyajikan film Laskar Pelangi. Film yang mereka tunggu-tunggu. Ya, karena ini hari terakhir mereka dibiarkan relax, tapi tetap memberikan nilai-nilai pembelajaran yang islami. Rencananya ba’da ashar mereka dilepas pulang ke rumah orang tuanya masing-masing.

Sehari ngikutin kegiatan Ramadhan-an bersama anak-anak di dusun gotong royong ini sungguh seru. Walaupun mereka anak-anak kampung tapi sangat familiar diajak ngobrol. Mereka juga sangat interest dengan perangkat IT. Beruntung lah dusun gotong royong, memiliki pemuda berdedikasi mulia seperti Syaiful ini. Sangat sulit mencari pemuda berpendidikan Pasca Sarjana yang masih mau memperhatikan generasi muda di kampungnya. Sehari saya di sana, saya lihat betapa patuh dan hormatnya anak-anak dan remaja mesjid di sana kepadanya. Memang dia layak menerima perlakuan itu. Semoga sukses selalu untukmu teman, dan namamu yang tercantum sebagai calon penerima beasiswa itu, akan menjadi kenyataan sebagai penerima bea siswa….bukan calon. Insya Allah….!!!
Dalam perjalanan pulang saya jadi teringat dengan dua sahabat blogger saya, yaitu Beranda Brandan dan Brandankoe. Mereka juga doyan travelling ke kampung-kampung seperti ini.
Selengkapnya...

29 Agustus 2009

Satu Motivasi Lagi



Temans,
Tanggal 27 Agustus kemarin saya menerima email dari sekolahorangtua.com. Saya memang berlangganan artikel-artikel dari website ini. Tapi ada sesuatu yang sangat berkesan dalam pemikiran saya ketika menerima newsletter yang kemarin itu, sehingga pengen saya share di sini isi email tersebut. Paling tidak setelah membaca email ini, saya semakin mencintai dunia kerja saya. Alaaah….jadi begaya idealis neh…. He he he..!!
Inilah isi email tersebut….!!

Ada sebuah formula sukses sederhana yang menyatakan bahwa ‘be x do = have’. Artinya saat kita menjadi seseorang yang mampu mengenali diri sendiri dengan baik maka apapun yang kita lakukan akan menghasilkan sesuatu yang akan membuat hidup kita makmur dan bahagia.

Namun banyak orang hanya berfokus pada apa yang mereka lakukan saja. Apa akibatnya? Mereka merasakan bahwa sukses itu harus ditempuh dengan usaha yang sangat keras.

Ya dari rumus di atas bisa dilihat jika kita misalkan “have=10” dimana bisa diartikan kita ingin memiliki kekayaan senilai 10 maka orang-orang yang bekerja keras bisa jadi memaknainya dengan “1 x 10”. Artinya adalah “be = 1” dan “do = 10”. Jadi mereka sedikit mengenal dan memahami diri mereka sendiri namun bekerja sangat keras dan sukses.

Namun ada juga yang mendapatkan 10 itu dengan cara “2 x 5”. Artinya mereka lebih mengenal dirinya sehingga hanya perlu melakukan usaha sebesar 5 (separo dari yang pertama bukan?) untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup.

Fenomena seperti di atas sering kita jumpai di masyarakat. Kita tentu pernah berpikir mengapa si A yang kelihatannya santai namun hidupnya penuh kelimpahan dan bahagia lahir batin sedangkan si B yang bekerja membanting tulang siang dan malam menjadi kaya namun tetap saja kekurangan dan dihinggapi banyak kecemasan. Apakah yang membedakan?

Menyiapkan seorang anak untuk bisa memahami siapa dirinya yang sesunguhnya akan sangat membantu hidupnya kelak. Emosi negatif adalah sinyal bahwa kita harus melakukan sesuatu. Emosi negatif ada untuk dikelola sehingga menguntungkan kita bukan untuk dihindari. Kita tak mungkin menghindari munculnya emosi negatif karena mekanisme itu adalah hasil ciptaan Yang Maha Kuasa.

Selain itu kita perlu memberikan kesempatan pada anak kita mengambil keputusan dan menjalankannya. Dengan begitu mereka merasa memiliki kendali atas hidup mereka. Seorang anak yang merasa memiliki kendali atas hidupnya akan tumbuh jauh lebih percaya diri dari pada seorang anak yang terus dilindungi dan diatur oleh orangtuanya.

Persiapkan anak anda untuk "menjadi" karena dunia akan menyiapkannya untuk "mempunyai"


Bagaimana ? Semoga kutipan di atas bermanfaat buat yang membacanya, apalagi buat saya… ha ha ha…..
Jika anda belum registrasi di website ini, buruan lo. Silahkan klik aja link-nya di salah satu link pendidikan yang saya pajang di sidebar kiri blog ini.

Sekalipun Shaum Ramadhan, tetap semangat beraktifitas. Entah kenapa, semakin Ramadhan saya merasa waktu semakin cepat berlalu. Kenapa ya…???
Selengkapnya...

18 Agustus 2009

Dua Kegembiraan yang Berdampingan



Pada tahun 2009 ini ada dua kegembiraan yang hadir secara berdampingan. Kegembiraan merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-64 dan kegembiraan menyambut bulan suci Ramadhan. Dua momen yang memiliki nilai tersendiri di hati kita tentunya selaku muslim dan mukmin yang sangat menyadari bahwa kemerdekaan yang kita raih dan kita nikmati sekarang adalah selain hasil perjuangan para syuhada negri ini juga adalah anugrah dan nikmat Allaw SWT yang tiada terhingga.

Hari ini 18 Agustus 2009 bertepatan dengan 27 Sya’ban 1430 H. Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan Sya’ban dan menyongsong Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah.
"Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian bershaum, sebagaiman telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa." (Q.S. Al-Baqarah [2] : 183)
Demikian seruan Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 183. Ya..panggilan shaum (puasa) hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Maka kaum mukmin jugalah yang menyahuti panggilan tersebut dengan kegembiraan.
Shaum merupakan ibadah yang penuh totalitas. Pengendalian diri total, baik pada tataran fisik, akal, maupun jiwa. Pada tataran fisik, kita menahan diri dari berbagai kenikmatan yang sebenarnya halal untuk kita nikmati. Pada tataran akal, kita berusaha mengendalikan segenap perbuatan kita dengan kekuatan rasio, bukan hawa nafsu. Pada tataran jiwa, kita belajar untuk memahami makna sabar yang sebenarnya. Sungguh ibadah paripurna.
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang lebih baik dari 1000 bulan. Bertaburan berbagai bonus dan doorprize ibadah di dalamnya. Maka jangan sia-siakan momentum ini. Marilah sama-sama kita meraih bonus dan doorprize ibadah demi sebuah cita-cita termulia yaitu meraih taqwa.
Sebelum Ramadhan tiba, selayaknya kita saling maaf memaafkan. Mohon dimaafkan segala kesalahan dan kekhilafan, selaku makhluk Allah….manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Agar hati benar-benar bersih selama menjalankan ibadah…jauh dari segala syak prasangka. Semoga kita nantinya mampu menjadi hamba yang kembali fitrah di awal Syawal. Amin…!!
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH SHAUM RAMADHAN 1430 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN…!!
Selengkapnya...

8 Agustus 2009

Wise Words of The Day


Dapatkah Anda bayangkan kesepian yang lebih buruk
dibandingkan yang satu ini?
‘Manusia adalah orang yang asing bagi dirinya sendiri'
- sekolahorangtua.com -

Jadi inget lagu-nya Oppie Andarista....
I'm single...but very happy...
(Mungkin karena merasa tidak pernah asing
dengan diri sendiri kali ye...
he...he...he...
Selengkapnya...

4 Agustus 2009

Chain Card Game





Hari ini 4 Agustus 2009 saya menerima seorang mahasiswa IAIN Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris untuk melakukan research di sekolah saya. Namanya Khairul Ikhsan, tinggal di Pasar 3 Dondong Stabat, kira-kira 40-an km dari kota Pangkalan Brandan. Eh bener gak ya ? Gak pasti juga sih…habisnya gak pernah ngukur sendiri sih. He he he.

Ikhsan melakukan research untuk melengkapi data-data yang ia butuhkan dalam penyusunan skripsinya yang berjudul A COMPARATIVE STUDY OF USING CHAIN CARD AND NUMBER HEADS TOGETHER TECHNIQUES IN TEACHING SIMPLE SENTENCE. Anak muda ini cukup cerdas, ulet dan bukan ‘penggemar jalur aman’ seperti yang saya posting bulan lalu alias tidak gampang nyerah. Buktinya ia mau bersusah payah menyusun skripsi sendiri dengan menggunakan alat pengumpul data yang langsung observasinya masuk ke kelas mengajar siswa. Jarang-jarang lo ada yang mau begini. Beberapa mahasiswa research yang pernah saya layani, mereka hanya melakukan pengumpulan data melalui angket atau list wawancara. Bernyali juga neh anak muda.

Dari proses research-nya tersebut ada yang ingin saya share buat teman-teman. Sesuai dengan judul skripsinya, Ikhsan menggunakan Chain Card Game untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kalimat-kalimat sederhana berdasarkan pola Simple Sentence. Strategi Chain Card Game (Permainan Kartu Berantai) ini dikolaborasikan dengan Model Pembelajaran Cooperative Number Head Together (NHT).

Chain Card Game adalah sebuah terjemahaan bebas dari Permainan Kartu Berantai. Para pemain memainkan kartu ini layaknya seperti bermain kartu remi. Dalam permainan ini, pemain ditugaskan menyusun kartu-kartu yang dimiliki agar menjadi sebuah kalimat atau jika ingin lebih asyik bisa juga memainkan kartunya untuk meneruskan kalimat pemain lawan yang belum selesai, bisa di awal atau di akhir susunan kartu.

Permainan ini dapat dimainkan oleh empat pemain atau lebih, dengan jumlah kartu 60 lembar setiap setnya. Jumlah ini dapat saja ditambah atau dikurangi. Ya disesuaikanlah dengan kondisi yang ada termasuk kondisi kita sendiri sebagai guru untuk menyiapkan kartu-kartu tersebut. Di setiap kartu tertulis satu kosa kata dalam bahasa Inggris, yaitu sebuah penggalan-penggalan kalimat yang telah diatur sehingga jika kartu dimainkan dengan benar akan terbentuk suatu kalimat bahasa Inggris yang benar.

Selayaknya Kartu-kartu tersebut terbuat dari karton dengan ukuran 5 x 8 cm. Akan tetapi ukuran ini dapat saja disesuaikan dengan selera pembuat kartu.
Proses pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan strategi Chain Card Game ini banyak nilai positifnya. Salah satu yang paling penting ialah timbulnya suasana fun dalam proses pembelajaran. Namanya juga game…permainan…anak-anak pasti doyan. He he he…
Tapi seperti biasa….harus pinter-pinter me-manage kelas. Jika tidak ingin kelas jadi rame tidak terkendali seperti pasar.

Yap kepada teman-teman yang belum pernah mencoba Chain Card Game, coba deh. Ayo kita ramaikan suasana kelas dengan berbagai model pembelajaran cooperative dan strategi yang menyenangkan.

Selengkapnya...

31 Juli 2009

Wise words of The Day


Seorang pendidik yang hebat bukanlah seorang manusia yang sempurna,
tetapi seseorang yang mempunyai ketenangan untuk mengosongkan diri
dan mempunyai kepekaan untuk belajar
- sekolahorangtua.com -

So...ketika anda memutuskan untuk menjadi guru....
Janganlah berhenti belajar dan belajar.
Never old to learn....!!
Selengkapnya...

30 Juli 2009

Akhirnya 'Cair' Juga...!


Setelah melalui polemik yang cukup panjang tentang Tunjangan Profesi, akhirnya terjawab jugalah segala pertanyaan selama ini. Antara ada dan tiada. Antara janji dan realisasi. Akhirnya guru-guru non PNS dibawah naungan Departemen Agama di lingkungan Kabupaten Langkat yang telah lulus sertifikasi menerima apa yang disebut-sebut sebagai Tunjangan Profesi.

Tunjangan Profesi bagi guru-guru Non PNS merupakan stimulus yang sangat berarti. Apalagi untuk guru-guru yang bertugas di daerah. Walaupun beberapa guru yang telah dinyatakan lulus pada awal Januari 2008 sedikit kecewa dengan ‘jumlah’ yang mereka terima, karena tidak sesuai dengan peraturan yang ada (hanya menerima untuk 6 bulan, semestinya 18 bulan/1,5 tahun), namun mereka tetap bersyukur atas anugerah itu. Pihak Mapenda Kabupaten Langkat berjanji untuk ‘meluruskan’ kekeliruan itu. Semoga niat baik Bapak-bapak pejabat di Mapenda Langkat mendapat kemudahan dan keberhasilan.

Sebagaimana tujuan pemerintah bahwa program sertifikasi diharapkan bukan hanya dapat meningkatkan kwalitas pendidikan di Indonesia, tetapi juga meningkatkan taraf hidup para guru. Benarkah itu dapat terwujud ? Kita lihat saja nanti.

Semoga Tunjangan Profesi ini dapat benar-benar memenuhi fungsinya. Walaupun sebenarnya semuanya itu tergantung pada hati guru juga. Karena hanya guru yang bekerja dengan kolaborasi yang seimbang antara otak dan hati yang dapat mewujudkan nilai-nilai profesionalisme yang sebenarnya. Alangkah naifnya jika para pendidik menganalogikan ‘kwalitas’ tergantung pada isi kuali dan isi tas.

Yang lebih penting lagi semoga para guru baik PNS maupun Non PNS yang telah menerima Tunjangan Profesi dapat meningkatkan kwalitas kerja, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial di lingkungan kerjanya. Alangkah indahnya jika guru-guru yang telah lulus sertifikasi dan telah menerima tunjangan profesi dapat menjadi sosok yang mampu memberi motivasi bagi orang-orang di sekelilingnya.

Selengkapnya...

25 Juli 2009

Wise Words of The Day


"Ada dunia yang harus ditemukan dalam diri setiap anak,
Hanya kebijaksanaan dan kasih sayang tulus
Yang dapat membimbing mereka menemukannya."
- www.sekolahorangtua.com -

Kebijaksanaan....kasih sayang tulus.....
sungguh sesuatu yang tidak dapat dibeli dan ditukar dengan apapun

Selengkapnya...

19 Juli 2009

Bercermin pada 'Are You Smarter than A Fifth Grader?'



Sabtu malam jika tidak ada pekerjaan atau tidak ada acara lain, biasanya saya nyantai nonton televisi. Tepat pukul 19.00 WIB saya selalu turn on pada channel Global TV. Ada satu segmen di Global TV yang paling saya suka pada jam segitu, yaitu ‘Are You Smarter than A Fifth Grader ?’ yang dipandu oleh Tantowi Yahya. Pada segmen ini kita akan menemukan bocah-bocah seusia Laskar Pelangi kelas 5 SD dan berjumlah 5 orang pula. Mereka adalah Barry, Bima, Belinda, Namira dan si mungil Quinsha. Anak-anak periang, cerdas dan penuh percaya diri. I like them very much.
Tapi sebenarnya bukan anak-anak tersebut yang menjadi topik pembahasan kali ini teman. Ada satu pembelajaran yang menarik pada acara ini.

Saya justru ingin mengajak kita semua untuk bercermin pada anak-anak tersebut. Dalam segmen Are You Smarter than A Fifth Grader para peserta kuis akan dihadapkan dengan 10 pertanyaan selevel pertanyaan siswa kelas 1 sampai kelas 5 SD. Belum ada seorang pesertapun (sejauh yang saya tonton) yang berhasil sampai ke level akhir pertanyaan. Saya sendiri diam-diam sering ikutan kuis ini sambil nonton. Hasilnya…hi hi hi…. Kadang saya kalah lo sama 5 jagoan itu. Terkadang kalah cepat, terkadang kalah total alias jawaban saya salah. Bener-bener skak mat lah….. Aih itu anak-anak sungguh gemesin.

Terkadang saya berpikir, andaikata Bapak Sudibyo, Mendiknas kita ikutan quis ini, bisa gak ya beliau sampai pada level akhir. Terus andaikan gagal, mau gak ya beliau merubah aturan main kelulusan versi UN yang kontroversi itu. Ha ha ha…. Menghayal daku teman.

Terkadang beberapa teman saya yang seprofesi guru sering mengeluh tidak mampu membimbing pelajaran Matematika atau IPA anaknya yang duduk di kelas 6 SD. Tentu saja teman saya itu tidak mengajar Matematika atau IPA. Nah kalau sudah begini, terasalah betapa beratnya beban pelajaran anak-anak kita yang sehari-hari dijejali dengan ilmu dari berbagai jenis. Mulai Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Asing, Kesenian, Agama dan lain sebagainya. Haruskah kita emosi membabi buta ketika salah satu nilai mereka anjlok tanpa pernah toleransi sedikitpun ? Kita sendiri yang orang dewasa terkadang gagal me-review pelajaran-pelajaran sewaktu kita SD dulu.
Seorang teman saya yang bertugas sebagai guru juga, tetapi ia tugas di Negara tetangga, yaitu Swedia. Beliau pernah mengatakan kepada saya bahwa dari segi materi pelajaran, pelajaran di Indonesia jauh lebih berat dari pada di Swedia (kebetulan teman saya itu mengajar tingakt SD di sana). Hanya saja di sana siswa sudah dikenalkan dengan IT sejak dini. Ya eyalah lain ladang lain belalang-nya. Bukan begitu teman ?

Secara psikologis ada sedikit perubahan dalam diri setelah sering menonton ‘Are You Smarter than A Fifth Grader’. Saya lebih mampu mengontrol diri jika hasil kerja siswa sangat jauh dari yang diharapkan. Habisnya terkadang hasilnya sungguh keterlaluan. Ya ya ya…..ngaku deh. Karena jadi teringat diri sendiri yang…. “GAK LEBIH PINTAR DARI SISWA KELAS 5 SD…..!!!” (Gak pa-pa lah jika murid sendiri ada yang baca artikel ini…he he he…. ). Salut buat Global TV yang punya ide meng-create acara seperti itu.

Yang belum pernah nonton…..monggo….silahkan….tonton deh di Sabtu malam….!!

Selengkapnya...

5 Juli 2009

Wise words of The Day


Buatlah Hidupmu Berguna Bagi Orang Banyak,
Karena Kamu Juga Akan Membutuhkan Orang Banyak
- Fred Lawson -

So….. Tolong menolong itu hanya masalah waktu teman,
Hari ini kita menolong orang, mungkin besok kita yang membutuhkan pertolongan orang lain.

Selengkapnya...

Benarkah Mudah Menjadi Profesional?



Semua orang tentu ingin menjadi professional terhadap profesi yang di embannya. Apalagi di era global yang segala sesuatu menjurus kepada arena yang serba digital. Begitu juga dengan profesi tenaga pendidik atau yang familiar di sebut dengan guru. Menjadi guru yang professional tidaklah gampang. Begitu pemikiran saya yang awam ini. Membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Maka ketika saya menemukan buku yang berjudul CARA MUDAH MENGEMBANGKAN PROFESI GURU, saya senyum-senyum sendiri. Tau kenapa? Ya merasa diledek aja. He he he…. Seperti biasa setiap menemukan buku baru saya selalu lihat daftar isi. Hmmm…..asyik juga content-nya, teman. Ini saya share sedikit bocorannya.

Buku ini berjudul CARA MUDAH MENGEMBANGKAN PROFESI GURU. Tentu saja yang dimaksud adalah mengembangkan profesi guru menjadi guru yang professional. Penulisnya adalah Drs. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Sc dan Dra. Ida Ayu Sayogyani serta editor Didik Komaidi, S.Ag., M.Pd. Terdiri dari 252 halaman dan cetakan pertama pada bulan Mei 2009. Harga tidak begitu mahal. Hanya Rp 38.000,- Ya setidaknya murahlah daripada susun plus cetak sendiri. He he he. Belum lagi ditinjau dari segi manfaat. Pokoke mantaplah…!

Dalam buku ini dibahas tentang bagaimana seorang guru harus mengembangkan profesinya degan cara :

1. Memaham Profesi.

2. Meningkatkan Kompetensi

3. Meningkatkan Kenaikan Pangkat/Golongan (ini bagi guru PNS, lantas yang non-PNS bagaimana? He he he…gak usah dipikirin. Toh guru non PNS yang telah lulus sertifikasi mendapat jumlah tunjangan profesi yang sama dengan guru PNS, sesuai dengan jenjang inpassing masing-masing. So Pake jargon Depag aja…. Ikhlas Beramal. Dijamin gak pernah merasa rugi… dunia akhirat. Cieee…..)

4. Menulis Karya Ilmiah seperti Makalah, Penelitian (PTK), Laporan Penelitian, Artikel Ilmiah Populer, dll.

Nah cucok bangetkan dibaca oleh guru-guru yang belum pernah menulis KTI dan ber-PTK seperti saya. He he he… Memang bagi rekan-rekan yang sering searching di google info ini mudah di dapat. Tapi saya menemukan ada hal-hal lain yang lebih special dari pada googling. Pemaparan di buku ini cukup sistematis walaupun dijabarkan semua topic di atas hanya dalam 252 halaman. Yang pasti singkat, tepat, padat dan langsung ke point sasaran.

Tidak salah kiranya pada cover depan tertulis BUKU WAJIB GURU. Emang layak sih untuk dibaca bukan hanya oleh guru, tetapi juga untuk calon guru dan peminat keguruan.

Satu hal yang menarik pada buku ini. Pada halaman 32 terdapat pesan moral yang cukup nendang. Begini bunyinya:

“Bagaimana pun luasnya wawasan dan ketrampilan yang dipersyaratkan di atas, tanpa ada kemauan untuk mencoba melakukannya, karya tulis tersebut tidak pernah akan terwujud.”

O,ya ada satu pesan saya teman. Jika anda membeli buku ini dalam keadaan masih disegel, buka aja deh segelnya langsung di temapt atau di depan kasir. Lalu periksa tiap halaman. Jangan seperti saya, buka segel di rumah, setelah dilihat ada halaman yang kosong yaitu halaman 150 dan 155. Mau balik ke Gramedia lagi..hiii….gak ku ku la…. Medang-Brandan ± 82 km. Ya emang rezekinya gitu kali ye….

Selengkapnya...

3 Juli 2009

Wise words of The Day


Kata-kata Adalah Sesuatu Yang Sangat Berharga
Maka Pergunakanlah Hanya Untuk Kebenaran

Jadi inget jargon.... Talk Less... Do More....!!

Selengkapnya...

Dari Teacher Center Menuju Student Center


Pengembangan Kurikulum di Negara kita cenderung menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini. Baik itu masyarakat dari rumpun pendidikan maupun non pendidikan. Kurikulum yang cenderung gonta ganti dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun menimbulkan polemik. Mungkin ada baiknya sebelum kita membicarakan hal ini lebih jauh, kita tinjau kembali pemikiran Bapak Drs. Abdullah Idi, M.Ed dalam bukunya Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Beliau menyatakan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum. Salah satu diantaranya adalah Prinsip Relevansi.

Dalam Oxford Advanced Dictionary of Current English kata relevansi atau relevant mempunyai arti (closely) connected with what is happening, yakni mempunyai arti kedekatan hubungan dengan apa yang terjadi.
Soetopo dan Soemanto (1993: 49-50) dan Subandijah (1993: 49-50) mengungkapkan prinsip relevansi dalam pengembangan kurikulum sebagai berikut:

1. Relevansi Pendidikan Dengan Lingkungan Anak Didik
2. Relevansi Pendidikan Dengan Kehidupan Sekarang dan Kehidupan Yang Akan Datang
3. Relevansi Pendidikan Dengan Dunia Kerja
4. Relevansi Pendidikan Dengan Ilmu Pengetahuan.

Beranjak dari hal tersebut di atas, dinyatakan pula bahwa salah satu komponen kurikulum ialah Komponen Strategi Belajar Mengajar. Jika kita membicarakan Strategi Belajar Mengajar maka tidaklah terlepas dari unsur Pendekatan (approach), model dan metode (method). Seiring dengan pengembangan kurikulum selama ini, telah terjadi perubahan Paradigma Pendidikan dikalangan para tenaga pendidik.

Jika dahulu Paradigma Pendidikan kita mengarah kepada Teacher Center, maka sekarang arah itu perlahan tapi pasti telah berubah menuju Student Center.

Bagaimanakah ciri-ciri pembelajaran Student Center ? Pembelajaran Student Center adalah Pembelajaran yang bersifat GENT (Govern Enforce Notify Tells and Sanction). Govern yang berarti mengajar itu lebih bersifat memerintah, dipusatkan pada pembentukan tingkah laku stimulus–respon terdiri dari :
• Enforce
• Notify
• Tells
• Sanction

Enforce yang berarti memberi reward(penghargaan), tetapi memaksa karena siswa dipaksa untuk memberi respon dari stimulus yang diberikan guru.

Notify yaitu guru mengamati siswa satu persatu dengan maksud memaksakan sesuatu, yaitu pembentukan perilaku yang diharapkan

Tells yaitu guru banyak bicara, dalam arti berbagai hal yang diketahui guru diinformasikan kepada siswa
Sanction yaitu pemberian sangsi atau hukuman

Sedangkan pembelajaran yang bersifat Teacher Center ciri-cirinya ialah peran guru di kelas berubah (Peran–peran yang bersifat GENTS menuju FEMALES ). Strategi pembelajaran berkembang, dari pemberian konsep-konsep menuju kepada ketrampilan-ketrampilan berpikir atau mengaplikasikan konsep-konsep.

FEMALES adalah singkatan dari:

• Facilitate, yaitu guru sebagai fasilitator, guru tidak selalu merasa serba tahu; (so jika kita emang gak tahu ngaku aja, dan berjanji untuk mencari tahu. Daripada berlaku sok tahu..bisa menyesatkan peserta didik lo. He he he...)
• Enable, yaitu membuat siswa mampu berbuat sesuatu;
• Monitor, yaitu guru memonitor proses yang sedang berlangsung;
• Advice, yaitu peran guru sebagai penasehat, pemberi saran gagasan
• Listen, guru hendaknya banyak mendengar pendapat siswa atau menyadap proses yang berlangsung dalam kelas.
• Empathy, yaitu sikap guru mampu menghayati hal yang dialami/dirasakan siswanya;
• Support, yaitu peran guru sebagai pendukung yang dilakukan siswanya.

Berdasarkan karakteristik peran GENTS dan FEMALES, maka orientasi pembelajaran berubah dari Teacher Centered menuju Student Centered. Walaupun secara keilmuan terjadi perubahan-perubahan (perkembangan), namun kenyataan di lapangan masih menunjukkan fenomena yang sebaliknya, yaitu masih banyak guru yang berorientasi pada teacher centered, yaitu guru masih menekankan pada perannya sebagai penyampai materi pelajaran (transformator). Hiks..hiks… ngaku deh…kadang-kadang saya juga masih gitu… Kadang-kadang lo… ya gitulah, kadang-kadang…kiding-kiding…kudung-kudung…. He he he….

Perubahan paradigm inilah yang kemudian menghadirkan model-model pembelajaran seperti Inkuiry, Discovery Kooperatif, Direct Instruction (DI), Problem Based Instruction (PBI) dan lain-lain. Ntar deh kita bahas…dengan catatan…. Jika sudah diaplikasikan… Ya ya ya… Ibda’ binafsih teman.

Referensi:
1. Drs. Abdullah Isi, M.Ed, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Gaya Media Pratama, Jakarta. 1999
2. Soetopo, H.S & Soemanto, W., Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta. 1993
3. Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 1993
4. EZRA JHEMIYANTA, S.Pd., M.Pd; Presentasi Seminar Model-model Pembelajaran


Selengkapnya...

24 Juni 2009

Wise words of The Day


"Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan
Adalah orang muda yang tidak pernah menua.
Tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan,
Telah menua sejak muda."
- By Mario Teguh -

Hmmm...kawan.. Apakah anda ingin cepat tua ? he he he...

Selengkapnya...

'Jalur Aman'...? Gak Seru....!


Hidup adalah perjuangan. Ini adalah statement klise yang sering kita dengar bahkan mungkin juga sering kita ucapkan. Sederhana memang…tetapi maknanya sangat dalam. Ketika kenyataan hidup tidak seperti apa yang kita harapkan…hmmm… tanamkanlah statement ini dalam diri, maka kita akan mendapat ‘energi’ baru untuk tidak selalu ‘bermain’ di ‘jalur aman’. Jalur aman ? Apaan itu ya…?

Seorang mahasiswa yang enggan bersusah payah menyusun skripsi sendiri, maka dia tidak perlu pusing tujuh keliling memikirkannya. Cukup order dengan oknum-oknum tertentu, maka dalam waktu beberapa minggu skripsi selesai secara instan bahkan tanpa penelitian.

Seorang guru yang diharuskan menyusun porto folio, tetapi malas mempelajarinya, gak perlu heboh, cukup order juga maka porto folio telah tersusun rapi dengan bukti fisik yang menakjubkan.

Kawan, cukup dua contoh diatas saya berikan sebagai ilustrasi ‘jalur aman’ yang saya maksud. Tentunya kawan juga memiliki banyak contoh-contoh lain di sekitar kita yang menjurus pada ‘jalur aman’ ini. Yang paling memprihatinkan apabila pihak-pihak yang ‘mencintai’ kondisi ini berada di dunia pendidikan. Benar-benar mata rantai yang perlu dipertimbangkan untuk dilestarikan.

Cuma masalahnya sekarang, bagaimana caranya agar kita tidak gampang tergiur dengan ‘jalur aman’ tersebut ? Coba deh beberapa tips berikut !

1. Jika menemukan kesulitan dalam suatu proses, jangan pernah katakan…. “Duh pening/pusing ngerjainnya”, tetapi katakanlah…. “Duh seru juga neh..”

2. Jika merasa masalah yang kita hadapi cukup berat, dari pada meminta kepada Yang Maha Kuasa supaya masalah segera berlalu, lebih baik memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan kemudahan dan kemampuan untuk menyelesaikannya.

3. Ketika kita merasa mejadi orang yang paling malang…. Yakinkan dalam diri bahwa masih banyak orang lain yang tidak seberuntung kita.

4. Ketika kita merasa bahwa hidup tidak adil, coba hitung berapa banyak nikmat Allah yang sudah diberikanNya kepada kita… (hayooo…sapa yang sanggup menghitungnya…??)

5. Jika kita telah melakukan suatu kekeliruan, segeralah perbaiki tanpa harus ‘menteladani’ kekeliruan orang lain demi menutupi kekeliruan diri sendiri.

Bagaimana kawan ? Cukup 6 saja ? Yang ingin menambahi silahkan tuangkan di kolom komentar. Insya Allah jika 6 poin tersebut dapat kita aplikasikan, maka kita dapat terhindar dari ‘jalur aman’ tersebut yang sebenarnya sungguh ‘tidak aman.’ He he he…. Anyway….selamat menikmati liburan buat rekan-rekan yang berlibur. Semoga usai liburan kita dapat kembali bertugas dengan lebih fresh dan energik tentunya.

Selengkapnya...

11 Juni 2009

Wise words of The Day


Good days give you happiness
Bad days give you experiences
Both are essential to life

Now…what will you say about your days…??

Selengkapnya...

Learning to Listen Our children



Talking about children behavior is very interesting. Moreover if we compare the children behavior away back and the era now. As Robert M.W Travers said: “Life is sequence of problems for most higher organism. What is undertaken today is not the same as what was undertaken yesterday, because situations, though similar from day to day, are not so alike that they can always be handled in precisely the same way.” (Essentials of Learning, fifth Edition, New York, Macmillan Publishing Co. Inc., 1982, on page 259).

Nowadays, maybe you face the children who is watching cartoons and with children singing “Say No To Drugs” in commercial breaks. Even they don’t know what does it mean? They scared to dream in the decreasing job market. Sometimes they are scared to love in the face of AIDS, and the worst thing they scared to trust in this violent society. Many parents confuse… Do we really have children or just short adult?

If you get trouble with this situation, here are some tips that we can try to do right now…

• Read their magazines and books to learn the issues and concerns of their age group.

• Watch television programs and movies with them to see what they are learning from TV.

• Listen to their music. Do the lyrics coincide with the morals you are teaching?

• Develop common interests. Try out a game or CD ROM, this will open up things to talk about and show your kids that you can relate on their level.

• Talk to teachers and guidance counselors at parent conferences. They deal with kids five days a week and can tell you the concerns of today's youth.

• Get to know your child's friends and their parents when they visit. This will give you another view of children your child's age.

But if you’re busy parents…hmmm… there is nothing you can do except…. manage your time for your children. The communication lines also need to stay open. Two keys roles in communicating are educating your child and learning to listen them.

Selengkapnya...

6 Juni 2009

Wise words of The Day


Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti.
Akan tetapi anda harus lebih takut
untuk tidak tumbuh sama sekali.
Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.
- By Mario Teguh -

Pertumbuhan akan muncul seiring proses. So..berproseslah….!! Maka Insya Allah, hidup akan terasa lebih indah dari yang kita kira…..!!

Selengkapnya...

Seleksi Peserta Sertifikasi 2009 Yang 'Aneh'


Senang sekali hari ini punya peluang nulis lagi, disela-sela hari-hari tugas yang gak jelas. Antara tugas guru and kuli. He he he…. Kalo jadi kuli perusahaan ada peluang tajir ya, tapi kalo jadi kuli ummat…hmm….walopun gak bakal tajir…..asyik juga kok. Paling tidak mengaplikasikan ‘pesan’ Rasul: Ingatlah yang lima sebelum datang yang lima. Eiitss…kepanjangan neh intronya, terus apa yang mo dishare hari ini ? Ada teman…ya sedikit curhatlah…!!

Akhir Mei lalu diumumkan guru-guru dibawah naungan Departemen Agama Kabupaten Langkat yang dipanggil untuk sertifikasi. Hasil pengumuman ini sungguh mencengangkan. Rekan sejawat saya yang masa tugasnya lebih dari 10 tahun belum dipanggil, tetapi yang masa tugas 5 - 8 tahun sudah dipanggil. Beban tugasnyapun lebih sedikit dari yang masa tugasnya lebih dari 10 tahun. Yang lebih mencengangkan lagi beberapa guru yang belum S1 juga turut dipanggil padahal usia masih 20-an (mereka kuliah semester 8). Semua orang juga tahu bahwa salah satu syarat akses menuju Sertifikasi Guru adalah harus telah S1 (relevan atau tidak). Fasilitas kemudahan non S1 diberikan kepada guru yang telah berusia di atas 50 tahun. Aih aneh bin ajaib. Saya jadi turut prihatin dengan beberapa rekan sejawat yang kecewa.

Kalau masa kerja yang lebih rendah tetapi telah mencukupi lima tahun, mungkin masih bisa ditolerir, tetapi yang belum S1 itu bagaimana ? Bukankah salah satu syarat akses Sertifikasi Guru adalah berpendidikan S1 ? Entahlah. Waiting list yang dikeluarkan Departemen Agama pada tahun 2008 lalu ternyata tidak ada kekuatannya. Yang ada hanya kekecewaan. Mungkin lebih baik gak usah dikeluarkan waiting list kali ya? Jadi para guru tidak berharap jauh.

Kepada rekan-rekan yang merasa dikecewakan dengan keadaan ini, jangan khawatir…. Pasti ada hikmah dibalik sebuah peristiwa. Tugas tetap jalan. Jaman dahulu walaupun tidak ada iming-iming Sertifikasi toh para guru kita tetap menjalankan tugasnya….buktinya kita bisa begini karena jasa mereka juga. Mereka-mereka yang ikhlas mengabdi tanpa peduli dengan segala embel-embel ‘Profesionalisme’.

Apakah 'keanehan' ini hanya terjadi hanya di Kabupaten Langkat saja ? Atau hanya yang di lingkungan Departemen Agama saja ? Entahlah. Mungkin teman-teman yang diwilayah luar Langkat bisa share di kolom komentar. Gimana Seleksi Peserta Sertifikasi Guru di wilayah Kabupaten anda ……..?

Selengkapnya...