MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

13 Januari 2011

Buku Bergizi; La Tahzan for Teacher




Bagi anak berkebutuhan khusus, model pendidikan inklusif memberikan rasa hormat dan kebanggaan pada diri sendiri, sedang bagi anak normal, pendidikan inklusif mengajarkan mereka bersyukur dan menerima perbedaan. Semua siswa, termasuk juga gurunya, jadi memiliki kesempatan memperkaya hati, tentu bila guru dapat mengarahkannya dengan baik.

Kalimat diatas dikutip dari buku La Tahzan for Teacher pada halaman 6 yang ditulis oleh dua orang guru muda yaitu Ibu Irmayanti dan Gita Lovusa. Saya merasa ‘tertampar’ dengan pernyataan “…memiliki kesempatan memperkaya hati…”

Kalimat-kalimat tersebut mengingatkan saya pada sebuah kelas di madrasah tempat saya tugas. Di kelas ini siswanya beraneka ‘warna’. Ada seorang siswa perempuan yang perkembangan kognitif dan afektifnya jauh tertinggal dibandingkan dengan perkembangan seks-nya (gaya bicaranya pun seperti anak autis). Ada siswa yang emosinya cenderung tidak terkendali gampang merampang (marah membabi buta tidak perduli siapa dihdapannya). Ada juga siswa yang banyak bicara tetapi tidak mampu ‘mendengar’ dengan baik, sehingga sering menimbulkan salah paham tidak hanya dengan teman-temannya, tetapi juga dengan guru, tentu saja semuanya akan berakhir dengan keributan. Huufff…itu baru sebahagian. Jadi jangan heran jika guru yang masuk di kelas ini bakal mendendangkan ‘lagu’ complain yang berkepanjangan. Mungkin kondisi-kondisi seperti inilah yang tidak pernah didiskusikan di Perguruan Tinggi tempat calon tenaga pendidik dipersiapkan, sehingga begitu ‘turun gunung’, banyak tenaga pendidik yang jadi stress dalam menghadapi keaneka ragaman ‘warna’ tersebut.

La Tahzan for Teacher merupakan salah satu buku ‘bergizi’ yang perlu ‘dikonsumsi’bukan saja oleh guru tetapi juga oleh orang tua. Karena pada dasarnya guru adalah orang tua siswa di sekolah (walaupun terkadang banyak guru yang tidak dapat menganggap murid sebagai anaknya di sekolah), apalagi yang memang orang tua yang telah diamanahkan anak. Selain itu problem yang dimunculkan dalam buku ini berdasarkan kisah nyata yang dialami penulis.

Beberapa ‘keunikan’ anak dan fenomena kelas/sekolah yang kadang terabaikan yang dimunculkan dalam buku ini antara lain:
1. Doni, siswa dengan kondisi emosi yang tidak stabil, terkadang mengamuk di kelas tanpa sebab yang jelas.
2. Rahmi, siswa yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, sehingga cenderung sering menyakiti diri sendiri dengan menyilet bagian tubuhnya.
3. Ferro, siswa yang harus ‘bertekuk lutut’ dengan ambisi orang tua.
4. Herman, siswa yang ‘biasa-biasa’ saja dari segi kognitif, tetapi memiliki kecerdasan interpersonal yang patut diperhitungkan (inilah kecerdasan anak yang kadang diabaikan guru)
5. Arlan Soebarna, siswa yang memiliki kecerdasan verbal (banyak omong dan jago berbalas pantun), tetapi banyak guru yang dibuatnya BT karena sering nyeletuk ketika guru mengajar.
6. Siswa-siswa yang telah terlibat dengan seks bebas
7. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada anak
8. Kepercayaan yang jarang diberikan guru kepada siswa.

Khusus poin ke delapan, saya sempat terpaku membaca bagian ini. Yaitu pada kutipan-kutipan kalimat yang diambil dari film Kungfu Panda, seperti:

You’re not my teacher. You don’t even believe me
To make something special, you just have to believe that it is special


Sebelumnya saya sudah menonton film ini. Ketika itu saya sempat senyum-senyum dan manggut-manggut menyadari betapa film ini sarat dengan nilai-nilai pendidikan. Namun manggut-manggut saya ketika itu semakin menemukan ‘klik’-nya setelah membaca buku ini. Ya…trust… kepercayaan itu adalah salah satu modal membangkitkan kreatifitas siswa. Bagaimana mungkin mereka ‘nyaman’ melakukan sesuatu jika kita tidak mempercayainya…?

Masih banyak lagi problem-problem yang sering kita jumpai di lingkungan sekolah, dimana problem itu terkadang kita selesaikan dengan cara yang tidak bijak (termasuk saya sendiri, pengakuan dari lubuk hati terdalam. Hiikkss) yang dihadirkan dalam buku ini. Problem yang terkadang sekolah tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikannya. Seperti yang dinyatakan penulis pada halaman 16:

Sayangnya, sekolah bukanlah tempat yang terlalu ramah pada anak. Kurikulum padat, dan guru harus berkejaran dengan waktu karena semua harus selesai untuk Ujian Nasional. Tak banyak waktu tersisa untuk memperhatikan anak didik, mencari akar masalah mereka, mengobati luka yang menganga. Padahal anak-anak ini manusia.

Pada halaman 147 penulis selaku guru ‘muda’ memaparkan apresiasinya terhadap guru ‘tua’. Pada bahagian ini saya senyum-senyum membacanya, terutama pada pernyataan:

Jadi ingat heboh sertifikasi guru kemarin. Lama mengajar merupakan komponen kedua yang dinilai setelah gelar sarjana. Makin lama mengajar, makin besar poinnya. Tentu kesempatan jadi certified teacher yang (katanya) mumpuni dan sejahtera juga makin lebar. Kenapa begitu, ya? Hmm…, mungkin karena makin lama mengajar, kualitas guru jadi makin bagus.

Begitukah?

Mungkin saja sih. Tapi ingatkah kita pada sosok guru yang makin sulit didebat, makin sok tau, dan makin membosankan saja setiap dia masuk kelas? Bukankah biasanya guru demikian adalah guru yang ‘lama’ mengajar, yang dibilang banyak pengalaman?

Tentu saja usia muda tak berarti selalu baik. Kadang ‘muda’berarti mentah, emosional, dan mengedepankan ego. Kadang juga bertindak serampangan dan kurang pertimbangan. Sementara, kita banyak menemui guru tua yang makin lama makin berisi, setidaknya mereka mendukung perubahan dan angin baru di dunia pendidikan tanpa kecurigaan dan apatisme.

Ah, usia.

Usia yang bertambah memang bisa menunjukkan kematangan dan kebijaksanaan. Tapi, usia yang bertambah juga bisa mengikis idealism, mematikan antusiasme, dan menghilangkan kreatifitas. Ah, akankah hal itu terjadi pada saya, pada Chaerul, dan banyak guru lainnya? Akankah?

Setelah membaca bagian ini, tiba-tiba saja saya teringat pada diri sendiri. Walaupun saya tidak pernah merasa ‘tua’ (aih…gejala tidak tau diri kah ini..? ‘Ntahlah… he he he), tetapi setidaknya saya lebih tua dari penulis buku ini. Berdasarkan apa yang mereka paparkan, kok saya merasa mereka lebih bijaksana dari saya. Apakah saya termasuk orang yang merugi (Q.S Al-‘Ashr) ? Ya Robb, jangan biarkan aku menjadi hambaMu yang merugi.

Pada halaman 163 penulis juga mengajak guru untuk berlapang dada jika apa yang sudah diupayakannya tidak bersambut dengan baik. Untuk kasus ini penulis mengangkat kejadian-kejadian sederhana yang sering kali muncul di kelas dan sesering itu juga menjadi akar ‘konflik’ antara guru dan murid hanya karena guru tidak mampu berlapang dada. Topik ini sangat menarik, karena saya sendiri terkadang terlibat dalam ‘konflik’ tersebut. Misalnya saja ketika guru mengajar ada siswa yang keluar kelas dan makan di kantin. Tidak hadir dengan alasan yang tidak layak, seperti membantu orang tua menyuci. Kejadian-kejadian ini menunjukkan betapa guru tidak mampu ‘bersaing’ dengan ‘keadaan-keadaan’ seperti itu.
Untuk kasus ini saya jadi teringat dengan soal ujian semester ganjil kemarin. Untuk menguji kompetensi siswa dalam mengeluarkan pendapat saya membuat soal dengan redaksi:

What do you think of your school ?

Ketika mengoreksi lembar jawaban, salah seorang siswa saya menjawab begini:

Bad. If rain banjir. Sorry my teacher but it is my opinion.

Waktu itu saya tertawa sendiri membacanya (saat mengetik kalimat ini pun saya senyam-senyum). Inggris-nya itu lo. Perasaan tidak pernah mengajarkan struktur kalimat seperti itu, tetapi itulah ‘struktur kejujuran’. Ha ha ha… dan saya harus berlapang dada. Saya beri anak ini nilai sempurna untuk poin soal tersebut.

Yang paling menarik dari buku ini adalah penulis memberikan ulasan psikologi dalam menghadapi kasus-kasus yang disajikan. Jadi benar-benar menambah wawasan pedagogik seorang guru dalam menghadapi dinamika di lingkungan sekolah. Sangat bermanfaat bagi guru BP.

Hanya saja karena buku ini diangkat dari kisah nyata yang dialami penulisnya, walaupun dibarengi dengan tinjauan psikologis, tetapi tidak menyajikan bagaimana ‘hasil terapi’ yang telah mereka lakukan pada berbagai ‘kejadian-kejadian unik’ yang mereka alami itu. Sehingga terkesan ‘kedahsyatan’ kajian psikologis tersebut baru sebatas level ‘teoritis’ belum menyentuh level ‘praktis’. Bisa jadi saya yang keliru menafsirkan, karena setelah membaca buku ini, hati kecil saya berteriak…. I’M A BAD TEACHER…!

Namun secara keseluruhan, seperti yang saya nyatakan di bagian awal tulisan ini, La Tahzan for Teacher merupakan salah satu buku ‘bergizi’ yang perlu dibaca oleh tenaga pendidik dan orang tua. Salam hormat buat kedua penulis buku ini. Tenaga Pendidik muda tetapi memiliki aura ‘pencerah’.

21 komentar:

  1. Wow resensi buku yg keren dan komprehenship. Omjay menjadi termotivasi membacanya.
    terima kasih ya bu guru.

    salam
    Omjay

    BalasHapus
  2. Ternyata memang sangat di butuhkan belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain dari berbagai hal ya,Bu.Postingan yang menarik..

    BalasHapus
  3. @Om Jay: he he he.. Om Jay bisa saja membangkitkan 'semangat' menulis-ku. Saya juga selalu termotivasi dgn tulisan2 Om Jay. Trims Om

    @Aisha: bangeettt. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik ?
    Trims sdh mampir 'n komen

    @Mbak Lily: yap...emang itu lah adanya. ha ha ha
    Trims sdh mampir ya Mbak

    BalasHapus
  4. subhanallah, bu. senaaaang sekali mendapat apresiasi dari guru yang berpengalaman seperti bu ayu. sering2 sharing ya, bu, biar saya juga selalu bisa belajar. sekali lagi, terima kasih....

    oya, boleh saya link tulisannya?

    BalasHapus
  5. @Bu Irma: Wadu, tersanjung banget dapat tanggapan langsung dari sang penulis buku ini. Terimakasih sdh meluangkan wkt mampir di sini Bu. Sepertinya saya neh yang banyak belajar dari buku ibu.
    Silahkan link di share.. Bukankah Sharing is Fun..? he he he...

    BalasHapus
  6. Wow saya jadi tertarik mencari bukunya, seperti yang pernah saya baca entah dimana atau mungkin di blog Bu Ayuk ini ya bahwa kita bisa menjadikan setiap orang adalah guru kita dan jagat raya ini adalah universitasnya. Saya setuju dengan "usia banyak tidak menjamin lebih baik dari yang baru berusia sedikit" begitu pun "Belum tentu juga yang muda dan masih hangat menimba ilmu akan lebih baik dari yang lebih anom"...semua kemungkinan bisa saja terjadi karena kembali kepada individu masing-masing...tidak ada kebenaran yang absolut kan ? makasih bu Ayuk nyempatkan nih mumpung jam kosong...bentar lagi harus masuk kelas ..nitip link ya http://deepyudha.blogspot.com/2010/12/pemuda-dan-teknologi.html

    BalasHapus
  7. maaf bu Ayuk yang "anom" maksudnya adalah "sepuh" he..he...

    BalasHapus
  8. Trimakasih apresiasinya Bu.
    Boleh2 aj nitip link, mumpung free. he he

    BalasHapus
  9. wow...!!

    review bukunya bener2 komplit bgt...
    mbak sri memberikan review yang benar2 informatif dan dapat membuat orang bener2 tertarik untuk membacanya...

    hebat... good job mbak..
    keep posting ya mbak....^^

    BalasHapus
  10. Subhanallah... semoga dengan membaca buku itu ada peningkatan kualitas (terutama pendidik) yang makin baik.... amiin....

    BalasHapus
  11. wow mbak... buku yang berbobot sepertinya... jadi bener3 ingin cari nih di toko buku, nice to share this mbak... :)

    BalasHapus
  12. Subhanallah,
    Buku bagus banget ya Bu.
    Semoga bisa belajar banyak darinya, amin.
    Nice share Mam...
    ZAINUDIN IDRIS
    http://zayweb.wordpress.com

    BalasHapus
  13. latahza,,,?
    apakah buku ini mirip buku latahzan yang telah di publikasi sebelumnya..
    kunjungi jg bahan bacaan saya :
    jurnal ekonomi andalas

    BalasHapus
  14. resensi buku yang menarik deng quote2 yang menggoda untuk ditiru sebagai magian motivasi

    BalasHapus
  15. hm hm....
    buku2 yang diterbitkannya memang selalu inspiratif, dan praktis bisa segera diimplementasikan dengan semangat....

    Terimakasih yah mba sudah banyak sekali share hal positif disini untuk kami ^_^

    BalasHapus
  16. Semoga dimudahkan selalu ya ibu guru.
    Meskipun saya praktisi HS, namun saya selalu salut dengan guru-guru yang trust ke anak muridnya, bukan pekerjaan mudah tapi insya Allah dimudahkan Allah ya Bu niat baiknya, amin amiin.
    Maju teru pendidikan anak-anak di Indonesia !!

    BalasHapus
  17. terima kasih reviewnya bu...menjadi guru bkn perkerjaan yg mudah, tapi membutuhkan tanggung jawab dan kesungguhan yg besar.
    http://kafebuku.com/la-tahzan-for-teachers/

    BalasHapus
  18. dimana bisa saya dapatkan buku ini..can help me

    BalasHapus
  19. Di Gramedia ada, atau jika ada toko buku wali songo di kota anda juga ada

    BalasHapus

Komentar 'Yes' but Spam...oh...'No'...!