MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

28 Juni 2010

Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas - Andrea Hirata (Part One)



Padang Bulan

Tetralogi Laskar Pelangi karya Andea Hirata, yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov telah dibaca oleh jutaan orang di negri ini, bahkan telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (sekarang juga sedang dipersiapkan dalam bahasa Jerman). Selain itu dua diantaranya telah naik ke layar lebar, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Tetralogi Laskar Pelangi bukanlah novel biasa. Novel ini juga telah dipergunakan sebagai referensi tesis dan tulisan ilmiah lainnya. Sehingga tidaklah mengherankan jika Tetralogi Laskar Pelangi mampu go international. Setelah sukses dengan Tetralogi Laskar Pelangi, kini Andrea Hirata kembali menggebrak khasanah sastra kita dengan Dwilogi Padang Bulan-nya. Dwilogi Padang Bulan, yaitu dua karya yang terdiri dari Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, dengan Padang Bulan sebagai urutan pertamanya. Dua novel dalam satu buku yang saling berhimpitan secara terbalik. Sehingga membuat novel ini menjadi 500-an halaman. Akankah novel ini mampu mengulang kesuksesan yang sama ?


Yang pasti Dwilogi Padang Bulan semakin menguatkan eksistensi serta kapasitas seorang Andrea Hirata sebagai Cultural Novelist, sebagai periset sosial dan budaya. Watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat unik sebuah komunitas, parody, dan cinta, ditulis dengan cara membuka pintu-pintu baru bagi pembaca untuk melihat budaya, melihat diri sendiri, dan memahami cinta, hubungan keluarga, dan religi dengan cara yang tak biasa. Ya…tak biasa. Karena Andrea Hirata bukanlah novelist biasa. Sungguh…tak biasa…! Sebagaimana cinta Ikal pada A Ling yang bukan cinta biasa…!

Pada novel pertama, yaitu Padang Bulan dibuka dengan mengisahkan tentang perjuangan seorang anak manusia yang bernama Enong. Enong yang begitu gigih mewujudkan keinginannya untuk belajar bahasa Inggris. Demi sebuah obsesi untuk menjadi “guru dari sebuah bahasa yang asing dari Barat”. Begitu Andrea Hirata mengungkapkannya dalam novel ini. Sebuah gaya bahasa yang menunjukkan kedalaman intelektualitas dan humor yang…lagi-lagi tak biasa.

Namun Enong harus berhadapan dengan pusaran nasib yang menggiringnya menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya meninggal ketika ia masih bocah. Sugesti dari sang ayah sebelum meninggal berupa “Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata” menjadi spirit yang tak pernah mematikan semangatnya. Walaupun badai kehidupan terus menerpa, tetapi semangat Enong untuk menjadi “guru dari sebuah bahasa yang asing dari Barat” tak pernah padam. Semangat Enong ini telah menjadi spirit bagi Ikal dalam meraih cinta A Ling yang harus kandas sesaat karena tiada restu dari lelaki yang tak banyak bicara, lelaki juara satu sedunia, itulah ayahnya.

Selain kisah Enong, Andrea juga memoles Padang Bulan dengan kisah cintanya pada A Ling. Tentu saja sebagai kelanjutan Tetralogi Laskar Pelangi. Karena pada Maryamah Karpov sangat jelas tergambar betapa novel ini belum usai. Jika pada Laskar Pelangi Ikal mulai mengenal cinta, maka pada Padang Bulan Ikal mulai mengenal cemburu. Cemburunya pada Zinar yang dipicu hanya karena informasi keliru dari sang detektif kampung nan kontet, Detektif M. Nuh yang berpartner dengan Jose Rizal (nama merpati pos-nya). Jose Rizal telah menjadi media komunikasi antara Ikal dan Detektif M. Nuh yang akan membuat pembaca tak dapat mengendalikan diri untuk tidak tertawa tebahak-bahak. Bahkan bisa dianggap orang sinting jika membaca buku ini di tempat sepi. Belum lagi teori-teori ‘penyakit gila-nya. Hi hi hi…!

Banyak novelist mengapresiasikan ‘Cemburu’ dengan bahasa metafora yang itu-itu saja. Tetapi hal ini tidak dilakukan Andrea. Salah satu hal yang membuat saya pertama kali ‘jatuh cinta’ dengan karya Andrea adalah gaya bahasa ilmiahnya yang begitu sarat. Bahasa yang menunjukkan intelektual religius yang tinggi dari seorang penulis. Berikut adalah bagaimana Andrea Hirata menganalogikan kata ‘Cemburu’:

“Cemburu adalah perahu Nabi Nuh yang tergenang di dalam hati yang karam. Lalu, naiklah ke geladak perahu itu, binatang yang berpasang-pasangan yakni perasaan tak berdaya-ingin mengalahkan, rencana-rencana jahat-penyesalan, kesedihan-gengsi, kemarahan-keputusasaan, dan ketidakadilan-mengasihani diri.”

“Cemburu, adalah salah satu perasaan yang paling aneh yang pernah diciptakan Tuhan untuk manusia”

“Lalu, sisa malam yang tak kunjung khatam itu, kulewatkan dengan satu bentuk siksaan lain, yaitu membenci Zinar dan A Ling, namun sekaligus pula menghormati kelebihan lelaki itu dan merindukan perempuan itu. Ah, repot sekali. Dalam keadaan itu, jika aku sempat tertidur, datanglah mimpi-mimpi. Ternyata, mimpi dalam bayang-bayang cemburu amat janggal dan canggih.”

(Padang Bulan, hlm. 127)

Sungguh sebuah ungkapan ‘cemburu’ dengan bahasa kedewasaan tingkat tinggi, yang membuat pembaca jadi tersenyum dan tetap semangat dalam menghadapi hidup. Padang Bulan memang sangat cocok dibaca oleh mereka-mereka yang sedang dilanda cemburu. Bagaimana menyikapi rasa cemburu dengan arif. Supaya cemburunya dapat terkendali, tidak bablas menjadi cemburu buta. Ha ha ha..!

Sebagaimana novel-novel-nya yang lalu, Padang Bulan juga dikemas dalam Mozaik-mozaik yang menggelitik. Namun ada sedikit perbedaan dengan Tetralogi Laskar Pelangi. Jika pada Tetralogi Laskar Pelangi setiap Mozaik dalam kemasan yang cukup panjang, maka pada Padang Bulan dikemas dengan Mozaik yang lebih singkat, namun ‘pesan’ penulis tetap sarat makna.

Salah satunya adalah pada Mozaik 16; Waktu Yang Hakikat:

Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun, di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan. Bagi para politisi dan olahragawan, waktu adalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.

Para seniman kadang kala melihat waktu sebagai angin, hantu, bahan kimia, seorang putri, payung, seuntai tasbih, atau sebuah rezim. Salvador Dali telah melihat waktu dapat meleleh. Bagi para ilmuwan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparkan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur. Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil-panggil, tak datang-datang.

Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan disogok. Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Karena teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu mencekik.

(Padang Bulan, hlm. 83-84)

Keindahan kisah, kedalaman intelektualitas, humor dan histeria kadang-kadang, serta kehati-hatian sekaligus kesembronoan yang disengaja telah menjadi ciri gaya penulisan Andrea Hirata. Kemampuannya bereksperimen dalam bentuk ide tulisan yang kuat serta kemampuan menyeimbangkan mutu dan penerimaan yang luas dari masyarakat adalah daya tarik sekaligus misteri terbesar Andrea Hirata. Sehingga walaupun pada Padang Bulan terurai kisah cinta Ikal dan A Ling, namun kita tidak perlu khawatir jika buku ini dalam genggaman bocah-bocah usia 7 – 13 tahun. Mungkin inilah stu-satunya novel cinta edukatif yang tidak akan kita temukan kalimat-kalimat bernuansa ‘vulgar’ di dalamnya. Kenapa…? Karena ini bukan novel cinta biasa. Novel ini ditulis oleh seorang penulis yang memiliki cinta yang tak biasa…! Gak percaya..?? Baca aja deh bukunya, setelah itu kita bisa diskusi di kotak komentar. OK…??

14 komentar:

  1. Tulisan Andre emang bagus banget..tp gaya menulis ibu jg sy suka.ibu emang "lintas kurikulum" deh.

    BalasHapus
  2. waeLah bahasa inggeris si_om aja masih campur baur dengan bahasa Lainnya, apaLagi kaLau bahasa jerman. bisa campur aduk kaya gado-gado.
    ternyata biar udah jadi ibu guru masih tetap baca buku juga yah, hihihi...
    membaca tuLisan di atas jadi inget sama update status di FB.
    sementara beLum bisa menyimpuLkan postingan kaLi ini, mau dipahami duLu sambiL nunggu contekan dari para komentator Lainnya, hihihi...

    BalasHapus
  3. @axc: Thanks friend

    @Anonim: Haiya...klo dirimu sdh bilang..."TP GAYA MENULIS IBU JG SY SUKA...".. pahamlah diriku...Psti ujung2 na...'karya tulis' itu kan..? Ha ha ha.. It's so easy to guess your mind friend. Wkkk...!

    @om rame: mo jd ap pun ya kudu ttp baca buku dong om. Bukankah buku itu jendela dunia..?
    Anyway...status FB respond na d FB dong om...! he he he.. Thanks sdh mampir..!

    BalasHapus
  4. soaLnya si_om udah enggak pernah baca buku Lagi tapi baca tuLisan yang ada dimana aja, yang penting bermanfaat untuk menambah khasanah iLmu pengetahuan.
    hihihi... ada yang kepeLeset, ikan berenang yang tertangkap. wkwkwk... piss ach.

    okok buw, nti si_om meLuncur ke TKP. mohon maaf jarang OL FB soaLnya sepi banget sih. hihihi....
    seLamat istirahat aja buw.

    BalasHapus
  5. Karya yang luar biasa. Kita tanpa terasa terbawa alunan ceritanya. Banyak pelajaran yang dapat dipetik di dalamnya. Bahan bacaan yang amat berbobot. Kita belajar didalamnya. Trims sharingnya.

    BalasHapus
  6. Dari ulasan Ibu di atas, saya memperoleh gambaran isi buku dari tersebut
    Terus terang, saya jarang membaca Novel
    Terima kasih

    BalasHapus
  7. Waah saya jadi merasa sangat tertinggal nih Bu he..he..sudah lama sekali saya ga pernah membaca Novel lagi.Dulu waktu remaja sih hobby banget sampai cerbung yg ada di majalah wanita pun saya lalap abis tuh, dari karya NH Dini, Maria A Sarjono, Agnesh, La Rose, sampai terjemahan karya Barbara cartland, Sidney Sheldon, Ian Fleming,Nick Carter, Dr Karl May, kebanyakan bertemakan romantis dan petualangan .Sekarang membaca sepenggal isi Novel diatas jadi kangen pengen baca lagi nih..Makasih Bu..

    BalasHapus
  8. Hmm...Dwilogi Padang Bulan 'beda' banget lo Bu dgn karya-karya 'pentolan' yang ibu sebut itu. Terkadang bahasa metafora NH Dini, Maria A.Sardjono, La Rose rada2 mirip. Tapi jgn2 coba deh d adu dgn bahasa Andrea Hirata. Pertama kali kenal Tetralogi Laskar Pelangi saya sdh 'jatuh cinta' abizz...! Pokoke Andrea...b..e...d...a..! he he he...!
    Nuansa edukatifnya sangat kental terasa lo Bu. Coba deh kalo gak coyo...!

    BalasHapus
  9. sip deh. tulisan ini jadi rekomendasi saya juga di ceritaconanhariini.blogspot.com hehehehe...
    thankz ya!

    BalasHapus
  10. karya2 andrea hirata.. dua jempol lah...

    BalasHapus

Komentar 'Yes' but Spam...oh...'No'...!