MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat
Tampilkan postingan dengan label Media Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2015

Membuat Media Pembelajaran Bersama Siswa

Tidak dapat dipungkiri media pembelajaran adalah salah satu elemen untuk menarik minat belajar siswa. Akan tetapi menggunakan media itu-itu saja membuat proses pembelajaran menjenuhkan juga. Maka kali ini saya mengajak siswa untuk membuat media sendiri. Lebih seru jika kita membuatnya bersama-sama siswa. Dalam hal ini berusaha mengintegrasikan mapel Seni Budaya dengan Bahasa Inggris.  
Media pembelajaran ini ditujukan untuk proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris kelas VIII KD 7.1, yaitu Merespon makna yang terdapat dalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) pendek sederhana secara akurat, lancar, dan berterima untuk ber- interaksi dengan lingkungan terdekat yang melibatkan tindak tutur: meminta, memberi, menolak jasa, meminta, memberi, menolak barang, dan meminta, memberi dan mengingkari informasi, meminta, memberi, dan menolak pendapat, dan menawarkan/menerima/menolak sesuatu. 
Bahan-bahan yang diperlukan adalah: 
- 1 lembar kertas jeruk (kertas buffalo), dalam hal ini yang digunakan kertas jeruk berwarna kuning (untuk buah jeruk dan warna hijau untuk daunnya)
- Lem secukupnya 

Alat-alat yang diperlukan: 
- Pinsil 
- Penggaris 
- Gunting 
- Spidol atau pulpen 

Cara membuat: 
1. Potong kertas jeruk ukuran 2 x 34 cm, supaya potongan rapi gunakan pinsil dan penggaris untuk membuat garis bantu. Untuk 1 media (buah jeruk) menggunakan 4 potongan kertas.
2. Tuliskan jenis salah satu ungkapan dan contohnya pada tiap-tiap potongan kertas. 
3. Kemudian pertemukan setiap ujung kertas satu persatu sehingga membentuk bulatan. Ingat bagian kertas yang ada tulisannya di posisi luar. 
4. Selanjutnya rapikan posisi kertas yang telah membentuk buah jeruk. Jika yakin sudah rapi, kelipkan (dengan hackter) bagian atas dan bawah. 
5. Sematkan daun dan tangkai (dari kertas jeruk warna hijau) dengan menggunakan lem, untuk pemanis 
6. Media pembelajaran siap digunakan 
(Inspirasi media ini bersumber dari sini.) 

Dalam penggunaan media ini, siswa dapat saling tukaran buah jeruk. Mereka akan membolak balik buah jeruk untuk membaca dengan keras contoh-contoh ungkapan yang tersedia dan mengidentifikasi jenisnya. Saling tukaran buah jeruk akan memperkaya kosa kata mereka. Selain itu buah jeruk ini dapat dijadikan asesoris kelas atau kamar pribadi siswa. Sambil melihat asesoris yang dipajang mereka tetap bisa belajar. Semakin sering melihat ungkapan-ungkapan ini maka akan semakin ‘lengket’ dalam praktek speaking. 
Ketika menyelesaikan proses membuat media ini, seorang siswa yang kesulitan membentuk buah jeruk dengan baik, berkata: “Miss gak ada jeruk yang sempurna, jadi kayak gini gak pa-pa ya”, kata nya sambil menunjukkan buah jeruknya yang peyot. Ha ha haaa. Selalu ada kegembiraan dalam berinteraksi dengan siswa yang beragam di dalam kelas.
Selengkapnya...

19 Februari 2010

Prediksi Soal UN SMP 2010 dan Silabus Plus RPP PAI

Hasrat hati ingin meneruskan artikel Menteladani Metode Pendidikan Rasulullah SAW, akan tetapi apa lah daya begitu banyak request dari teman-teman dan para Laskar Pelangi untuk sharing Prediksi Soal UN 2010 serta Silabus and RPP PAI. Maka berlakukah skala prioritas (taelah....)

Ya sekedar membantu yang merasa rada repot searching by googling.

Silahkan akses link-link berikut ini. Ini adalah link-link dari member milist KGI.

1. Prediksi Soal UN SMP/MTs 2010
2. Silabus dan RPP Fiqih, Al Qur'an Hadits dan Bahasa Arab

Semoga Bermanfaat.
Selengkapnya...

13 September 2009

Lab Impian....


Seperti mimpi rasanya ketika Departemen Agama Pusat (Jakarta) mengabulkan proposal laboratorium bahasa yang diajukan Madrasah Aliyah Al Washliyah Pangkalan Brandan beberapa bulan yang lalu. Betapa berbunganya hati ketika property yang diimpi-impikan tiba di Madrasah. Dengan kerja keras professional para tehnisi yang dikirimkan, maka semua perlengkapan telah terpasang dengan apik. Hanya saja selintas setting laboratorium ini sedikit berbeda dari laboratorium bahasa pada umumnya. Yaitu dinding penyekat antar siswa ditiadakan. Hal ini sengaja dilakukan mengingat selain lab difungsikan untuk lab bahasa, juga dapat dipergunakan sebagai lab multimedia.



Para tehnisi professional yang bertugas memasang instalasi property bekerja siang malam lo. Lihat aja dokumentasi berikut ini. Walaupun dalam suasana Ramadhan mereka bekerja hingga larut malam ditemani Kepala Madrasah, Ibnu Yusuf, S.Ag

Madrasah Aliyah Al Washliyah Pangkalan Brandan yang berlokasi di Jalan Tanjung Pura Gg. Pipa Gas Pelawi sering disebut masyarakat sekitar dengan sebutan Kampus alias Kampung Sawah. Ha ha ha…gak perlu berkecil hati lagi, la wong memang lokasinya di daerah persawahan. Jika hujan deras jalan menuju ke madrasah banjir. Seperti ini nih… hi hi hi…


Ya begitulah sekolah kami, temans. Walaupun begitu kondisinya tetap semangat. Apalagi ketika belajar mempergunakan lab impian. Beginilah suasana ketika beberapa guru belajar bersama dibawah bimbingan instruktur Mr. Nursalim dari Jakarta.

Satu lagi tantanga buat guru, harus mampu mengimbangi dinamika teknologi sebagai media pembelajaran sekalipun tugas di ujung kampung. Yap…never old to learn.
Terimakasih kepada Departemen Agama yang telah memperhatikan madrasah di tengah sawah ini. Dan semoga kami dapat menjaga amanah dengan mengelola lab ini sebaik-baiknya sesuai dengan fungsinya. Amin….!!



Selengkapnya...

29 April 2009

Internet Sebagai Media Pembelajaran



Internet bukanlah lagi menjadi sesuatu yang ‘wah’ untuk kalangan dunia pendidikan saat ini. Sekalipun itu pada komunitas pendidikan di daerah. Hal ini terbukti dengan munculnya program Internet masuk desa. Selagi desa tersebut terjangkau jaringan tentu saja. Kecuali desa Sei Tualang di Kecaman Brandan Barat Kabupaten Langkat Sumatera Utara yang saya ceritakan pada posting terdahulu. Selama saya di sana beberapa waktu yang lalu hanya jaringan Telkomsel yang mampu bertahan. Itupun kadang on kadang off. Selain itu jangan haraplah. He he he… La wong saya saja yang pada waktu itu sudah siap-siap ingin memperkenalkan internet sebagai media pembelajaran di sana harus kecewa karena desa tersebut belum tersentuh jaringan Indosat. Padahal dari Pangkalan Brandan kita dah ready dengan laptop plus handphone sebagai modem. Cian deh… hiks…
Dengan menjadikan internet sebagai media pembelajaran, kita dapat menanamkan konsep Jadikan Kelas Sebagai Dunia Tanpa Batas kepada peserta didik. Internet bukan hanya sebagai sumber informasi tetapi juga sebagai media menyebar luaskan informasi. Ini memang tantangan buat para pendidik di daerah. Fenomena ini bukanlah sesuatu untuk dihindari.

Jika dahulu kita hanya dapat menyampaikan informasi kepada peserta didik pada jam-jam efektif tatap muka, akan tetapi sekarang hal itu tidak perlu lagi. Di luar jam efektif tatap muka pun kita masih dapat melakukan kegiatan tersebut pada mereka. Bahkan peserta didik pun dapat mengirimkan tugas-tugas mereka dimana saja dan kapan saja. Yap persis iklan coca cola. Ha ha ha… Dengan memanfaatkan fasilitas email tentu hal itu mudah dilakukan.
Kehadiran warnet dengan persaingan bisnis yang cukup ketat dapat dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah di daerah yang belum mendapatkan fasilitas ini. Ya seperti sekolah saya gicu. Hu hu hu… Cukup mengenaskan kawan. Tapi tidak ada rotan akarpun jadi. Bukankah begitu? Maka sungguh bermanfaat kehadiran warnet di daerah ataupun kota kecil seperti Pangkalan Brandan ini. Sangat membantu peserta didik juga tenaga pendidik dalam memanfaatkan media tersebut demi menunjang kemajuan proses pembelajaran di sekolah.
Sudah saatnya, walaupun kita berada di daerah namun pantang berkeluh kesah. Raih peluang dan manfaatkan momentum yang hadir di sekitar kita. Mari kita motivasi peserta didik agar mereka siap beradaptasi dengan persaingan global sekalipun mereka tinggal di wilayah lokal. Dengan motivasi yang tepat kita juga dapat menghindarkan mereka dari kegiatan mengakses ‘sesuatu’ yang tidak layak mereka akses. Sesuatu yang hanya akan merendahkan diri mereka sendiri dan menjauhkan mereka dari nilai-nilai ‘manusia yang seharusnya’. Giring mereka untuk mendapatkan informasi yang ‘semestinya’ seluas-luasnya untuk dibawa ke kelas keesokan hari, lalu didiskusikan bersama-sama. Bukankah itu sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada sekedar kita bla..bla..bla di depan kelas?
Hayooo mari kita jadikan Kelas Sebagai Dunia Tanpa Batas….!!

Selengkapnya...

18 Maret 2009

Media Sebagai Entry Point pada Teks Narasi


Dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentunya kita harus merancang Langkah-langkah Pembelajaran yang pada umumnya melalui tiga tahap. Yaitu Pembukaan, Kegiatan Inti dan Penutup. Pembukaan merupakan starting point yang cukup menentukan jika kita memberikan entry point yang tepat. Berikut saya ingin menawarkan media sederhana yang dapat digunakan sebagai entry point pada Teks Narasi untuk pelajaran Bahasa Inggris kelas VIII (Delapan).

Narasi atau cerita merupakan salah satu topik yang digemari anak-anak. Tapi sayangnya minat baca siswa di daerah terhadap buku-buku cerita yang baik sesuai dengan usia mereka cenderung menurun. Mungkin ini berhubungan dengan media teknologi yang menawarkan hal-hal baru disekitar mereka. Maka untuk mengimbangi hal ini tenaga pendidik dapat memperkenalkan beberapa buku yang relevan dengan usia mereka pada tahap pembukaan dalam menyampaikan teks Narasi sebagai entry point. Ya korban dikitlah merelakan diri membawa beberapa buku cerita ke kelas. Tentu saja buku cerita yang dimaksud adalah buku cerita dalam bahasa Inggris.

Akan lebih baik jika sekolah tempat kita bertugas memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai. Mungkin dengan membawa mereka ke perpustakaan akan memberikan nuansa pembelajaran yang menarik. Tetapi bagaimana jika sekolah kita tidak memiliki fasilitas tersebut ? Jangan mengeluh dulu, ya kitalah yang merelakan diri membawa buku-buku tersebut ke kelas seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Toh jika tak ada rotan maka akarpun jadi, bukan ? Mungkin akan member kesan special jika buku-buku tersebut adalah koleksi kita sendiri. Karena terkadang siswa sangat gampang termotivasi jika dia melihat langsung kebiasaan gurunya. Tidak hanya sebatas kata.

Semakin beragam jenis buku yang kita perkenalkan kepada mereka akan semakin menumbuhkan minat baca dalam diri mereka. Misalnya saja kita juga memperkenalkan buku-buku komik yang baik dalam bahasa Inggris kepada mereka. Buku komik yang penuh dengan gambar-gambar terkadang lebih cepat menarik perhatian mereka. Ketika proses perkenalan media ini berlangsung, disitulah dapat terbangun life skill listening dan speaking. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui bukan ?

Jika kita telah berhasil menarik perhatian siswa, maka minatpun akan tebentuk. Setelah itu tentu saja mereka akan termotivasi untuk menerima informasi pada tahap kegiatan inti dan penutup.
Selengkapnya...

10 Februari 2009

Kemasan Makanan Sebagai Media Pembelajaran


Media pembelajaran adalah salah satu poin yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Karena media pembelajaran berfungsi sebagai perantara atau pengantar sumber pesan (tenaga pendidik) kepada penerima pesan (peserta didik). Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua objek dapat disajikan kepada peserta didik. Salah satu manfaat dari penggunaan media pembelajaran ialah memungkinkan adanya interaksi langsung peserta didik dengan lingkungannya (sesuai dengan nilai falsafah CTL/Contextual Teaching Learning).

Jika kita bicara mengenai media, maka tidak sedikit tenaga pendidik di Pangkalan Brandan dan sekitarnya merasa kesulitan. Alasannya terbentur masalah dana. Padahal media pembelajaran tidak harus sesuatu yang mahal. Media dapat dibuat dengan biaya rendah atau bahkan gratisan. Alias menggunakan barang bekas. Salah satunya adalah kemasan makanan.

Kemasan makanan terkadang menjadi sampah yang sia-sia. Tetapi sebahagian dari benda-benda tersebut ada yang dapat kita manfaatkan sebagai media pembelajaran. Terutama bagi tenaga pendidik yang mengajar bahasa Inggris di tingkat SMP/MTs.

Salah satu diantara lima genre (Descriptive, Narrative, Recount, Report and Procedure) yang dituntut dalam standard Isi Bahasa Inggris untuk siswa di kelas 7 dan 9 adalah Procedure (Teks Prosedur). Banyak kemasan makanan yang menampilkan informasi sesuai dengan Rhetorical Steps (Langkah-langkah Retorika) yang dituntut dalam sebuah teks prosedur (Goal, Material and Steps) dan terkadang langkah-langkah tersebut tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Inggris bahkan ada juga yang dilengkapi bahasa Arab (3 bahasa).

Untuk mendapatkan media ini, kita dapat menginstruksikan kepada peserta didik untuk mencari disekitar tempat tinggalnya dan harus yang sudah digunakan isinya (jadi bukan tenaga pendidik yang mencarinya). Langkah ini memotivasi anak untuk peduli dengan lingkungannya dan menanamkan nilai-nilai ‘penemuan’ dan ‘penelitian’ (sesuai falsafah pendekatan inquiri). Anak didik akan berlatih mengidentifikasi kemasan makanan yang memenuhi kriteria yang diharapkan, karena tidak semua kemasan makanan layak pakai untuk digunakan sebagai media pembelajaran pada genre procedure. Beberapa kemasan yang dapat digunakan adalah kemasan mie instan, agar-agar powder, cereal, soft drink, dll. Kemasan makanan ini sesuai untuk kelas tujuh, tetapi untuk kelas sembilan kita dapat menggunakan petunjuk manual dari beberapa alat elektronik sebagai penyesuaian tingkat kesulitan kosa kata.

Jika kita menggunakan media ini, maka dapat dipadu dengan metode diskusi, berlitz, CTL dan tentu saja model pembelajarannya adalah Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperative). Mengenai pendekatannya yang paling ideal Pendekatan Inquiri (sebahagian orang berpendapat inquiri adalah metode… tapi ya gak perlu diperdebatkanlah, yang pentingkan nilai-nilai aktualisasinya….he he he….). Sedangkan life skill yang dilatih bisa speaking atau writing. Akan tetapi dalam pelaksanaannya tetap terintegrasi keempat kecakapan hidup tersebut (listening, speaking, reading and writing). Selamat mencoba….!!

Selengkapnya...