MOHON MAAF, PELAWISELATAN DOT BLOG SPOT DOT COM SEDANG DALAM PROSES RENOVASI. HARAP MAKLUM UNTUK KETIDAKNYAMANAN TAMIPLAN. Semoga Content Sharing Is Fun Memberikan Kontribusi Positif Bagi Pengunjungnya. Semua Artikel, Makalah yang Ada Dalam Blog Ini Hanyalah Sebagai Referensi dan Copast tanpa menyebutkan Sumber-nya Adalah Salah Satu Bentuk Pelecehan Intelektual. Terimakasih Untuk Kunjungan Sahabat

2 Juni 2010

Bagaimanakah Hari Tua Kita...?



Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa adalah pilihan. Kata-kata bijak ini sering kita baca dan kita dengar. Adakah manusia yang mampu menghindar dari masa tua? Cepat atau lambat kita semua bergerak mendekati fase tersebut. Cukup banyak pula para motivator memberikan tips-tips dalam menghadapi masa tua yang tetap bahagia. Kita pun sering tanpa sadar menabung dengan missi untuk persiapan di hari tua. Berikut ini ada sebuah kisah yang dialami seorang teman saya, namanya Rahmadsyah. Kisah ini dishare beliau pada sebuah milist. Sungguh sebuah kisah yang memiliki makna yang dalam bagi kita untuk merenung….. “Bagaimanakah hari tua kita nanti ?”

====================================================
Tadi siang tepatnya jam 11.00 wib. Saya masuk ke sebuah Bank di dramaga Bogor. Saya disapa ramah oleh pak Satpam. Kemudian, saya diberikan form dan no antrian. No antrian yang dilaminating kertas berwarna kuning, tertulis rapi hasil printing, font times new roman 118. Setelah saya mengisi no rek adik saya yang di Aceh, kemudian sambil menunggu giliran, saya mencari kursi kosong yang disediakan buat nasabah.

Terdengar suara teller memanggil ”no antrian seratus tiga belas (113)”. Dalam hati saya, alhamdulillah tidak lama lagi. Panggilan antrian pun terus berlanjut. Hingga ke 116. Berdirilah seorang kakek, umurnya mungkin sudah diatas 70. Kulitnya sudah mengeriput. Rambutnya telah menunjukan perubahan warna menjadi putih. Memakai baju kemeja putih, dan celana bahan cokelat. Kepala nya tertutup kopiah hitam.

Pak Satpam menyapa ”Ada yang bisa saya bantu pak?” sang kakek mengeluarkan surat berukuran setengah A4, terlaminating, dari kejauhan saya dapat melihat ada pas photo backround merah dan berkopiah hitam, serta baju putih, dalam foto tersebut. ”Saya mau ambil pensiunan”.

Pak satpam kemudian bertanya kepada atasannya, apakah bisa melalui bank ini? Karena kakek tersebut juga membawa buku nasabah atas nama beliau sendiri pada bank itu. Kemudian buku tabungan beliau di cek oleh teller. Karena si kakek mau tau berapa uang ditabungan beliau, sebab anaknya bilang sering transfer (tabung kata kakek) kerening kakek itu.

”Antrian seratus delapan belas (118)” teller satunya lagi memanggil no antrian saya. Saya menuju meja teller, menyerahkan form transfer yang telah saya isi berserta dengan uangnya. Sekarang saya semakin dekat berdiri dengan kakek, sehingga terdengar pembicaraan teller dengan kakek.

”Bapak mohon maaf, uang ditabungan bapak tinggal (... tidak terdengar suara siteller) (saya tidak tau berapa persisnya, yang pasti tidak ada yang bisa diambil). Sikakek bilang ”Anak saya bilang dia sering nabung ke no rekening saya”. Teller kemudian menjelaskan ”Bapak, anak bapak bukannya menabung, tapi malah melakukan penarikan lewat ATM”. Teller kembali melanjutkan ”Ini tanda penarikan lewat ATM, 1 jt,1jt,500,50, 75,700 ...(sampai halaman terkhir) dan ini sisanya”.

Sang kakek terdiam kaku, beliau sudah sangat tua. Berbicara saja terengah-engah, suara nya sudah tak terdengar. Teller menanyakan lagi ”ATM bapak siapa yang pegang?” kakek menjawab ”Anak saya, dulu saya pernah minta bantuan dia untuk mengambilkan uang satu juta”.

”Anaknya dimana sekarang?” Kakek hanya diam, dan terus bernafas.

”Terima kasih bapak, uang nya telah terkirim, masih ada yang bisa dibantu” Teller yang melayani transaksi saya, menyodorkan kertas warna kuning untuk saya simpan. Saya pun meninggalkan Bank tersebut, sambil melihat kepada sang kakek yang dipenuhi wajah kesedihan.

Sampai diluar, saya tidak langsung pulang, tapi duduk ditangga teras bank tersebut, membuka Netbook untuk cari tau info no telf travel perjalanan Bogor – Bandung. Beberapa saat kemudian, sang kakek keluar dan duduk ditangga juga, 2 meter dari kanan saya. Beliau sambil memasukkan surat-surat dan KTP nya, dalam sebuah amplop. Kepala nya menunduk, melihat keatas, kiri dan kanan.

Saya tinggalkan fokus dengan informasi di situs travel yang sedang saya cari, Dan saya lakukan konekting dengan sang kakek, untuk merasakan dan memahami apa yang beliau fikirkan. Saya langsung merasa (cepat konekting, mungkin karena didalam sudah saya lakukan sebelumnya) ”Perasaan sedih hadir dalam diri saya, mata saya berkaca-kaca, dan butiran bening mengaburi pandangan saya. Selain itu yang muncul dalam diri saya, sebuah pertanyaan mengapa seperti ini dan mengapa t.e.g.a”.

Sang kakek kemudian berdiri dan melangkah menuju keluar halaman bank, dan naik angkot menuju laladon/bubulak.

Ada kesedihan, haru, kasihan dan juga diselimuti marah dalam diri saya. Kesedihan merasakan apa yang dirasakan oleh sang kakek. Kasihan, usia nya yang sungguh sangat dan bukan lagi bisa dikatakan muda, uang yang mungkin bisa beliau nikmati dimasa tua habis.

Sementara kemarahan dalam diri, karena : Bagaimana bisa terjadi, bagaimana bisa t.e.g.a seorang anak berperilaku kepada bapaknya seperti itu? Tapi saya sadar, kemarahan kepada anak si kakek itu, tidak wajar saya marah kepadanya. Karena, pasti ada hal (informasi) yang belum lengkap saya dapatkan, untuk segera saya sikapi demikian.

Saya duduk dan terdiam sejenak. Memory saya kembali kemasa saat-saat detik terakhir bersama keluarga sebelum tsunami. Setelah itu saya melakukan perenungan, bahkan muncul pertanyaan dalam diri, bagaimana dengan kehidupanku saat aku tua seperti beliau kelak? Ada pelajaran dan hikmah yang tersirat dalam diri. Sebuah pesan singkat, bertebaran berupa suara ”Jadilah orang baik”.

Shahabat, mari kita kirimkan doa untuk si kakek, mudah-mudahan masalah yang sedang beliau alami saat ini, segera terbuka pintu penyelesaiannya. Semoga Allah mengangkat derajat, keimanan, ketaqwaan, terampuni dosa, dan diterima amal ibadah beliau, juga kita.. Amin ya Rabbal’alamin.

Bogor 26 mei 2010.

====================================================

Begitulah kisahnya teman. Jadi teringat dengan salah seorang teman SMP saya pernah berkata: “There’s always reason for everything we do.” Apa pun ‘reason’ di balik prilaku anak si kakek, masih kah itu dapat dimaklumi ? Ternyata untuk mempersiapkan hari tua, tidak cukup dengan mempersiapkan tabungan dalam bentuk uang, teman. Mempersiapkan generasi yang mampu menyayangi, menghormati dan menghargai orang tuanya jauh lebih penting. Seperti kata Rasul: “Hormatilah orang tuamu, supaya kamu dihormati anakmu.” (Eiitss…tapi bukan berarti saya menganggap si kakek dulunya tidak menghormati orang tuanya sendiri lo. Seperti kata teman saya Pak Rahmadsyah itu, bahwa…… “pasti ada hal (informasi) yang belum lengkap saya dapatkan, untuk segera saya sikapi demikian”. )

Wallahu’alam bishshawab…!

18 komentar:

  1. mudah-mudahan dapet pertamax nih.
    ------------------------
    kita kan soLmet yah buw, jadi pertanyaan dan jawaban seLaLu bersamaan. wkwkwkwwk....
    -------------------
    menanggapi kisah di atas, memang cukup memprihatinkan. tetapi kiranya perLu dicermati ini merupakan kesaLahan siapa, apakah orang tuanya yang kurang bisa mendidik anak-anaknya untuk Lebih baik dari dirinya atau memang justru si anak tersebut yang tidak amanah?.
    sehingga disini perLunya management diri, kita sebagai orang dewasa untuk menciptakan pribadi-pribadi regenerasi yang Lebih baik, dan kita sebagai anak harus menjaLankan kewajibannya kepada orang tua. yang keduanya itu tentunya masih di daLam naungan koridor agama.
    --------------
    menanggapi tuLisan ibu guru kaLi ini, si_om Langsung buat "perLawan" untuk posting tuLisan terbaru mengenai "mempersiapkan anggaran untuk hari tua".
    perLawanan ini tidak daLam sudut pandang agama, meLainkan dari sudut pandang management keuangan. karena memang kapasitas si_om untuk berbicara mengenai bidang keagamaan masih sangat minim sekaLi.
    iniLah contoh murid yang suka meLawan pada gurunya, semoga si_om tidak menjadi murid yang durhaka terhadap gurunya. meLainkan sebuah cerminan kaLau ibu guru ku ini teLah banyak memberikan ispirasi terdapat muridnya yang agak ngeyeL ini.
    jangan kutuk si_om jadi termos, panas buw. kutuk aja jadi kendi biar agak adem. hueeheheheehee...uhuk...uhuk.

    BalasHapus
  2. Ada yang lebih pasti nih.., Yaitu kematian...

    Menjadi tua itu belum pasti, karena bayi pun yang baru lahir bisa mati, jadi yang pasti itu seperti kematian dan lain sebagainya......

    BalasHapus
  3. sudah tampiL tuh buw perLawanan dari murid mu ini, hehehe.........

    BalasHapus
  4. @ om_rame:

    Bukan begitu, Saya hanya bermaksud untuk menyampaikan pendapat saya tentang sebuah kepastian. Tidak ada maksud apapun selain hanya berbagi, mengutarakan pendapat, bertukar pikiran...

    Seperti judul blog ini "Sharing is Fun"..., Ya ndak Bu....., Mana ini, koq ndak ada suara dari Bu Sri.....^_^

    BalasHapus
  5. @om_rame: colly om, g'mudah bt bu guru merasa d lawan. kayak na om hrs 'krj krs' deh ampe bs bt bu guru mrasa d lawan. wkkk...!
    @ToPu: jgn mau d komporin sm s om. Si om kan emang 'elpiji'.. ups..amffuun om..!
    elo bener...It's just sharing...!

    Aiihhh..bu guru ceneng lo yg komen makin pinter2..cerdas abizzz...pada kritiss..!! he he he..!

    BalasHapus
  6. kisah yang bisa menjadi cermin bahwa menjadi tua adalah kepastian, dan kita sudah sepatutnya memulai menabung kebaikan kebajikan dan kesholehan diri dan keluarga dengan doa yang terus mengalir. Insya Allah

    BalasHapus
  7. @pakies: Selamat datang d Sharing is Fun teman.
    Nah emang inilah missi dari postingan ini. Menabung kebaikan, kebajikan dan kesholehan diri dan keluarga serta doa, itu jauh lebih penting dari menabung ap pun.
    Syukron wise komen na pakies. Ntar saya mampir deh

    BalasHapus
  8. Sungguh trenyuh memikirkan nasib sang kakek, semoga beliau cukup diberi kekuatan dan ketawakalan. Mudah2an bukan karena ulah sang anak yang belum tentu "durhaka" juga (seperti pak Rahmadsyah bilang mungkin saja ada informasi yang kurang lengkap) sebab seperti beberapa bulan yang lalu pernah kita dengar dunia perbankan heboh karena pembobolan rekening oleh orang2 pintar tak bermoral.
    Terlepas dari itu semua, anak memang adalah insvestasi dunia akhirat bagi orang tuanya dan sangat penting memperhatikan pendidikan yang seimbang baginya dan itu satu tantangan tersendiri bagi orangtua maupun para pendidik.Karena seperti kita tau di zaman global era teknologi sekarang ini mereka tidak hanya mendapat pendidikan formal di sekolah akan tetapi dari berbagai media yang ada di lingkungan sekitarnya.
    Sebagai orang tua dan orang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab, marilah kita ikut peduli terhadap masa depan yang akan mereka songsong kelak dan yang pasti jauh lebih sulit dan lebih berat tantangannya ketimbang yang kita hadapi sekarang ini.Bekali dan kawal mereka dalam mempersiapkan masa depannya, jangan biarkan mereka berlaku sa'maunya karena untuk dapat diterima di lingkungan manapun mereka akan berhadapan dengan aturan2 baik itu tersurat maupun hanya tersirat.Makasih...

    BalasHapus
  9. @Topu: ada apa yah?, mohon maaf saya enggak ngerti maksudnya.
    piss aaahh, enggak bermaksud menyindir siapapun, kaLopun ada yang merasa tersinggung, kini saatnya "saya mohon maaf biLa ada kata-kata yang kurang berkenan".
    apapun komentar saya, tentunya saya tujukan kepada penuLis di bLog ini bukan ditujukan kepada siapapun.
    saLam kenaL dan saLam persahabatan.
    =======================
    @Ibu Guru: ya eyaLaaaah masa gurunya diLawan, bisa tambah stress nih otak dan tambah keriting nih jari Lentik akyu (sambiL sok imut), hiihihhiiihi...
    kaLo sampe ibu_guru maLah-maLah dan si_om dikutuk jadi kartu ATM, bisa boLong nih saku untuk beLi buku terus. wkwkwkwk
    makLumLah buw, nih si_om merknya "rinai si api biru" jadi kadang-kadang tuLisannya suka di anggap mempropokasi, kaya propokator pembuat kerusuhan.
    -----------------
    seLamat istirahat buw, semoga seLaLu daLam Lindungan Allah SWT.

    BalasHapus
  10. orang tua berkunjung kembaLi ke bLognya orang yang Lebih tua, untuk mengisi sisa hari-hari tua ini.
    hidup ke tua, wkwkwkwkwk.......
    Lagi sibuk yah buw?, udah enggak kangen nih sama cowok imut yang canggih ini? (sambiL membLe). hehehehe.....

    BalasHapus
  11. menjawab komentar Ibu yang tanpa membaca postingannya si_om, si_om cukup memahami kesibukan Ibu Guru di dunia nyata.
    si_om tidak bisa membantu apa-apa, hanya dapat turut mendoakan agar apa yang sedang Ibu niatkan akan tereaLisasikan dengan ideaL, dan biLa beLum mencapai keberhasiLan diharapkan dapt diterima dengan Legowo, jangan putus apa. si_om kira Ibu pastinya akan Lebih bijak daLam menyikapinya.
    haL ini bukan suatu sikap pesimisme meLainkan modifikasi dari sikap optimisme, yakni membuat penyesaLan dan menerima penyesaLan terLebih dahuLu dibandingkan menyesaLi dikemudian hari. sehingga kita semua akan menjadi pribadi-pribadi yang Legowo dan bertawakaL kepada Allah.
    insya Allah si_om sempatkan untuk turut mendoakan keberhasiLan Ibu, tanpa mengharapkan sebaLiknya.
    (nuLisnya serius nih Buw, enggak pake wkwkwkwk).
    seLamat istirahat, semoga seLaLu daLam Lindungan Allah SWT dan esok terbangun dengan kebugaran yang bermanfaat untuk mengisi aktifitas harian. saLam untuk keLuarga di rumah.

    BalasHapus
  12. Balik lagi ah Buu yg diatas belum nyambung tuuh. Saya suka lihat bbrp siswa sy melakukan hal2 iseng yg kdng ganggu sekllingnya, baik tmn maupun perangkat kelasnya. Sy sk mengingatkan pd mereka yg berbakat "jail" dan "iseng" lbh baik salurkan bakatnya itu dengan pekrjaan "iseng2" berhadiah ( hayoo siapa mo kasih contoh ?) misalnya menyenangkan tmn, lengkapi mading kelas dll (intinya wl iseng terarah n manfaat).Karena semua pekerjaan kita mulai dari yang "Iseng" sampai yg sungguh2 dilakukan hakekatnya adalah "Investasi" yang akan kita tuai kelak hasilnya baik di dunia nan fana ini maupun kelak di "Keabadian".Bnr kt mas ToPu kita blm tntu sampai ke "Hari Tua" yang pasti kita semua akan menuju "kematian".
    Om rame, trims banget kunjungan n doa'nya mudah2an nambah banyak jg yg doa'in bu guru yg ini he..he...

    BalasHapus
  13. @om_rame: do'a2 mu sungguh menyentuh om. Hiks...1001x. Terharu biru..(kali ini g' pake abu2.. hu hu hu). Smoga doa itu d barengi keihlasan dan dr lubuk hati terdalam. Haalllaaahh..! Pokoke Bu guru pasti meng-Amiiinnn-kan..! Thanks for everything..!

    @deep yudha: makin mantap komen na BU. Siipp lah! Sukses utk ibu

    BalasHapus
  14. jauh-dekat 2000 rupiah, aLhamduLiLah om-rame akhirnya sampai disiniii... juga. tapi bingung nih puLangnya kehabisan ongkos, sangoni dong buw.
    bagaimana buw, semoga hasiL tesnya berkabar baik.

    BalasHapus
  15. kita memang akan menua dan melupa.
    terima kasih atas posting yg mencerahkan ini.

    salam
    Omjay

    BalasHapus
  16. jadi salah siapa ini bu..? postinganya saya banget ini mah..pencerahan pisan euy

    BalasHapus
  17. alhamdulillah dpt bacaan yang bermanfaat lagi. thx ya :)

    BalasHapus
  18. Semoga kakeknya dimudahkan segala urusannya.
    Makasih infonya jadi inget sama orang tua, semoga aq bisa membahagiakan orang tuaq n orang2 terdekatq!!!

    BalasHapus

Komentar 'Yes' but Spam...oh...'No'...!